Kerja Keras Kurnia Ayu Cahyaningrum sebagai atlet karate tidak sia-sia. Puluhan prestasi berhasil dia kumpulkan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Prestasi itu juga sudah sukses memuluskannya memilih sekolah menengah yang diincar.
REKIAN, NGANJUK,JP Radar Nganjuk
Olahraga karate seolah sudah mendarah daging bagi Kurnia Ayu Cahyaningrum. Maklum saja, gadis yang kini duduk di bangku kelas XII SMA Negeri 1 Nganjuk itu sudah menekuni bela diri tersebut sejak kelas IV SD. Sekitar delapan tahun menjadi atlet, gadis berusia 18 tahun ini kerap mewakili Kota Angin di berbagai ajang lomba. Mulai tingkat regional hingga nasional.
Untuk bisa berlaga di berbagai tingkatan lomba itu memang bukan hal yang mudah. Gadis asal Kelurahan Kartoharjo, Kota Nganjuk yang tergabung dalam Inkai Jatim Prestasi (IKJ) ini harus bolak-balik latihan ke Surabaya setiap kali hendak berlomba. “Desember nanti seharusnya ada kejuaraan daerah. Ditunda karena korona,” ujarnya membuka pembicaraan tentang olahraga karate yang ditekuninya.
Meski vakum selama pandemi, semangat Ayu tidak pernah kendur. Tak ada pertandingan bukan berarti dia diam saja. Melainkan, tetap melatih fisiknya. Mulai melakukan skipping di teras rumah, hingga berlatih di ruang tengah rumahnya.
Ruangan berukuran 4x6 meter itu memang jadi saksi kerja kerasnya. Di sana dia kerap berlatih mengembangkan seni gerakan yang dilatih Senpai Teguh dan Senpai Misbahul Imam. “Kalau di luar latihannya di Gedung Juang 45. Dari jam 19.00 sampai 21.30,” lanjutnya.
Dalam seminggu, praktis tidak ada hari lowong baginya. Setiap Minggu dia harus berlatih di Surabaya. Selebihnya, waktunya habis untuk berlatih di Gedung Juang 45.
Meski lelah, Ayu beruntung mendapat support dari orang tuanya. MeM. Feri, sang ayah, rela mengantar putrinya itu selepas subuh ke terminal. Berangkat ke Kota Pahlawan sendiri, kini dia tak lagi takut. “Dulu awal-awal pernah kesasar, sekarang sudah hafal” kenangnya.
Sejak wabah korona melanda, aktivitasnya berlatih di Surabaya terhenti sejenak. Sebagai gantinya, latihan dilakukan di rumah. “Harus semangat berlatih terus. Tidak boleh patah semangat,” tuturnya menyemangati diri sendiri.
Kegigihan Ayu dalam berlatih memang terbukti sudah berbuah banyak juara. Yang terakhir, ia mewakili Jatim saat ikut Divif 2 Kostrad Open II Karate Championship se Jawa-Bali. Anak penjual soto di Gedung Juang 45 ini meraih juara tiga.
Bagi Ayu, prestasi yang dia raih adalah anugerah. Buah hati M. Irfran, 44, dan Tarni, 36, ini bahkan tidak pernah bermimpi akan menjadi atlet karate kelas kata yang menonjolkan seni. “Dulunya tidak suka, setelah dapat juara (ketika SD, Red) jadi keterusan sampai sekarang,” bebernya.
Kecintaannya pada olahraga ini semakin menjadi saat prestasinya bisa memuluskan pendidikannya. Dia bisa memilih SMP dan SMA yang ingin dimasuki berkar prestasinya di olahraga karate.
Termasuk saat dia masuk ke SMAN 1 Negeri Nganjuk dengan bekal prestasinya di olimpiade olahraga siswa nasional (O2SN) Jatim. Waktu itu Ayu masih duduk di kelas VIII dan berhasil menjadi juara tiga.
Jika bangku sekolah menengah bisa diraih dengan berbekal prestasi karate, dia berharap prestasi serupa bisa memuluskannya mendapatkan tiket ke perguruan tinggi yang diincar. “Pinginnya ke AMY (Akademi Maritim Yogyakarta, Red),” celetuknya.
Jika meleset, dia sudah membidik jurusan akuntansi di Universitas Negeri Surakarta (UNS). Seperti sebelumnya, jalur prestasi akan kembali menjadi incaran. “Sebenarnya bisa masuk ke Unesa dan UM (Universitas Negeri Malang, Red). Dua kampus itu bisa menerima prestasi di bidang olahraga tingkat Jatim atau nasional tanpa tes,” urainya.
Editor : adi nugroho