Grup facebook itu awalnya hanya untuk berkumpul antarpemuda se-Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Kemudian berkembang jadi aksi sosial nyata. Mulai bagi sembako, bedah rumah lansia, hingga peduli dengan orang gila.
IQBAL SYAHRONI, KABUPATEN, JP Radar Kediri
Ketika hawa terik di Desa Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih siang itu, terlihat empat laki-laki menata kaus dan celana. Dengan terampil, mereka memasukkannya dalam tas kresek merah. Semua masih bersih dan tertata rapi.
Tas kresek tersebut ditaruh di lincak belakang. Ada delapan yang berukuran besar. “Ini Mas, baju bekas masih kami tata dan nanti kami kumpulkan,” terang salah satu lelaki bernama Badrus yang memakai topi.
Di samping Badrus, ada Tomi, Feri, dan Harry. Mereka semua sedang melipat kaus tersebut di halaman rumah Harry. Rencananya, pakaian bekas itu akan diberikan pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang telantar di jalanan.
“Dikumpulkan terlebih dahulu, siapa saja yang mendonasikan kaus dan celananya kami terima, Alhamdulillah tidak ada yang rusak atau bolong-bolong. Kami maunya diberikan baju yang layak pada ODGJ yang ada di jalanan,” terang Harry yang berusia 34 tahun.
Dia dan tiga temannya itu tergabung dalam komunitas bernama Wong-Wong Ngadiluwih (WWN). Komunitas yang berbasis sosial ini sudah melakukan aktivitas sosialnya sejak tahun 2015-an. Namun, pembentukan grup yang berawal dari pertemanan di facebook (FB) tersebut sudah diawali sekitar tahun 2012.
“Awalnya Mas Wanto yang juga anggota ini bikin grup untuk sekadar ajakan kumpul, ngopi, tapi terus berlanjut hingga sekarang,” ujar Harry – panggilan pemuda bernama lengkap Harry Purniawan ini.
Komunitas WWN, menurutnya, aktif di bidang hubungan dengan ODGJ maupun gelandangan yang tersebar di Kediri. Kepedulian mereka diwujudkan dengan asesmen untuk mengirim ke rumah sakit jiwa (RSJ) atau dibawa pengobatan ke puskesmas. “Hingga kami make over ODGJ,” kata Harry.
Menjadi hal yang menarik ditelisik. Apa itu make over ODGJ? Harry menjelaskan bahwa Komunitas WWN aktif berkeliling di Kediri Raya. “Kami mencari ODGJ yang sudah tidak terawat secara penampilan. Kemudia kami make over,” papar pemuda yang besar di Desa Pehkulon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri ini.
Dengan membawa tiga mobil pikap yang memuat tiga galon besar berisi air, ada sekitar 20-30 personel WWN yang ikut. Mereka berkeliling Kediri. Tujuannya, mencari ODGJ yang telantar. Ada yang berkeliaran, ada pula yang tiduran di pinggir jalan. Atau sedang nongkrong di tempat terbuka. “Ini baru, sih Mas,barusan banget hari Minggu (12/7) lalu,” ungkap Harry.
Gerakan make over ODGJ ini, komunitas WWN mendatangi mereka. ODGJ yang di pinggir jalan dihampiri. Lalu, dirapikan atau dipotong rambutnya. Kemudian dimandikan dan diberikan kaus dan celana baru.
Ditanya apakah ada ODGJ yang mengamuk? Harry mengaku, hingga saat ini belum pernah. Yang ada, ODGJ berlari kabur ketika didatangi. Itu pengalaman pribadi Harry. “Waktu mau saya beri nasi bungkus, ODGJ-nya kaget lalu kabur. Saya pelajari, agak menjauh dulu. Lalu saya komunikasikan bahwa saya membawa makanan. ODGJ-nya oke oke, lalu saya beri nasinya,” urainya.
Saat me-make over pun, anggota komunitas minta izin dulu. Apakah mau dibersihkan, di-grooming, dimandikan, serta diberi baju layak. Rata-rata mereka menurut. “Bahkan ODGJ-nya sendiri yang minta digundul saja,” imbuh Harry.
Kegiatan komunitas WWN lainnya difokuskan ke bantuan sosial pada warga lanjut usia (lansia) sebatang kara. Memberi bantuan membangun atau renovasi rumah lansia yang tidak layak huni. Tahun ini sudah melakukannya dua kali. “Ada yang di Branggahan Ngadiluwih namanya Mbah Surono, ada yang di desa sebelah juga, namanya Mbah Sumirah,” tutur Harry.
Tak bergerak sendiri, biasanya dari TNI dan Polri juga meminta bantuan tenaga pada komunitas ini ketika ada program bedah rumah. Cakupan wilayahnya se-Kediri. “Sistemnya, ada salah satu anggota grup mengajukan rumah yang rusak, lalu kami up ke grup facebook. Jika sudah terkumpul donasi, yang 100 persen kami cairkan untuk rehab,” ulas Harry.
Meski capek, komunitas WWN tetap semangat. Mereka berpegang pada motto untuk memanusiakan manusia secara manusiawi. Mereka mencari kesenangan dari setiap kegiatan. “Kalau tujuannya hanya untuk pamer di medsos atau foto-foto saja ya capek. Lebih baik istirahat saja di rumah. Kami hanya ingin membagi kebaikan dan berbuat baik pada sesama,” tutur Harry.
Meski namanya Komunitas Wong-Wong Ngadiluwih, cakupan kegiatannya sampai ke Blitar hingga Tulungagung. Siang itu, belum selesai melipat kaus dan celana, ada seorang anggota datang naik motor matic-nya. Ia bawa dua dus minuman ringan yang akan dikumpulkan untuk pembagian makanan dan minuman gratis bagi ODGJ.(ndr)
Editor : adi nugroho