Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pelatih Kelas Yunior Tenis di Kota Kediri Tumbuhkan Bibit Baru

adi nugroho • Jumat, 25 September 2020 | 20:05 WIB
pelatih-kelas-yunior-tenis-di-kota-kediri-tumbuhkan-bibit-baru
pelatih-kelas-yunior-tenis-di-kota-kediri-tumbuhkan-bibit-baru

Tak mudah melatih pemain tenis yunior. Butuh ketelatenan dan usaha ekstra. Tapi, rasa lelah itu pun buyar saat melihat anak didik berhasil merengkuh juara kompetisi.


 


HABIBAH A. MUKTIARA, KOTA, JP Radar Kediri –


 


Suara bocah dan pantulan bola tenis menjadi satu terdengar dari Lapangan Tenis Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Kota Kediri. Ya sore itu, beberapa anak-anak terlihat sibuk memukul bola tenis. Mengikuti instruksi dari pria berbaju kuning yang berada di tengah lapangan. “Ayo dihitung dulu pantulan bolanya sampai empat, baru dipukul,” terang pria itu sambil memerhatikan anak didiknya.


Sambil terus memberikan instruksi, Kusmedi, nama pria tersebut melemparkan bola hijau dari keranjang. Secara bergantian anak-anak yang rata-rata masih duduk di bangku sekolah dasar berbaris untuk memukul bola.


Satu per satu berusaha mengayunkan raket tenis menerima lemparan bola. “Ayo kurang itu hitungannya, diulang lagi,” imbuhnya.


Kusmedi adalah pelatih tenis yunior. Rata-rata anak didiknya masih berusia kurang dari 12 tahun. Atau mulai dari TK hingga SD. Tak seperti melatih pemain dewasa, sebagai pelatih junior yang terpenting adalah telaten. “Tidak selalu jadi pelatih, tetapi juga harus bisa jadi teman,” tuturnya. Cara itu diyakini bisa membuat anak betah untuk berlatih.


Biasanya, anak didiknya itu mengenal tenis dari orang tua mereka. Alasannya pun agar anak-anak bisa terus bergerak. “Selain itu yang ikut tenis biasanya untuk mengejar prestasi,” ungkap Kusmedi.


Namun karena masih anak-anak, masih belum bisa diajak latihan beban. Biasanya yang dilakukan adalah latihan speed dan ketangkasan. Anak-anak dilatih agar menjadi tangguh sehingga tidak mudah cengeng. Sehingga saat terkena bola tidak bakal menangis, sebab akan menjadi kebiasaan.


Kusmedi sudah menjadi pelatih tenis di Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Kota Kediri sejak 2007. Setelah pensiun dini dari PDAM, ayah tiga anak ini fokus untuk melatih tenis. Dia melatih di tingkat yunior setelah mendapatkan sertifikasi di Jakarta sampai dengan sekarang. “Saya berminat karena menjadi tantangan,” tuturnya. Apalagi saat dia melihat anak didiknya bisa menjadi juara turnamen, perasaannya sangat bangga.


Semenjak ia menjadi pelatih, anak didiknya pernah menang dalam sejumlah kompetisi. Laki-laki yang beralamat di Perum Wilis Indah Dua, Kecamatan Mojoroto ini pernah istirahat selama dua tahun. Ia harus istirahat untuk melatih karena harus mengikuti turnamen.


Akibatnya tidak ada lagi regenerasi karena tidak ada yang melatih bibit baru. Karena itu, selama lima bulan terakhir langsung turun gunung untuk kembali melatih. Kini dalam melatih ia dibantu asisten pelatih. “Alhamdulillah ada sekitar 11 anak sekarang, mudah-mudahan semakin banyak lagi orang tua yang mau mengarahkan anaknya untuk bermain tenis,” harap kusmedi.


Sebab, berlatih sejak usia dini cukup penting untuk menambah kepiawaian. Seperti dirinya yang sudah memulai belajar tenis sejak usia 10 tahun. Awalnya, dia menjadi ball boy ketika masih di Malang. Karena tertarik ia berlatih secara otodidak. Bahkan untuk tenis ia rela melakukan pensiun dini dari kantor PDAM, tempatnya dulu bekerja. Dari hobinya tersebut sekarang diteruskan anak ketiganya. (dea)

Editor : adi nugroho
#radarkediri #persik #sport