Kondisi Subeki memang tidak sempurna. Dia kehilangan satu kaki sejak SD. Tapi, semangat hidupnya sangat besar. Di tengah keterbatasan, pria asal Pelas, Kecamatan Kras itu tetap produktif dengan membuat mobil bekas.
FAJAR RAHMAD, Kabupaten, JP Radar Kediri
Mobil bekas karya Subeki terparkir di depan bengkelnya yang sederhana. Bangunan itu terhubung dengan rumahnya yang berada di bagian belakang. Bangunan seluas 3 x 15 meter itu menjadi tempat berkarya laki-laki asal Desa Pelas, Kecamatan Kras.
Dia masih produktif di usia yang tidak muda lagi. Ditambah kondisinya yang tidak sempurna. Pria 62 tahun itu hanya memiliki satu kaki. “Ini kecelakaan waktu SD. Kaki saya terjepit rel kereta tebu di PG Ngadirejo,” kata Subeki menceritakan masa lalunya.
Karenanya, saat berjalan, dia harus dibantu dengan alat penyangga tubuh. Meski demikian, Subeki tidak mengeluh. Seperti Kamis pagi lalu (11/6), dia terlihat semringah karena pesanan mobil pikap bekas rakitannya dibawa oleh pelanggan.
Mobil bertenaga motor 110 cc itu berhasil hidup dan berjalan mulus. Kendaraan tersebut dipatok seharga Rp 2,5 juta. “Alhamdulillah bisa laku,” ungkapnya.
Keahlian tersebut didapat Subeki saat berumur 17 tahun. Saat itu, dia bergabung dengan organisasi perkumpulan disabilitas di Kota Kediri. Subeki kemudian mengikuti pelatihan dari dinas sosial (dinsos) tentang ilmu teknik pengelasan.
“Saya tidak punya ilmu otomotif. Ya alhamdulilah dari dinsos diberi pelatihan ngelas itu. Sekarang bisa menghidupi keluarga,” ucap Beki sembari mengecek kendaraannya.
Laki-laki yang dikaruniai dua anak ini menekuni usaha pengelasan sejak 1982. Juga membuat kendaraan roda tiga bermesin pada 1992. Namun, barang tersebut dimakan usia. “Kini hanya ada perentelan mesin yang bisa dikenang,” ucapnya.
Selain mobil rakitannya untuk pelanggan, Subeki juga merakit barang yang dimiliki sendiri. Hanya saja kerangkanya tidak seperti rakitan untuk pelanggan itu. Mobil bekas yang dimilikinya bentuknya menyerupai ledok. Namun terdapat bak seperti pikap dan menghidupkan mesin seperti motor. Subeki bisa belajar dengan siapapun. Termasuk melihat sang teman. Dari situ, dia sering memodifikasi mesin sendiri.
Sebelum menekuni pekerjaan tersebut, Subeki pernah merasakan kompetisi olahraga tingkat Asia. Usianya waktu itu masih 18 tahun. Dia menjadi atlet lompat jauh. Perlombannya sampai ke Hongkong. “Saya lolos seleksi tingkat Kota Kediri tahun 1980,” katanya.
Sebagai disabilitas, itu tidak menghalanginya untuk berkarir. Setelah berkarir empat tahun di kompetisi lompat jauh, dia memutuskan untuk pensiun. Subeki memilih untuk meneruskan pekerjaan pengelasan di rumahnya. Karena baginya, dunia tersebut telah menjadi hobinya.
Sebelum mendirikan usaha pengelasan, dua temannya yang ikut pelatihan di dinsos sempat ingin menjual alat las yang didapat. Namun Subeki mencegah niatan temannya. Karena dia berpikir bahwa ilmu dan alatnya diberikan secara gratis.” Mubazir jika tidak dimanfaatkan,” ujarnya.
Setelah alat diberikan, Subeki semakin sukses. Dia terus mendalami ilmu pengelasan. “Karena saya tidak mau menyia-nyiakan ilmu waktu di pelatihan. Saya ambil saja alat lasnya dan kedua teman saya paham dengan niat yang saya putuskan,” jelasnya.
Bahkan, dengan kondisi seperti itu, selain masih dapat menekuni pekerjaanya, Subeki juga memelihara sapi. Itu mengharuskannya mencari rumput di sawah. “Saya cari rumput dengan mobil yang saya ciptakan,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho