Rengekan sang anak kala itu akhirnya berbuah rezeki. Rahmat kini bisa menjual wayang dari kertas karton buatannya ke sejumlah toko oleh-oleh di Kabupaten Kediri. Bermula dari coba-coba kemudian menjadi mahir.
HABIBAH A. MUKTIARA, KABUPATEN, JP Radar Kediri
Jari tangan Rahmat terlihat lihai mengecat kertas yang berada di meja. Ketika dikunjungi wartawan ini di rumahnya di Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo, Rabu lalu (28/10), Rahmat terlihat tengah membuat kerajinan wayang dengan berbagai ukuran. Ada yang besar. Ada yang berukuran kecil. “Ini semua buatan saya,” kata pria 49 tahun ini.
Meski berbahan kertas karton, wayang buatannya tidak kalah bagus dibanding dari kulit. Siang itu, Rahmat sedang mewarnai wayang. “Saat ini kegiatan saya membuat wayang ukuran mini. Sebagai souvenir,” ungkapnya.
Sekilas, wayang-wayang tersebut seperti terbuat dari kulit. Namun, ketika dipegang, bahannya dari kertas. Rahmat mengaku, sudah sekitar tiga tahun membuat kerajinan wayang. Membuat wayang adalah salah satu bentuk kecintaannya pada kesenian tersebut.
“Saya memang suka wayang, karena ceritanya berbobot,” katanya.
Keahliannya membuat wayang diperoleh secara otodidak. Bahkan, Rahmat sebenarnya tidak punya keinginan untuk memproduksi secara massal. Itu semula berawal sekitar tiga tahun lalu. Kala itu, Wildan Janathan, anaknya, merengek meminta wayang.
Kebetulan, sang anak memang suka dengan kesenian tersebut. Sejak kecil, Rahmat sering mengajak Wildan menonton pertunjukan wayang kulit di sekitar tempat tinggal mereka. “Dari situ, dia (Wildan) semakin suka dengan wayang kulit,” kisahnya.
Tidak hanya melihat langsung di tempat pertunjukan, Wildan juga kerap menonton lewat layar kaca. “Terus anak saya tiba-tiba minta dibuatkan waynag,” ujar bapak empat anak ini.
Rahmat pun berusaha menyanggungi. Meskipun dia tidak punya pengalaman membuatnya. Sejak muda, dia hanya suka menggambar wayang. Namun, rengekan sang anak membuat Rahmat semakin termotivasi untuk merampungkannya.
Jadilah wayang kertas buatannya untuk sang anak. Tak disangka, wayang tersebut banyak disukai para tetangganya. “Akhirnya saya berpikir untuk memasarkannya,” ungkap Rahmat.
Menurutnya, wayang berbahan kertas karton harganya terjangkau. Dalam seminggu, dia bisa memproduksi sampai 50 wayang. Karakternya macam-macam. Di antaranya adalah tokok punakawan, gunungan dan tokoh-tokoh pewayangan lain.
Berapa harga jualnya? Rahmat mengaku, yang ukuran kecil dengan panjang sekitar 20 sentimeter (cm) harganya Rp 35 ribu. Barang-barang tersebut biasanya dijual ke toko oleh-oleh di Kecamatan Papar dan Simpang Lima Gumul (SLG), Kecamatan Ngasem.
Dari pengalamannya selama tiga tahun, Rahmat punya kesan menarik setahun lalu. Saat itu, dia memamerkan wayang karton berukuran raksasa sepanjang 2,5 meter. Butuh waktu sekitar seminggu untuk menyelesaikannya. Wayangnya dipamerkan di kegiatan Pasar Malam Gudang Garam. “Saya buat sendirian. Habis 350 ribu (rupiah),” ujarnya.
Selain membuka pameran di pekan budaya, dia juga membuka pemain di pertunjukan wayang. Pernah, ada anak yang ingin membeli wayang tersebut. Namun, uangnya kurang. “Dia sampai nangis-nangis saking pengin-nya,” kata Rahmat.
Karena mengetahui hal tersebut, Rahmat merelakan wayang buatannya tersebut. Sebab, wayang yang dibuat ratusan ribu itu hanya dibeli Rp 20 ribu. Baginya, dengan memberikan wayang buatannya tadi, adalah salah satu cara untuk menyebarkan kesenian wayang kepada anak-anak.
Saat ini, kebanyakan anak-anak muda lebih menyukai tokoh kartun modern. Karena hal tersebut, dia berusaha membuat wayang agar lebih disukai anak, dengan membuat wayang terlihat lucu. Dengan begitu, wayang dapat diterima anak-anak. (baz)
Editor : adi nugroho