Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Batik Kuno Mojo dengan Pewarna Kulit Akar Mengkudu Hingga Pohon Mangga

adi nugroho • Rabu, 27 Mei 2020 | 23:17 WIB
batik-kuno-mojo-dengan-pewarna-kulit-akar-mengkudu-hingga-pohon-mangga
batik-kuno-mojo-dengan-pewarna-kulit-akar-mengkudu-hingga-pohon-mangga

 Batik milik Wiwin Munawaroh lain daripada yang lain. Perempuan asal Desa Surat, Kecamatan Mojo itu mempertahankan motif batik kuno. Yang membuat beda lagi, dia menggunakan pewarna alami berbahan tumbuh-tumbuhan.


 


HABIBAH A. MUKTIARA, KABUPATEN, JP Radar Kediri 


 


Rumah di Desa Surat, Kecamatan Mojo itu tampak sederhana. Dari pintu masuk, si pemilik griya sedang sibuk melakukan aktivitas. Di depannya, terdapat sebuah gawangan dengan kain putih yang menjuntai. Rupanya, perempuan itu tengah mencanting batik.


“Motif yang saya buat bertema flora dan fauna,” kata Munawaroh, si empunya rumah kepada Jawa Pos Radar Kediri, Kamis lalu (21/5).


          Meski baru tahap mencanting, tetapi corak pada kain warna dasar putih itu sudah terlihat. Motifnya binatang dan tumbuhan. Setelah tahap tersebut selesai, perempuan 44 tahun ini tinggal melakukan proses pewarnaan. Yang menarik, pewarnaan batik menggunakan pewarna alami.


 “Bahan yang kami gunakan untuk pembuatan warna mulai dari kulit akar mengkudu, kulit (pohon) mangga, dan kulit pohon pulai,” imbuhnya.


          Munawaroh tentu saja punya alasan memanfaatkan pewarna alami. Salah satunya adalah menekan biaya produksi. Selain itu, bahan untuk membuat pewarna alami sangat mudah ditemukan. Selama ini, bahan tersebut didapatkan dari pengolahan kayu. “Tidak jauh dari rumah saya. Banyak bahannya,” ucapnya.


          Misalnya saja akar pohon yang biasa diambil dari bekas pelebaran jalan. Begitu pula bahan-bahan yang lain. Munawaroh tidak perlu jauh-jauh mendatangkannya dari luar daerah.


          Tapi, penggunaan pewarna alami tidaklah sempurna. Sebab, prosesnya lebih lama dibanding sintetis. Sebelum dilakukan proses perebusan, bahan pewarna lebih dulu ditumbuk. Setelah bahan halus, kemudian dimasukkan air dan direbus.


          Untuk mendapatkan warnanya, kata Munawaroh, perebusan air wajib menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu. “Pembuatan warna tidak pernah saya hitung berapa lama. Yang menandakan warna air sudah pekat sesuai dengan warna yang diinginkan,” ungkap istri dari Komarul Huda ini. 


Selama pembuatan warna, dia berhasil membuat warna cokelat, kuning, hijau, dan merah. Sedangkan untuk warna biru, dia masih membeli. Dari warna-warna yang dibuatnya, warna merah paling sulit untuk dibuat. Untuk mendapatkan warna tersebut, bahan yang digunakan adalah akar mengkudu. “Akar sulitnya didapat,” ujarnya. 


          Selain akarnya yang sulit didapatkan, proses pembuatannya tidak selalu jadi. Karena selama proses pembuatan, terkadang warna akan masuk ke cokelat.


Hal tersebut disebut gagal karena sudah jauh dari warna merah. Dalam pembuatan warna merah di Indonesia, masih tergolong sedikit yang berhasil. Bahkan, kemungkinan hanya tiga orang yang sudah berhasil membuat warna merah dari kulit akar mengkudu. 


“Untuk pewarnaan selanjutnya, saya sudah membuat banyak untuk persediaan,” terang Munawaroh. 


          Ilmu pembuatan warna alami tidak diperoleh dengan mudah. Munawaroh yang memulai usaha tersebut pada 2015, dia sudah belajar sejak 2011. Dia mengawalinya dengan magang di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Tepatnya di Kelompok Usaha Bersama (KUB) Percengkihan. “Saya belajar membuat warna yang dihasilkan dari cengkih,” ujarnya.


          Pada 2013, dia kembali mengikuti magang. Kali ini lokasinya Desa Kebon, Kecamatan Bayat di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (Jateng). Di sana, dia belajar mewarna dengan perpaduan warna alam dan warna sintetis. 


Hingga 2018, dia juga mengikuti magang di Jogjakarta. Di sana, selain belajar proses pewarnaan, diia juga belajar mencanting halus. Dari ilmu yang didapatkan selama mengikuti magang, dia bagikan  kepada warga di desanya. 


Salah satunya dengan mengadakan pelatihan di desa. Dengan adanya pelatihan tersebut, membuat ibu-ibu memiliki sebuah keterampilan. Tentu saja pelatihan tersebut mendapatkan respons yang positif. Bahkan, dari 15 karyawannya, merupakan warga desa tempatnya tinggal. 


“Dengan adanya pelatihan ini, ibu-ibu di sini juga memiliki keterampilan dan pekerjaan,” ungkap Munawaroh. 


Sementara itu, untuk motif, dia tetap mempertahankan ciri khas batik motif kuno. Seperti parang, lasem, sekar jagad, dan kawung. “Agar tidak punah. Motif kuno membuat batik punya ciri khas,” pungkasnya.


 


 


 





Editor : adi nugroho
#mojo