Tak pernah dinyana, buah naga yang dulu ditanam untuk mempercantik satu gang kini menjadi kebanggaan desa. Dibudidaya sejak 2015, tanaman ini jadi pendorong kreativitas desa menciptakan agro wisata untuk memasarkan.
REKIAN, BARON, JP Radar Nganjuk
Bulan Desember adalah waktu yang paling ditunggu warga Desa Jekek, Kecamatan Baron. Setiap pengujung tahun, sekitar 40 kepala keluarga (KK) yang tinggal di satu gang memanen buah naga. Tanaman itu dibudidaya di depan rumah masing-masing.
Dulu, buah berwarna merah ‘bersisik’ itu dipanen untuk konsumsi sendiri. Seperti diutarakan Agus Nurhalimi, 45, warga setempat, sejak 2018 sampai sekarang panenan sudah bisa menghasilkan uang. “Tergantung warga, mereka mau konsumsi sendiri atau dijual,” katanya.
Jika dijual, Agus yang juga Ketua Pengelola Agro Wisata Desa Jekek ini siap menampung dan memasarkannya. Saat ini tanaman buah naga sudah berkembang ke dua gang lagi. “Tiap-tiap rumah minimal menanam dua pohon di halaman depan,” ungkap bapak dua anak ini.
Ada juga warga yang memperbanyak tanaman dengan memanfaatkan pekarangan kosong di belakang rumah. Kalau di total, saat ini sudah ada ratusan KK yang menanam di depan dan belakang rumahnya.
Kenapa warga kompak menanam? Alasannya, selain dikonsumsi keluarga juga bisa menambah penghasilan. Satu kali panen, satu pohon bisa dapat 60 sampai 70 kilogram (kg). “Kalau harga buah naga dari desa ini terkenal mahal, satu kilogramnya minimal Rp 10 ribu. Tapi selalu laris dan barangnya ludes tiap kali panen,” papar Agus.
Jika warga punya dua tanaman, sekali panen minimal bisa menambah penghasilan Rp 120 ribu. Tanaman ini pun tak mengenal musim. Karena itu, warga lebih memilih tanaman ini daripada yang lain.
Satu kilogram bisa berisi maksimal tiga buah. Sejauh ini, tanamannya lebih dari satu pohon. Pria yang lulus STM ini menangkap satu alasan lagi warga di desanya mau menanam buah naga secara serentak, karena perawatannya tidak membutuhkan cara yang ribet.
Agus mengklaim, yang membedakan dengan buah naga dari tempat lainnya adalah perawatannya. Selama ini, warga tidak pernah menggunakan pupuk kimia. Selalu memakai pupuk organik. Dan inilah yang membedakan dengan buah naga dari desa lainnya.
Perbedaan yang cukup mencolok buah naga dari Desa Jekek ini adalah sisiknya yang lebih tipis. Bila dibandingkan dengan buah naga dari tempat lain adalah sisik pada kulitnya lebih tipis dan pendek-pendek. “Yang saya tahu, sisik kulit menjadi lebih tebal karena pengaruh pupuk,” ucapnya.
Perbedaan lainnya, ketika dikonsumsi, buah naga asli Jekek ini tidak lembek. Warnanya lebih merah dari pada buah naga dari tempat lain. Karena tanaman ini sudah menjadi potensi desa, pihak desa lalu mengembangkannya untuk peningkatan ekonomi.
Kepala Desa Jekek M. Johan bersama Sekretaris Desa Nilna Zahril Hayati mendukung pengembangan ekonomi warga desa dengan menciptakan etalase berupa Agro Wisata. Keberadaan Agro Wisata di desa mereka kelak difungsikan untuk menampung hasil tanaman yang kini mulai dikembangkan di rumah warga. “Andalan kami tetap buah naga, tanaman buah-buahan lainnya kini mulai kami kembangkan ke rumah-rumah warga,” ucapnya.
Johan mengatakan, keberadaan agro wisata di desanya untuk menampung panenan dari rumah warga. Baginya agro wisata ini selain wahana rekreasi warga juga menjadi wadah untuk memasarkan hasil panen warga. Selain buah naga, yang saat ini mulai dikembangkan adalah kates, kelengkeng, dan pisang. Adapun lainnya adalah jambu kristal, jambu air, dan jeruk bali. Ia menargetkan, agro wisata ini bisa menjadi pijakan tumbuhnya ekonomi warga desa.
Editor : adi nugroho