Perayaan HUT ke-75 RI kemarin menjadi menjadi hari bersejarah bagi Kolonel Imam Gogor. Salah satu impiannya sejak kecil akhirnya terwujud kemarin. Menjadi komandan upacara di Istana Negara yang membanggakan keluarga dan daerahnya.
MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kota, JP Radar Kediri.
Upacara peringatan detik-detik proklamasi di Istana Negara tahun ini memang berbeda. Pesertanya terbatas. Hanya 20 peserta saja. Juga ada 14 orang di mimbar kehormatan. Termasuk Presiden Joko Widodo.
Justru karena terbatasnya peserta itulah, membuat Mohammad Imam Gogor A. Aditya, komandan upacara yang terpilih di tahun 2020 ini itu harus tampil maksimal dan percaya diri. “Di tengah pandemi ini walaupun ada kesedihan tapi saya harus focus. Karena pandangan semuanya tertuju ke saya. Jadi harus berusaha sebaik-baiknya,” ujar Dito, sapaannya sejak kecil saat dihubungi melalui gawainya kemarin.
Setidaknya, kebanggaan pria kelahiran Kediri 43 tahun lalu itu juga dirasakan keluarganya. Termasuk bagi daerahnya. Apalagi, putra dari pasangan Gembong Sudjatmiko (alm) dan Sri Erni ini memiliki impian itu sejak dulu. “Alhamdulillah. Bangga banget karena itu salah satu dari cita-cita saya sejak kecil,” katanya saat dihubungi Jawa Pos Radar Kediri kemarin.
Dito menyebutkan kalau sejak kecil selalu terkesan dengan sosok seorang komandan upacara di upacara kenegaraan. Khususnya saat harus bersuara lantang tapi tidak cepat dan sangat berwibawa. “Sejak itulah, saya selalu ingin menjadi komandan upacara di Istana,” terangnya.
Memang usahanya itu tidak mudah. Butuh waktu yang lama dari tahun 1998 meniti karir. Suami dari Nofia Dewi Nirmalasari ini perlu konsisten selama 22 tahun sejak lulus dari SMA Taruna Nusantara Magelang.
Termasuk melewati proses seleksi yang ketat. Menurutnya peran keluarga menjadi yang sangat penting. Khususnya orang tua. Selama seleksi pun, ia juga tidak pernah lupa selalu minta doa restu. “Ini atas ridho semua, memberi semangat dan support, menciptakan suasana yang kondusif,” tuturnya.
Selanjutnya, bagi anak muda saat ini, Kolonel Imam Gogor ini memiliki pesan khusus. Menurutnya, siapapun yang memiliki cita-cita harus memulainya sejak muda dan konsisten menggapainya. Apapun cita-citanya, kalau konsisten pasti tercapai. “ Tidak usah takut,” tegas alumni SMPN 1 Kediri tersebut.
Kebanggaan pun diungkap Sri Erni. Ibunda Dito itu mengaku tak bisa membendung air mata ketika melihat putra sulungnya berhasil tampil sebagai komandan upacara peringatan detik-detik Proklamasi di Istana Negara kemarin.
Yang jelas sebagai seorang ibu, ia sangat bangga mellihat putranya bisa terpilih sebagai komandan upacara di istana. Juga bisa membanggakan sang ayah yang telah berada di surga. Gembong Sudjatmiko, mantan Kepala Dinas Perhubungan dan Kepala Satpol PP Kabupaten Kediri.
“Terharu, semalaman tidak bisa tidur. Karena khawatir, pokoknya deg-degan dan kita selalu berdoa agar diberi kelancaran,” ungkap Erni.
Kata Erni, putra sulungnya itu memang disiplin dan tegas. Itu tak lepas dari pesannya selama ini. Termasuk rasa tanggungjawab pada diri sendiri. Ia terharu ketika menonton televisi kemarin pagi. Deg-degan dan khawatir. “Setelah selesai hati bisa puas,” ujarnya.
Kepuasan itu juga karena salah satu putra dari tiga bersaudara itu telah membanggakan keluarga dan daerahnya. Adik terakhirnya Prita Fatma Adelia merasa senang sekaligus terharu, bahkan ikut grogi juga pas waktu lihat televisi. “Kakak saya itu orangnya tegas, disiplin, tapi sebenarnya sayang banget sama adik-adiknya. Jadi dari dulu dari kecil itu pasti dibilang, pengen jadi tentara dan pengen jadi komandan upacara di istana,” kenang Prita. (dea)
Editor : adi nugroho