Menjadi seorang pranatacara memang tidak gampang. Apalagi bagi mereka yang masih berusia muda. Perlu banyak referensi dan berjiwa cinta budaya untuk melakoninya.
MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.
Sosok pemuda dengan pakaian nyentrik itu sedang duduk di teras rumahnya sore itu. Berkaos oblong dengan topi seperti penjaga hutan dan ditali di bawah dagu. Senyumannya begitu ramah. Menyambut Jawa Pos Radar Kediri yang baru saja tiba di kediamannya di Dusun Tekenuwung, Desa Sumberagung, Kecamatan Wates.
Pemuda itu biasa disapa Cahyo. Guru honorer yang mengajar di SMKN 1 Plosoklaten. Sejumlah koleksi wayang menghiasi dinding ruangan di samping rumahnya itu. Ada juga beberapa benda pusaka. Koleksi berupa benda-benda lawas itu sangat khas kebudayaan Jawa.
Yang paling menarik perhatian adalah patung pasangan pengantin di sisi kiri ruangan. “Ini biasa disebut Loro Blonyo atau patung pasangan temanten yang zaman dulu yang selalu ada di rumah orang Jawa,” ujar Cahyo sembari menjelaskan filosofi patung pasangan pengantin dengan sikap beridiri tersebut.
Patung Loro Blonyo yang dimilikinya itu terbuat dari kayu. Cahyo menyebut bahwa itu sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran. Selain patung pengantin, ia juga mengoleksi benda pusaka lain berupa keris, wayang, beberapa gamelan dan benda-benda kuno khas Jawa lainnya.
Pria yang memiliki nama akun facebook Den Cahyo ini memang seorang guru honorer. Selama ini ia mengajar bahasa Jawa. Itu sejalan dengan profesinya saat ini yang juga sebagai pranatacara atau pemandu acara pengantin yang menggunakan tradisi Jawa.
Kecintaannya terhadap bahasa Jawa itu mulai dari sekolah dasar. “Kemudian kalau ada orang berbicara bahasa Jawa dengan sastra itu begitu indah. Seneng banget mendengarnya,” aku Cahyo.
Cahyo lulus SMK tahun 2014 jurusan pertanian. Kemudian ia juga melanjutkan ke perguruan tinggi dengan jurusan serupa. Meski begitu, namun tak menyurutkannya untuk tetap mencintai kebudayaan Jawa. Satu tahun lulus SMK, ia justru mendapat tawaran untuk membantu acara pernikahan tetangganya. “Pada 2014 pertama kali ditanggap tetangga sendiri,” ingat Cahyo yang kala itu dimintai bantuan tetangga untuk menjadi pranatacara atas saran dari gurunya.
Awalnya ia mengaku bahwa menjadi pranatacara itu adalah otodidak. Dia sering baca buku, tanya orang yang berpengalaman, termasuk melihat referensi di internet. Bakatnya bertutur kata dengan bahasa Jawa yang luwes itu membuatnya semakin digandrungi masyarakat. Beberapa acara pernikahan kemudian mengundangnya untuk menjadi pranatacara, didampingi gurunya yang menjadi penerima pengantin. Hingga kini sudah ratusan acara pernikahan yang acaranya ia pandu.
Sebagai pranatacara dan juga guru tentu tak mudah. Ia harus pintar-pintar mengatur waktu. “Akhirnya saya jadwalkan satu minggu satu atau dua kali saja. Biasanya satu bulan bisa 20 kali tanggapan,” ujarnya.
Namun ketika jadwal itu malam hari pasti ia datangi. Sebelum pandemi, Cahyo terakhir tanggapan pada 13 Maret lalu. Kemudian dua bulan terakhir, ia sempat menghadiri dua acara manten. Namun jadwalnya terbatas karena peraturan pandemi. “Padahal harus sesuai pakem, jadi harus menyesuaikan dan pintar-pintar atur waktu,” ujarnya.
Yang biasanya diiringi karawitan, tapi ketika pandemi ini tidak ada. Dan akhirnya diantisipasi dengan pakai sound ruangan. Pakem yang dimaksud itu yakni Upacara Panggih Temanten seperti mijilan diiringi ladrang sekarteja, Methuk Manten pakai ladrang Wilujeng, Balangan Ganthal, Ranupadha pakai Gendhing Kodok Ngorek. Kemudian Sindhur Binayan, Bobot Timbang, Tanem Jero, Kerobongan yang pakai Gendhing Larasmaya.
“Terus kalau pas methuk besan pakai Ladrang Tirtakencana, saat Sungkeman pakai Ketawang Mijil Wigaringtyas atau bisa juga Santimulya,” terang Cahyo menjelaskan beberapa pakem pernikahan adat Surakarta yang masing-masing sesi punya filosofi masing-masing tersebut. (dea)
Editor : adi nugroho