Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cerita Warga Dukuh Kedungringin, Dusun Tondowesi, Desa Pule, Jatikalen

adi nugroho • Sabtu, 14 November 2020 | 19:54 WIB
cerita-warga-dukuh-kedungringin-dusun-tondowesi-desa-pule-jatikalen
cerita-warga-dukuh-kedungringin-dusun-tondowesi-desa-pule-jatikalen


Di era digital seperti sekarang, masih ada 23 KK warga di Dukuh Kedungringin, Dusun Tondowesi, Desa Pule, Jatikalen yang hidup tanpa sinyal. Selain akses komunikasi yang terbatas, untuk sekadar keluar dari dukuh saat sakit pun warga harus ditandu.


 


REKIAN, JATIKALEN, JP Radar Nganjuk  


 


Lokasi Dukuh Kedungringin, Dusun Tondowesi, Desa Pule berada di tengah hutan. Untuk ke kantor desa, warga di sana harus menempuh jarak hingga sepuluh kilometer. Berada di tempat terpencil yang jauh dari keramaian, lokasi Dukuh Kedungringin ini tertutup perbukitan kecil.


Di tepi dukuh terlihat memanjang aliran sungai yang menjadi pembatas dengan Kabupaten Jombang. Jika musim kemarau, warga di sana mengalami kekeringan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka harus mengambil air di cekungan sungai yang mengering.


Satu-satunya akses jalan masuk ke Dukuh Kedungringin adalah jalan makadam bebatuan dan jalan tanah. Saat musim hujan, jalan menjadi licin sehingga tidak bisa dilewati kendaraan. Baik roda empat maupun roda dua tidak bisa masuk ke sana.


Bagaimana jika warga butuh mengurus administrasi ke balai desa? Ketua


 Ketua RT 03/ RW 02 Dukuh Kedungringin M. Azhar mengungkapkan, warga harus jalan kaki melewati jalan setapak. Kondisi yang memprihatinkan terjadi jika ada warga di desanya yang sakit parah.


Sudah jadi pemandangan lumrah jika warga harus bergotong royong menandu pasien yang sakit hingga sampai ke lokasi yang bisa dilewati kendaraan. Puluhan laki-laki menandu pasien di kursi panjang secara bergiliran.


Bahkan, warga di dukuh lain yang masuk wilayah Jombang juga ikut menandu. “Saling membantu. Itu sudah biasa,” lanjutnya sembari menyebut warga harus menempuh jarak hingga tiga kilometer untuk sampai ke puskesmas atau bidan desa.


Terkait kondisi akses jalan desa tersebut, warga sebenarnya sudah pernah mengajukan perbaikan. Tetapi, hingga saat ini belum ada perbaikan. Karenanya, warga memilih menjalani hidup di tengah keterbatasan.


Selain akses jalan yang jelek, Dukuh Kedungringin juga belum terjangkau sinyal telepon seluler. “Kalau mau menghidupkan handphone harus keluar dari sini atau cari tempat yang tinggi,” beber bapak dua anak itu.


Uniknya, meski tidak ada sinyal, banyak warga di sana yang sudah punya gawai. Rata-rata lelaki dewasa mengantongi gawai model lama. Bukannya untuk menelepon, tetapi untuk memanfaatkan fitur radio di ponsel.


Bagaimana dengan anak-anak yang harus mengikuti pembelajaran jarak jauh? Rupanya mereka harus rela menumpang ke tetangga yang memiliki wifi dan ponsel pintar. “Anak-anak yang masih SD semuanya sekolah di Jombang karena lebih dekat,” lanjutnya.


Setelah SMP dan SMA mereka baru bersekolah di Nganjuk. Bagaimana dengan kuliah mereka? Azhar menyebut dari 23 KK warga di sana, tidak ada satu pun yang anaknya mengenyam pendidikan tinggi. Sebaliknya, yang terjadi adalah anak putus sekolah saat melanjutkan di tingkat SMA.


Tidak adanya warga yang melanjutkan ke perguruan tinggi tak lepas dari kondisi perekonomian warga di sana. Sumarmi, 52, warga Dukuh Kedungringin lainnya menambahkan, perekonomian warga di sana ditopang dari hasil pertanian. Seperti jagung dan cabai.


Dengan hasil pertanian yang seadanya, jangankan untuk membiayai kuliah anaknya, menurut Sumarmi warga tidak bisa membangun rumah selayaknya di perkotaan. “Di sini, hanya ada satu rumah yang punya toilet. Warga lain kalau buang air besar di sungai,”  bebernya.


Hal yang sama tetap dilakukan meski sungai mengering di musim kemarau. Alasannya, warga memang tidak memiliki sarana buang air besar yang memadai.


Sumarmi dan warga desa lainnya menyadari jika kehidupan mereka di kampung masih jauh dari kata layak. Meski demikian, mereka tidak pernah mengeluh. Sebaliknya, memilih menjalani kehidupan tanpa beban. Untuk menambah penghasilan, warga memilih untuk berternak.


Jika boleh meminta ke pemerintah daerah, Sumarmi mengaku hanya ingin agar jalan di dukuhnya diperbaiki. Sehingga, warga tidak lagi terisolasi. “Kalau ada yang sakit di musim hujan nanti, mobil ambulans bisa masuk ke sini,” tandasnya.

Editor : adi nugroho
#kabar nganjuk #radar nganjuk