Dimas Affandi, Relawan Termuda di BPBD Kota Kediri

adi nugroho • Dipublikasikan Rabu, 4 November 2020 | 23:50 WIB
dimas-affandi-relawan-termuda-di-bpbd-kota-kediri
dimas-affandi-relawan-termuda-di-bpbd-kota-kediri

Umurnya masih 17 tahun. Tetapi dedikasi Dimas sebagai relawan kebencanaan tidak perlu diragukan. Bahkan di sela-sela kesibukannya sekolah, ia tetap berusaha bermanfaat bagi orang lain.


 


ANDHIKA ATTAR, KOTA, JP Radar Kediri.


 


Seorang pemuda bertubuh kurus sedang sibuk di halaman kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri kemarin sore. Ia dengan sigap mengambil alat penyempot disinfektan. Perlahan dibuka penutup tabungnya.


Bau cairan kimia sontak menyeruak. Menerjang rongga-rongga hidung. Terlebih saat pemuda bertopi itu menuang cairan disinfektan ke dalam tabung. Aroma seperti cairan pembersih lantai semakin kuat meromantisasi langit senja yang diselimuti mendung.


Pemuda itu biasa disapa Dimas. Dimas Affandi, lengkapnya. Ia mengaku sedang mempersiapkan perlengkapan untuk sterilisasi Covid-19 jika sewaktu-waktu digunakan. Ia memang tidak bisa diam. Ada saja yang dilakukannya daripada hanya melamun.


“Dari pada hanya diam saja, mendingan melakukan apa yang bisa saya kerjakan,” ujar pemuda asal Desa Gabru, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri tersebut.


Ia mengatakan hal tersebut dengan entengnya. Seakan bukan menjadi hal yang besar. Namun prinsip yang dipegangnya itulah yang membangun mental Dimas seperti sekarang ini. Di usianya yang masih belia, ia sudah memiliki kesadaran untuk bermanfaat bagi orang di sekitarnya.


Sekilas yang dilakukannya sepele. Bukan pula perubahan besar yang dilakukannya. Tetapi itu semua muncul dari pemuda yang baru dua bulan ia mendapatkan kartu tanda penduduk (KTP). Bahkan dengan kesibukannya sekolah ia tetap aktif di dunia kerelawanan.


Dimas masih tercatat sebagai murid kelas XI di SMK Al Huda Kota Kediri. Ia juga merupakan anggota termuda relawan BPBD Kota Kediri. Hebatnya ia dapat melakoni keduanya secara bersamaan. Meski banyak yang harus ia sesuaikan.


“Saya belajar daring atau mengerjakan tugas sekolah ya di sini (Posko BPBD Kota Kediri, Red),” aku pemuda yang lahir bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia tersebut.


Sejak masuk sebagai relawan BPBD Kota Kediri pertengahan tahun ini, Dimas selalu mendapatkan shift pagi. Berbeda dengan senior-seniornya yang rolling selama tiga shift dalam 24 jam. Satu sisi ia bisa beristirahat pada malam harinya. Namun di sisi lain ia harus nyambi jaga posko sembari sekolah daring.


Hebatnya Dimas tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bahkan ia merasa lebih bahagia. Ia tidak pasif saja saat menunggu materi sekolah daring dari sekolahnya. Ia bisa mengisi sela-sela waktu luangnya dengan kegiatan positif.


“Kadang saya justru menagih tugas ke guru sejak paginya. Biar segera saya kerjakan lalu fokus berjaga di posko,” ungkap pemuda yang mengambil jurusan teknik kendaraan ringan tersebut.


Di musim penghujan seperti sekarang ini, BPBD Kota Kediri memang selalu waspada akan potensi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Seperti halnya hujan deras disertai angin kencang. Bahkan beberapa kali sampai menyebabkan pohon tumbang di wilayah Kota Tahu. “Beberapa hari yang lalu saya juga ikut membantu menebang pohon yang tumbang,” imbuhnya.


Dimas jauh lebih dewasa dari anak seumurannya. Banyak nilai-nilai luhur, yang entah disengaja atau tidak ada dalam dirinya. Di saat pelajar lainnya memanfaatkan sekolah daring untuk bermain atau nongkrong, ia justru sebaliknya.


Anak kedua dari dua bersaudara tersebut bahkan merasa beruntung berada di lingkungan BPBD Kota Kediri. Ia mengaku seperti menemukan keluarga baru di sana. Bahkan untuk urusan mengerjakan tugas sekolah pun ia tidak segan bertanya kepada senior-seniornya jika kesulitan. “Banyak dibantu mengerjakan tugas oleh kakak-kakak di sini. Kalau ada yang saya bingung pasti dibantu menerangkan,” tuturnya.


Ia sama sekali tidak merasa berada di dunia kerelawanan adalah sebuah beban. Sejak awal terjun di dunia tersebut Dimas memang telah merasa terpanggil. Bukan karena ajakan atau paksaan orang lain. Tetapi memang karena panggilan hatinya.


Kisahnya masuk di dunia kerelawanan dimulai sejak ia aktif berkecimpung di Rumah Zakat Kediri saat masih berada di kelas VIII. Sejatinya, sejak awal masuk SMP ia sudah ingin ikut menjadi relawan. Namun ia belum diperbolehkan oleh pengurus setempat.


Barulah saat di tingkat dua tersebut ia aktif membantu-bantu di organisasi yang membesarkannya tersebut. Dimas dan Rumah Zakat Kediri memang memiliki kedekatan batin. Pasalnya ia merupakan salah satu anak asuh dari organisasi tersebut.


Maklum, ia bukanlah berasal dari keluarga berada. Merasa sudah banyak dibantu, muncullah niat Dimas untuk membalas budi. Oleh karena itulah ia mendedikasikan waktu dan tenaganya di sana. “Saya hanya ingin bermanfaat bagi orang lain,” tandasnya. (dea)

Editor : adi nugroho
radarkediri