Struktur cikar yang diduga milik seorang adipati itu tampak masih kuat. Serat-serat kayunya masih terlihat. Namun jika dilihat lebih cermat, beberapa bagian cikar itu terdapat lubang-lubang kecil tanda dimakan rayap.
RENDI MAHENDRA, JP Radar Kediri, Kabupaten
Cikar itu terbuat dari kayu jati. Berukuran 2x7 meter dengan roda berdiameter 1 meter. Berada di dalam pagar besi hijau di pekarangan Musala Nurul Hadi di Jalan Glinding, Desa/Kecamatan Kandat.
Nama cikar itu Cikar Mbah Gleyor. Diduga telah berusia lebih dari seabad. Struktur cikar itu tampak masih kuat, serat-serat kayunya masih terlihat. Selain itu, sebagian kayu dari cikar itu masih tampak mengilat jika terkena cahaya. Tapi, sebagian cikar itu banyak lubang-lubang kecil. “Beberapa bagian itu sudah dimakan rayap, Mas,” kata Agus, 45, warga setempat.
Ketua RT 3 RW 3 Tarto mengatakan cikar yang berada di tempatnya itu memang tidak terlalu terawat. Belum ada turun tangan dari pemerintah setempat. Justru, Imam Mahmudi, mantan Bupati Blitar yang memugar bangunan untuk Cikar Mbah Gleyor. Diduga sang mantan bupati memang memiliki darah keturunan dengan si pemilik cikar. “Ini dulu yang bangun mantan bupati Blitar,” tutur Tarto sambil menunjuk tempat Cikar Mbah Gleyor itu.
Pemugaran tempat itu dikerjakan sekitar tahun 2002. Tarto ikut memugar tempat untuk Cikar Mbah Gleyor. Selain itu, Tarto juga ikut memindahkan Cikar Mbah Gleyor ke tempat yang sekarang.
Menurut Tarto, sebelum cikar itu dipindah, Cikar Mbah Gleyor dekat dengan Musala Nurul Huda. Atau berjarak 10 meter dari lokasi sekarang. “Untuk memindahkannya butuh sekitar sepuluh orang,” kata Tarto.
Namun, saat memindahkan itu, menurut Tarto, tak ada halangan yang merintangi. Satu-satunya halangan karena cikar itu cukup berat. Sementara pada tahun 1990-an, saat pertama kali cikar itu dipindah, banyak cerita mistis mengiringinya.
Sebelum ditempatkan di pelataran Musala Nurul Huda itu, Cikar Mbah Gleyor berada di sebelah utara tergeletak di kebun cukup jauh dari pemukiman. Cikar Mbah Gleyor direlokasi, karena kerap digunakan sebagai lokasi mencari pesugihan.
Sempat beberapa kali dipindah, namun cikar itu malah kembali ke tempat asalnya. Selain itu, saat dipindah, juga terjadi hujan yang sangat lebat. Akhirnya warga mengadakan ritual keagamaan.
Seusai ritual, warga memindahkannya ke sebidang tanah milik Ichwanudin, salah seorang pemuka agama di desa itu. “Sekarang tanah ini sudah diwakafkan sama Pak Ichwanudin itu,” kata Agus.
Tak ada yang tahu pasti berapa tahun usia cikar itu. Menurut Agus yang lahir tahun 1975, sejak usianya masih kecil, Cikar Mbah Gleyor sudah ada di sana. Namun dari buku “Cerita Rakyat dari Kediri” (2004) yang ditulis oleh Edy Susanto dan Oemaryanto, cikar itu dimiliki oleh RM Kanjeng Adipati Joyohadiningrat.
Disebutkan dalam buku itu, bahwa sang adipati hendak lari dari kejaran prajurit Belanda. Saat lari dari kejaran prajurit Belanda itu, di tengah perjalanan, kerbau yang menarik cikar sudah tak kuat berjalan, sehingga berhenti.
Kisah itu pula yang menginspirasi penamaan daerah Kandat. “Dari kisah itu nama Kandat berasal. Dari kata kandeg, yang artinya terhenti,” terang Agus. Nama “Gleyor” sendiri dikarenakan cikar yang ditarik oleh dua ekor kerbau ini berjalan gontai, mengayun ke kiri dan ke kanan.
Untuk mengetahui lebih rinci tentang Cikar Mbah Gleyor, Jawa Pos Radar Kediri disarankan untuk menemui Kasirun yang berusia 88 tahun. Menurut Tarto, Kasirun adalah satu-satunya orang di desa itu yang paling tua dan dianggap sesepuh.
Selain itu, menurut Tarto, jika ada anak SMA yang hendak bertanya soal Cikar Mbah Gleyor, juga bertanya pada Kasirun. “Coba tanya ke Mbah Kasirun, beliau sesepuh di sini Mas,” kata Tarto.
Rumah Kasirun tak jauh dari tempat Cikar Mbah Gleyor. Hanya dibatasi jalan, berjarak sekitar dua puluh meter. Yang diceritakan Kasirun tak berbeda jauh dengan keterangan sebelumnya. Hanya saja, menurut Kasirun, dulu terdapat juru kunci. “Namanya Mbah Karsondo, terus Mbah Matal. Sekarang sudah tidak ada juru kunci,” kata Kasirun yang lahir tahun 1932. Sekarang, cikar itu hanya dirawat seadanya oleh warga sekitar. Tarto juga berharap ada perhatian dari pemerintah sehingga cikar itu bisa terus dipertahankan sebagai peninggalan bersejarah.
Editor : adi nugroho