Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Maji dan Tutik, Pasutri Lansia yang Eksis Jadi Penyiar Radio di Pare

adi nugroho • Rabu, 10 Juni 2020 | 04:27 WIB
maji-dan-tutik-pasutri-lansia-yang-eksis-jadi-penyiar-radio-di-pare
maji-dan-tutik-pasutri-lansia-yang-eksis-jadi-penyiar-radio-di-pare


Usia senja tak menjadi alasan pasangan ini untuk terus menggelorakan budaya Jawa. Melalui sebuah acara dia radio swasta di Pare, selama belasan tahun mereka masih semangat sebagai penyiar di acara gending dan campursari tersebut.


MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.


Jarum jam menunjukkan pukul 11.30. Tampak seseorang mengendarai mobil Carry abu-abu. Lalu memarkirnya tepat di depan pintu kantor Radio Kharisma FM Pare. Dari pintu depan mobil, seorang nenek baju merah keluar. Kemudian disusul seorang kakek, yang merupakan suami nenek tersebut. 


Klik tautan ini dan saksikan liputan Radar Kediri TV tentang Mbah Tutik dan Yangkung Maji


“Awas lawange natap kursi (awas pintunya kena kursi),” cetus nenek yang dikenal bernama Tutik itu. Sembari mengingatkan sang suami yang hendak turun mengikutinya keluar dari pintu mobil sebelah kiri. Memang, di sebelah mobil yang terparkir itu terdapat kursi. Tempat menaruh galon untuk cuci tangan. 


“Yo kan, wes diomongi kok,” tambahnya setelah pintu benar-benar kena kursi tersebut. “Iyo-iyo,” sahut Maji, yang tak lain  suami Tutik. Maji turun perlahan, sangat hati-hati. Keduanya mulai masuk ke dalam kantor. Sama-sama menggunakan alat bantu jalan. Tutik dibantu dengan tripod, sementara Maji dengan walker standar. 


Pasangan ini berasal dari Desa Adan-adan, Kecamatan Gurah. Keduanya penyiar di Radio Kharisma FM. Selama ini mereka membawakan acara bernama Gencar Taliti. Singkatan dari Gending Campursari Tali Ning Ati. Sudah belasan tahun mereka membawakan acara yang mengudara setiap Senin-Sabtu mulai pukul 12.00 sampai 14.00 tersebut. Kira-kira mulai 2005 silam. 


Suasana gayeng ala perdebatan rumah tangga itu memang sangat lekat pada obrolan mereka. Sembari menunggu acara dimulai, mereka duduk di kursi tamu. Sesekali menceritakan pengalaman muda mereka. Secara bersahutan, obrolan itu  membawa penulis seolah ke zaman mereka masih muda. 


Tutik dan Maji ini awalnya adalah seniman. Mulai dari pemain ludruk, ketoprak, wayang orang, hingga campursari. “Tapi yang utama kami adalah pemain ketoprak tobong Siswo Budoyo,” ujar Tutik.


Kelompok ketoprak asal Tulungagung yang populer sejak tahun 70-an itu memang mempertemukan keduanya. Mereka menggeluti kesenian ini sejak muda. Tentu sangat banyak pengalaman yang mereka dapat. “35 tahun kami menggeluti dunia ketoprak,” tambah nenek 65 tahun tersebut.


Klik tautan ini dan saksikan liputan Radar Kediri TV tentang Mbah Tutik dan Yangkung Maji


Bahkan yang paling diingat, mereka sering tampil bersama Ranto Gudel yang merupakan ayah Didi Kempot. Tak hanya itu, masa kecil Didi Kempot juga tak jarang dititipkan ke Tutik. 


Setelah pensiun sebagai pemain ketoprak, lantas keduanya direkrut menjadi penyiar. Itu berawal dari salah satu putrinya merupakan penyanyi yang sering mengisi di sana. 


Tutik awalnya tak menyangka, karena keterbatasan pendidikannya, ia tak percaya diri jadi penyiar. “Saya kaget, padahal saya tidak bisa apa-apa. (Membaca) Jam saja saya gak ngerti dulu,” ungkap Tutik sembari tertawa.


Apalagi, untuk jadi penyiar harus ada pelatihan dulu. Namun itu tak berlaku bagi Tutik, lambat laun ia pun terbiasa dengan itu. Bahkan saat ini ia mengaku menikmati profesinya untuk mengisi hari-hari tuanya tersebut.


Maji yang saat itu juga tak percaya istrinya ditawari menjadi penyiar radio, ia hanya bisa mendukung. “Bahkan setelah Tutik, kemudian saya yang diajak jadi penyiar. Itu karena setiap hari saya mengantar dia (Tutik, Red) dan menunggunya,” seru kakek 72 tahun ini.


Saat waktu menunjukkan 5 menit jelang acara berlangsung, keduanya pun masuk ke studio. Mempersiapkan diri menggunakan headphone. Kemudian memberikan salam pembuka. Tentu dengan bahasa jawa sehari-hari. Sangat bersahabat dan penuh canda tawa. Yang pasti menggambarkan keseharian mereka di rumah. Keduanya sangat menikmati siaran selama dua jam tersebut.


Acara ini memang sengaja dibuat Kharisma untuk melestarikan budaya Jawa. Dengan dibawakan penyiar yang sudah tua tentu menambah konsep Acara Gencar Taliti ini terkesan melekat bagi pendengar. “Ini gambaran dari Eyang Kung dan Eyang Putri. Konsepnya hanya berdua di rumah, dengan hubungan mesra dan sesekali menceritakan kehidupan sehari-hari,” ujar Station Manager Kharisma FM Giri Cahyono.


Klik tautan ini dan saksikan liputan Radar Kediri TV tentang Mbah Tutik dan Yangkung Maji


Selain itu, tak jarang keduanya menceritakan pengalaman saat bermain ketoprak. Bahkan sampai sekarang pun bisa siaran ketoprak. Tak hanya itu saja, semua pengetahuan kebudayaan yang mereka miliki juga menjadi hal menarik untuk menjadi ulasan pada acara ini. “Beliau sangat semangat dan antusias. Saya juga bersyukur mereka sangat menikmati siaran ini,” ungkap Giri.


Editor : adi nugroho
#pasutri