Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bikin Menara 12 Meter, Sempat Waswas karena Angin Kencang

adi nugroho • Kamis, 8 Oktober 2020 | 21:00 WIB
bikin-menara-12-meter-sempat-waswas-karena-angin-kencang
bikin-menara-12-meter-sempat-waswas-karena-angin-kencang

Ratusan tongkat pramuka yang menjulang bak menara itu punya filosofi.  Keberanian, keterampilan, dan kekompakan menjadi kuncinya.


MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.


Sinar matahari sangat terik siang itu. Ketika 10 anggota Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Kediri menyusun ratusan tongkat, angin juga berembus begitu kencang. Seolah-olah menjadi ancaman menara tongkat yang menjulang itu.


Meski ada ancaman angin kencang, tampaknya itu tak membuat mereka patah arang. Masih kelihatan kompak. Seperti ingin segera menyelesaikan menara yang sedang dibuat di halaman kantor kwarcab di Jalan Pamenang, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem tersebut.


Bagaimana tidak, mereka dibatasi waktu untuk menyelesaikan karya dari susunan 500 tongkat pramuka itu. Di hari terakhir pengerjaan, karya berupa menara itu sudah hampir jadi. Hanya tinggal memasang beberapa aksesoris tambahan untuk mempercantik menara yang dinamakan Giant Clock Tower tersebut.


“Ini pengerjaannya sudah selesai, tinggal menunggu kunjungan dari juri,” cetus Mohamad Anshori, ketua DKC Kediri ketika ditemui penulis siang itu.


Lagi-lagi angin berembus. Menara setinggi 12 meter itu tak menunjukkan tanda-tanda roboh. Tampak kukuh. Namun, bagian ujung menara sedikit miring. Salah satu anggota dengan cekatan memperbaikinya. Dengan berani. Naik di sela-sela tongkat kayu yang sedang menjadi objek lomba tersebut.


Sementara anggota lain membantu mengamankan fondasi bagian bawah. Beberapa juga tampak disibukkan dengan pemasangan kain sebagai pelengkap struktur menara. Memang, selain matahari yang terik, angin kencang kata Anshori jadi salah satu kendala. Jika menara benar-benar tidak kuat, yang jelas bisa patah atau roboh.


Itu tak jadi alasan mereka untuk tetap kompak, berani dan berfikir keras agar menara itu tak roboh. Padahal menara itu hanya disambungkan satu dengan yang lain menggunakan teknik tali temali. Total ada empat teknik ikatan. Silang, palang, kaki, dan sambung tongkat. Untuk sambungan tongkat, total ada 11 sambungan.


Anshori mengaku bahwa perencanaan matang dalam pembuatan menara itu tak lepas dari miniatur menara yang satu hari sebelum pembuatan dirancang dahulu. Katanya itu sebagai simulasi jumlah tongkat yang digunakan agar sesuai dengan kondisi asli.


Tak hanya itu saja, pengerjaan bagian fondasi yang kukuh juga diharapkan menara yang hampir menyamai atap bangunan gedung kwarcab itu tetap tahan terpaan angin.


Anshori menyampaikan, anggota yang menjadi peserta lomba ini memang benar-benar mereka yang terpilih. Berasal dari 5 sekolah berbeda, yakni SMAN 1 Puncu, SMKN 1 Plosoklaten, SMAN 1 Pare, SMAN 1 Gurah, dan MA Sunan Ampel Plosoklaten.


Tahun ini, lombanya berbeda dari gelar pioneering 4 tahun lalu. Ketika Kwarcab Kabupaten Kediri masuk 10 besar terbaik. Kali ini lombanya di masing-masing kwarcab karena masih dalam situasi pandemi.


Untuk tahun ini, Kwarcab Kabupaten Kediri memilih bentuk Giant Clock Tower. Di bagian atas ada jam. “Sementara di bagian bawah ada 10 penjuru yang menjadi simbol bahwa di pramuka ada 10 sikap yang tercermin dalam dasa darma,” ungkapnya.


Begitu juga filosofi menara dalam pioneering ini, kata Anshori bahwa yang semakin ke atas dibuat semakin meruncing. Itu diibaratkan bahwa semakin tinggi dan meruncing harus semakin kuat karena akan menerima banyak tantangan yang kompleks dan sulit. “Oleh sebab itu, dibutuhkan bangunan yang kuat dalam pioneering ini,” ungkapnya.


Wakil Bupati Kediri Masykuri yang menyempatkan hadir pada pembuatan menara dari tongkat itu memberikan semangat kepada anggota pramuka Kwarcab Kediri.


Sebagai Pembina Kwarcab Kediri, ia berpesan kepada peserta lomba pionering pramuka agar semangat membuat bangunan ini. Selain itu, menurut Masykuri yang terpenting dalam membuat bangunan pioneering adalah memiliki filosofi dan pesan yang ingin disampaikan. “Membuat bangunan pioneering tidak hanya sekedar merakit tongkat melainkan perlu dicermati landasan filosofinya,” ujarnya. 


Melalui program ini, diharapkan Anggota Pramuka Kwartir Cabang Kediri mampu memberikan yang terbaik dan mengasah kreatifivitasnya. (dea)

Editor : adi nugroho
#radarkediri