Kehidupan pemain ketoprak tobong keliling sangat unik. Mereka hidup dan tinggal di mana tobong berada. Kadang, mereka juga harus menggelandang untuk menyambung hidup.
Ketoprak tobong keliling sangat jarang dijumpai sekarang ini. Menurunnya peminat kesenian tersebut sudah terasa sejak 20 tahun lalu. Alasannya sudah dapat ditebak. Perkembangan zaman.
Tobong merujuk pada kata dalam bahasa Jawa. Artinya bangunan tidak permanen yang terbuat dari bambu dan material sederhana lainnya. Tobong biasanya digunakan kelompok seni pertunjukan tradisional, seperti ketoprak, untuk mementaskan lakon-lakonnya.
Salah satu tokoh ketoprak tobong keliling yang pernah merasakan masa-masa jaya kesenian tersebut adalah Sugeng Priantono alias Bagong. Pria kelahiran 1951 tersebut sudah malang-melintang dari satu kelompok ketoprak tobong ke kelompok lain.
“Saya ikut ketoprak tobong sejak kelas 5 SD,” ujar pria kelahiran Desa Kalangbret, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung ini.
Toyib Sulimin, ayahnya, mendirikan kelompok ketoprak tobong keliling bernama Hargo Bawono pada pertengahan 1960-an. Kala itu ayahnya berdinas di Kediri sebagai tentara. Setelah pensiun terbentuklah kelompok tersebut. Pemicunya adalah kecintaan Toyib dengan seni tradisi.
Tobong pertama Bagong berada di Desa Djengkol, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri pada 1965. Ia belum menjadi pemain ketoprak saat itu. Hanya sebagai kru tobong. “Dulu kerjaan saya buka-tutup tirai panggung,” kenangnya sembari tertawa.
Terjadinya pemberontakan PKI kala itu membuat mereka pindah. Saat sang ayah meninggal dunia, kelompok Hargo Bawono pun dinyatakan bubar. Bagong akhirnya berpindah-pindah ke kelompok tobong keliling lainnya.
Pria berkumis tipis ini pernah mencicipi tinggal di berbagai daerah di Jawa Timur. Namun tidak pernah menetap lama. Selalu berpindah-pindah di beberapa kecamatan di setiap daerahnya. Mengikuti tobong berpindah lokasi.
Kepindahan tobong tergantung dari minat penontonnya. Kalau masih tinggi, setidaknya bisa satu tahun menetap. “Biasanya tobong itu berpindah setiap dua atau tiga bulan,” imbuhnya.
Hidup berpindah-pindah tentu membawa berbagai kesan bagi pelaku kesenian tersebut. Mulai tinggal dan hidup sehari-hari di tobong hingga berpindah-pindah sekolah. Pasalnya tak sedikit pemain ketoprak tobong keliling yang turut membawa keluarganya.
Tidur di panggung, tempat penonton, atau rumah warga setempat sudah menjadi hal biasa. Malam menjadi bintang di panggung. Paginya menjadi gelandangan. “Sudah biasa itu. Bengi raja, isuk asu (malam berperan jadi raja paginya jadi gelandangan, Red),” ucap Bagong.
Setiap kepindahan tobong sudah seperti pindahan besar-besaran. Mulai dari panggung, kostum, aksesoris, gamelan, dan peralatan lain harus dibawa. Tak hanya menjadi tugas kru, para pemain juga merangkap tukang bongkar-pasang saat pindahan.
Bagong sendiri memiliki kelompok ketoprak yang diberi nama Candra Kirana. Kelompok itu berdiri pada 1990-an. Ada puluhan pemain dan kru yang tergabung di kelompoknya. Sayang pada 2003 ketoprak miliknya terpaksa dijual.
Selain Bagong, kehidupan sebagai seniman ketoprak tobong juga dialami oleh Sunardi alias Koyek. Pria 55 tahun tersebut juga pernah memiliki kelompok ketoprak bernama Sekar Budoyo pada 2007 silam. Ia berkesenian dengan kelompoknya selama hampir sepuluh tahun.
“Tiap malam kami pasti pentas. Ada atau tidak ada penonton,” ungkap Koyek.
Penonton ketoprak tobong memang fluktuatif. Saat ramai bisa mencapai ratusan penonton setiap pentas. Sebaliknya saat sepi bisa saja hanya 5-10 penonton. Padahal pendapatan pemain dan kru tobong hanya berasal dari penjualan tiket tersebut. Cerita tentang kejayaan ketoprak tobong juga diceritakan Endang Wariyanti. Dosen pendidikan bahasa Indonesia UNP ini adalah anak Siswondo Harjo Suwito. Pendiri Siswo Budoyo Tulungagung, kelompok ketoprak besar di masanya.
Endang juga bercerita tentang berpindah-pindahnya tempat tinggal bapaknya. Berkeliling ke mana saja. Bahkan hingga ke Jakarta, di Taman Ismail Marzuki.
“Cerita Suromenggolo hingga Suminten Edan paling diminati di Jakarta,” kenangnya.
Pada era 1980 sampai 1990-an Siswo Budoyo langganan masuk televisi. Kala itu masih satu stasiun milik pemerintah, TVRI. Bahkan sempat merasakan kejayaan era televisi swasta. Ketoprak mulai surut setelah krisis moneter yang mulai terjadi di pertengahan era 1990-an.
“Pada saat itu bapak gerah dan meninggal pada tahun 1996. Kini yang melanjutkan adalah putra-putranya,” ungkap Endang.
Ketika kecil ia sering melihat bapaknya bermain ketoprak. Membuatnya memahami seperti apa kesenian tersebut. Menurutnya, menjadi pemain ketoprak tidak bisa jadi pekerjaan sambilan. Karena setiap pemain harus mendalami perannya.
Selain itu, hubungan pemain juga sangat rukun. Rasa kekeluargaan sangat erat.
(tar/ara/fud)
Editor : adi nugroho