Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Robby San Victory, Seniman Jalanan yang Ubah Sudut Pandang Grafiti

adi nugroho • Jumat, 5 Juni 2020 | 07:39 WIB
robby-san-victory-seniman-jalanan-yang-ubah-sudut-pandang-grafiti
robby-san-victory-seniman-jalanan-yang-ubah-sudut-pandang-grafiti

Mereka ingin mengubah pandangan tentang seni grafiti. Tak hanya sekadar mencoret dinding. Para seniman jalanan ini ingin menjadikan kota berwarna-warni.


 


 Fajar Rahmad, KOTA JP Radar Kediri


 


Warung kopi  itu berdekatan dengan rel kereta api  yang melintasi jalan MT Haryono, Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota. Suasananya ramai. Beberapa anak muda berkumpul. Salah satunya adalah Robby SanVictory Rozaq. Pemuda 25 tahun itu bercengkerama dengan teman satu komunitas.


Victor, nama panggilannya, merasa nyaman dengan lokasi berkumpul mereka. Suasana yang ada mampu menyatukan visi mereka sebagai seniman jalanan. Sebagai pemuda yang hobi menggambar dinding-dinding jalanan.


Ya, Victor dan kawan-kawannya itu berkumpul dalam wadah Graffiti Kediri Movement. Komunitas pelukis yang menyalurkan keahliannya dengan menggambari dinding menggunakan cat semprot.


Di antara karya-karya komunitas ini tersaji di sekeliling warkop yang mereka gunakan sebagai markas berkumpul itu. Dindingnya penuh lukisan. Menarik dan tak membuat pemandangan jadi kotor. Sebaliknya, suasana menjadi lebih semarak. Lebih berwarna. Masyarakat pun memuji karya mereka itu.


“Karena kami berseni di jalanan.  Pernah digerebek warga  hingga polisi. Publik masih menganggap kami orang yang mencorat-coret tidak jelas,” ucap Victor, mengawali perbincangan, sembari memegang secangkir kopi.


Pandangan masyarakat yang seperti itu membuat penggagas komunitas ini berniat mengubahnya. Caranya, dengan memaksimalkan setiap karya yang mereka buat di dinding-dinding kampung.


Memang, sering yang mereka lakukan tak izin dengan pemilik dinding. Tapi karena karya mereka maksimal dan tak seadanya warga justru memberi apresiasi. Yang ditunjukkan dengan pemberian konsumsi hingga bantuan cat.


Bagi Victor, graffiti adalah sarana untuk menjaring pertemanan. Melalui grafiti mereka bisa membangun dan mempertahankan komunitas yang berdiri pada 2016 ini. Sekaligus penular ilmu berkesenian. Karena banyak anak-anak yang kagum dengan aneka gambar yang tersebar di sudut-sudut jalanan itu. Kemudian, mereka penasaran dan berusaha mencari pelukisnya untuk menimba ilmu.


 


Bagi alumnus jurusan seni rupa Universitas Negeri Surabaya ini, hobi menggambarnya sudah dia miliki sejak sekolah dasar (SD). Hingga akhirnya mengenal graffiti karena menemukan keunikan dan rasa menyenangkan tersendiri.


Saat berbincang, Victor ditemani dua anggota komunitas, Fajar Ajirudin dan Valentino Satria. Keduanya bergabung karena karya yang diciptakan Victor. Kemudian bertemu di toko perlengkapan grafiti milik Victor.


Pertemanan mereka itu mampu menelorkan acara tahunan. Bertajuk ‘Back to Aesthetic’. Mengundang beberapa seniman grafiti dari luar Kediri. Bahkan, sempat pula mereke mengundang seniman dinding dari Austria. Mereka diajak ber-jamming atau berbagi pengalaman.


Konsistensi karya para seniman ini juga berbuah dari sisi ekonomis. Mereka mampu menggaet beberapa perusahaan menjadi sponsor. Juga, mereka diundang oleh beberapa kafe untuk live grafiti.


Puncaknya, pada 2017, mereka mendapat pengakuan berupa surat rekomendasi dari Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) serta Pemkot Kediri. Rekomendasi yang turun setelah melihat pergerakan komunitas ini dalam berkarya.


“Saya bersyukur dengan adanya surat rekomendasi itu. Dengan itu kami diakui keberadaanya dan untuk membentengi komunitas dari aparat yang melarang,” jelas laki-laki yang beralamat di Kecamatan Ngadiluwih.


Ada yang menarik saat pandemi korona yang berlangsung saat ini. Victor membuat tantangan  untuk pengikut Instagram komunitasnya. Mereka diminta membuat sketsa grafiti bertema Covid-19. Seperti ajakan stay at home ataupun physical distancing. Sketsa itu kemudian diminta diunggah ke Instagram.


Namun, kegiatan itu tak berlangsung lama. Karena para seniman itu tak terbiasa dengan media kecil. Mereka pun melanjutkan dengan berkarya di jalanan lagi. Namun dengan protokol kesehatan yang ditaati. Tak ayal, selama pandemi ini hampir tiap hari anggota komunitas ini menggambar di sudut-sudut kota.

Editor : adi nugroho
#kediri #seni