Pernah mengalami masalah kejiwaan, tak membuat Muhammad Soib larut dalam kegalauan. Dia berusaha bangkit. Kembali bersosialisasi dengan masyarakat. Bahkan aktif dalam kegiatan warga desa. Hingga jadi juara menari dan menyani.
FAJAR RAHMAD, Kabupaten, JP Radar Kediri
Suasana Kantor Desa Banyakan, Kecamatan Banyakan pagi itu masih terlihat sepi. Belum ada perangkat desa yang datang. Namun seorang laki-laki sudah tampak sibuk beraktivitas di sana. Sebelum pukul 08.00 WIB pemuda bernama Muhammad Soib ini sudah menyiapkan ‘alat tempur’nya.
Petugas kebersihan balai desa itu membawa sapu korek, pengki (cikrak), kemoceng, dan peralatan kebersihan lain. Tugasnya membersihkan lahan halaman dan kantor yang luasnya hampir satu hektare (ha). “Di sini ini sudah pekerjaan saya sehari-hari Mas,” ujar laki-laki berusia 32 tahun yang akrab disapa Soib tersebut.
Dia mengerjakan tugasnya dengan rajin dan telaten. Nonstop tiap pagi selama Senin hingga Jumat, Soib membersihkan area balai desa itu. Tak banyak yang menyangka, sebelumnya Soib pernah mengalami masalah kejiwaan. Dia sempat menjadi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ)
Kendati begitu, kini dirinya telah beraktivitas normal kembali. Sama seperti orang normal pada umumnya. Soib bekerja sebagai petugas kebersihan di kantor desa sejak sembilan bulan lalu. “Senang bisa membantu di sini,” katanya.
Menyadari kondisi dirinya, hingga kini Soib masih terus melakukan cek kesehatan jiwa. Ia biasa memeriksakan diri di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Kediri. Demi menjaga kesehatannya, Soib masih meminum dua jenis kapsul obat. Itu untuk menenangkan kejiwaannya. Biasanya kontrol di rumah sakit tiap Senin.
“Saya sama ibu saya tiap Senin ke rumah sakit berangkat pukul 03.00 WIB. Pagi-pagi, agar dapat nomor antrean awal. Saya yang sering membangunkan ibu untuk menemani cek kesehatan,” urainya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di rumahnya di Dusun Margosari, Desa Banyakan, Senin (7/9).
Soib merasa perlu periksa diri karena meski dinyatakan telah sembuh masih mengalami rasa waswas. Dia bisa tiba-tiba ketakutan hebat ketika ditinggal sendiri dalam suatu tempat. Perasaannya seperti ada yang mengawasi. Bahkan telinganya sering mendengar suara bisikan aneh.
Perasaan aneh Soib itu juga membuat beberapa orang di sekitarnya merasa heran. Sunarmi, 55, ibunya, termasuk kepala desa (kades) dan perangkat desa yang sering bertemu dengannya pun penasaran dengan apa yang dirasakan Soib.
Namun begitu, Sunarmi mengatakan, tidak pernah melihat hal aneh apapun di rumahnya. Untuk mengatasi itu, Sunarmi meminta bantuan penasihat spiritual yang dipercayanya. Tujuannya, agar rumah yang didiami bisa nyaman bagi anaknya.
Soib kini sudah dapat berinteraksi dengan warga lain. Sejak pulang dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang, Malang, dua tahun lalu, Soib sering menghadiri acara di masyarakat. Seperti tahlilan, yasinan, bahkan juga ikut salat berjamaah di masjid. Ketika itu, sebelum pandemi korona, pada Agustus Soib juga mengikuti perlombaan Hari Kemerdekaan RI di desanya.
“Soib itu orangnya pemalu Mas. Ada lomba Agustusan dan lomba lain dia harus diajak dulu. Kalau gak diajak nggak akan mau ikut,” ucap perempuan yang bekerja sebagai buruh petani ini.
Sunarmi mengungkapkan, anaknya pernah menjuarai lomba menari pada akhir 2019 tingkat kabupaten. Soib diikutkan lomba dari Puskesmas Desa Tiron, Kecamatan Banyakan. Dia berlatih dua minggu bersama lima temannya sesama ODGJ. Soib menari klewer-klewer meraih juara ketiga. Dia membuat bangga ibunya dan Desa Banyakan.
Saat dikunjungi wartawan koran ini, Soib masih hafal gerakan tarian itu. Tak hanya menari, dia juga ikut lomba menyanyi. Lagu yang dibawakan berjudul ‘Keramat’. Isinya berkisah tentang rasa hormat kepada ibu. Soib hafal nyanyian itu dan bernyanyi di depan ibunya.
Melihat putranya menyanyi, mata Sumarni berkaca-kaca. Ia tiga kali mengusap hidung mendengar lagu itu. Menurut Sunarmi, anaknya mengalami gangguan jiwa setelah lulus MTs. Dia terheran karena melihat anaknya pulang dari pondok langsung mengurung diri di kamar.
Ketika ditanya, Soib mencurahkan isi hatinya kepada ibunya. Ia mengaku, sering diejek ‘bencong’ oleh teman-temannya di sekolah. “Padahal dia tidak mengerti Mas artinya itu. Saya jelaskan bila maksudnya itu bencong ya bukan laki-laki dan perempuan, tapi dia terus memikirkannya,” papar Sunarmi.
Saat mengalami masalah kejiwaan, Sunarmi telah membawa Soib ke dokter dan paranormal di Jombang. Sebab dulu Soib pernah mengamuk di sekitar rumahnya. Ibunya hampir tidak sanggup meredamnya. Hingga pemerintah desa akhirnya membawa Soib ke RSJ di Malang. Hingga akhirnya kini keadaannya terus semakin membaik.
Soib juga mempunyai adik bernama Riyadi Fitara, 23, yang pernah mengalami masalah serupa. Namun tak separah kakaknya. Keadaannya kini juga membaik. Namun, karena lebih pemalu jarang mau ikut kegiatan warga di desanya.(ndr)
Editor : adi nugroho