Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jaga di Lubang Pabrik karena Ada Kabar Penyerangan

adi nugroho • Rabu, 30 September 2020 | 23:49 WIB
jaga-di-lubang-pabrik-karena-ada-kabar-penyerangan
jaga-di-lubang-pabrik-karena-ada-kabar-penyerangan

Kakiyat berdiri di tepi jalan. Melihat ratusan petani menuju kantor kecamatan. Membawa bendera dan menyanyikan lagu yang telah diubah liriknya.


 


FAJAR RAHMAD-DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri


 


Namanya Kakiyat. Panggilannya Mbah Yat. Lelaki warga Dusun Djengkol ini kala peristiwa aksi massa petani terjadi baru berusia 12 tahun. Masih duduk di bangku sekolah rakyat (SR), setara SD saat ini.


Pada hari itu, 15 November 1961, dia tertarik dengan suasana hiruk-pikuk yang terjadi di jalanan desa. Ada ratusan petani yang berjalan kaki. Membawa berbagai atribut, termasuk bendera merah putih.


“Saya berdiri di tepi jalan melihat ratusan petani menuju ke kantor kecamatan untuk aksi penolakan lahan itu,” ujar Mbah Yat, saat ditemui di rumahnya kemarin.


Rumah Mbah Yat berjarak satu kilometer dari Perkebunan Djengkol. Rumah itu adalah warisan dari orang tuanya. Kala itu ayahnya, Sari Raharjo, adalah pekerja di perkebunan. Menjadi seorang teknisi pabrik.


Dari ayahnya itu lelaki yang kini berusia 71 tahun itu menjadi paham dengan apa yang terjadi. Juga jadi mengetahui tentang PKI dan sepak terjangnya. Namun dengan tegas Mbah Yat mengatakan bahwa ayahnya tak ada hubungannya dengan partai tersebut. Bukan simpatisan apalagi anggota partai.


Dia juga masih ingat ada seorang petani yang ikut aksi sempat menyapa dirinya. Namun dia tak tahu  nama petani yang menyapanya itu.


“Ketika selesai peristiwa penolakan lahan itu yang saya lihat para petani pulang dengan selamat. Tanpa ada pergolakan atau pembantaian. Hanya terjadi adu mulut,” kenang Mbah Yat sembari menghidupkan api di rokoknya.


Sehari setelah aksi tersebut, Mbah Yat melihat sendiri rumah-rumah para petani di lahan perkebunan dikosongkan. Kemudian diratakan oleh kendaraan berat milik Perkebunan Djengkol. Sedangkan warga yang semula tinggal di tempat itu dipindah ke beberapa desa di Kecamatan Ngancar. Lebih dari 10 truk yang membawa para petani dan keluarganya ke lahan pegganti.


Empat tahun kemudian, saat Kakiyat duduk di kelas 3 sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), dia menyaksikan imbas dari peristiwa G30S PKI. Ratusan simpatisan dan anggota PKI ditangkap. Kemudian ditahan di gedung milik perkebunan. Ratusan anggota PKI ditempatkan di gedung olahraga yang di dinding bagian atasnya bertuliskan ANNO 1961 tersebut. Gedung itu masih tersisa hingga saat ini. Meskipun sudah menjadi puing.


Saksi lain dari peristiwa itu adalah Sumilan. Dia mengaku merasakan betul seperti apa mencekamnya suasana pada 1965 tersebut. Sebelum puncak gerakan 30 September, kata kakek kelahiran 1940 ini, suasana di kawasan Djengkol sudah mencekam. Banyak berita bahwa pra G30S/PKI, barisan partai komunis akan menyerang Pabrik Djengkol.


“Hampir peristiwa 30 September, ketua Pemuda Marhaen mengabarkan kalau akan ada gerakan serangan ke Pabrik Djengkol, jadi harus siap-siap,” ujarnya.


Termasuk Sumilan juga ikut menjaga pabrik yang akan diserang oleh kelompok sayap kanan PKI. Jadi dia mengamankan pabrik yang dikabarkan akan diserang oleh BTI. Dia sembunyi di lubang-lubang yang ada disekitar pabrik. Selama satu bulan. “Jadi jaga di lubang-lubang, juga diberi makan,” ungkapnya.


Saat itu, kabarnya gerakan besar-besaran juga akan dilakukan. Informasinya gerakan itu dari berbagai daerah salah satunya adalah dari Kanigoro, Kras.


“Jadi kami jaga-jaga mengamankan pabrik,” jelas warga Dusun Blendri, Desa Plosokidul ini.


Upaya BTI yang mendatangkan banyak massa itu katanya untuk menguasai Pabrik Djengkol. Dalam aksi pengamanan, yang paling diingat Sumilan adalah senjata yang dipegangnya, yakni titipan Mbah Suro, seorang sesepuh di desanya. “Digawani udeng dan tongkat oleh Mbah Suro,” ingatnya.


Tak hanya peristiwa tersebut, Sumilan juga ikut membantu tentara saat menjadi anggota GPM. Bersama Pemuda Ansor dari NU ia ingat ketika melakukan penjagaan di Satak, Puncu.


Pemuda marhaen dengan pemuda Ansor dari NU seperti konvoi. Berangkat bersama dengan diangkut kendaraan militer. Di kawal oleh tentara. “Sangune ya golok-golok. Kita perang, di sana banyak pelarian-pelarian,” ujarnya.


Kampung kecil bernama Simbar, dahulu banyak yang ikut BTI. Rumahnya ada tulisan BTI. Termasuk di Dusun Djengkol, kata Sumilan, juga banyak yang ikut BTI. “Yang marhaen bisa dihitung,” ujarnya.


Meski jadi minoritas tapi dia berani karena di belakangnya ada tentara. “Orang BTI yang diomongin ya politik, partai-partai,” ingatnya. (fud)

Editor : adi nugroho
#radarkediri #petani