Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Acmad Aris Chakim, Juru Masak Kue Khas Jepang di Kota Kediri

adi nugroho • Sabtu, 16 Mei 2020 | 13:38 WIB
acmad-aris-chakim-juru-masak-kue-khas-jepang-di-kota-kediri
acmad-aris-chakim-juru-masak-kue-khas-jepang-di-kota-kediri

Pernah menjadi minoritas di negeri Sakura tidaklah mudah. Namun hal tersebut tidak menghentikan langkah Acmad Aris Chakim belajar membuat kue. Usahanya tidak sia-sia. Kini ia memiliki toko kue di kotanya sendiri.


 


HABIBAH A. MUKTIARA, Kota, JP Radar Kediri 


 


Begitu memasuki toko terdengar alunan musik berbahasa Jepang. Nada khasnya memenuhi ruangan. Di dalam toko ukuran sedang tersebut terlihat pemandangan beraneka jenis kue yang tertata rapi di rak.


Di antara kue-kue itu terlihat pernak-pernik, mulai dari komik hingga keramik. Desainnya merupakan ciri khas negari Sakura itu. Ketika Jawa Pos Radar Kediri sedang melihat-lihat isi toko, terlihat sosok laki-laki menggunakan pakaian putih masuk melalui pintu.


Sosok tersebut adalah Acmad Aris Chakim. Dia lebih sering dipanggil dengan nama Achmad Aris Udagawa. Laki-laki berusia 41 tahun tersebut adalah owner sekaligus patissier dari Patisserie Achmad Aris Udagawa (AU).


“Saya membuka toko ini mulai tahun 2014,” ujar pria yang karib dipanggil Aris ini.


Kepada wartawan koran ini, ia mengaku, sebelum membuka toko kue di Jalan Panglima Sudirman 37 Kota Kediri masih tinggal di Jepang. Aris bersama anggota keluarganya semula memang tinggal di Tokyo, Jepang. 


Selama di negara tersebut, ia sempat bekerja sebagai chef di beberapa restoran hingga perusahaan ternama. Namun di balik itu semua, banyak rintangan yang harus dilewati oleh suami dari Tomomi Udagawa ini.


“Tepatnya pada tahun 2000, saya bersama istri mulai usaha di Tokyo, Jepang,” imbuhnya.


Sebagai warga asing di negari orang, Aris memang memerlukan adaptasi. Terutama ia adalah warga dari negara Asia tenggara, di mana banyak tanggapan negatif dari warga negara tersebut. Tidak hanya itu, menganut agama yang cenderung minoritas juga menjadi sebuah tantangan.


Banyak yang mengira bahwa agama yang dianut Aris adalah teroris. Bahkan ketika sedang salat di taman, ia pernah dibawa ke kantor polisi. Tidak hanya itu saja, Aris juga sulit untuk mencari pekerjaan.


Selama tinggal di Tokyo, Aris bekerja paruh waktu di beberapa restoran, hotel hingga toko makanan di sana. Selain bekerja, dia juga membantu usaha keluarga istrinya yang membuka kedai sushi.


“Pada saat itu saya disuruh untuk mencoba cake, saya sempat nggak mau,” akunyanya.


Yang membuat ayah lima anak ini tidak mau mencoba adalah karena ia menganggap bahwa kue adalah makanan yang manis. Namun setelah mencoba,  ternyata cake tersebut berbeda dengan cake yang pernah ia coba sebelumnya.


Kue tersebut terasa lembut, namun tidak terlalu manis. Berbeda dengan toko kue lain, hidangan penutu pastry asal Prancis dengan cita rasa Jepang. Di mana negeri ini identik dengan pilihan mentega ataupun krim yang lebih lumer di lidah. Penentuan bahan baku serta proses pengolahannya diinovasi agar hasilnya sesuai dengan selera orang Asia. Termasuk menyesuaikan lidah warga penikmat kue lokal.


“Semua bahan yang kita gunakan untuk membuat kue dari bahan lokal yang segar,” ungkapnya.


Aris menjelaskan, pada umunya orang Jepang menyukai Japanes roll cake alias bolu gulung. Kue ini memiliki tekstur yang sengat lembut sehingga lumer di lidah. Selain itu, kue yang hanya rasa vanila ini tidak terlalu manis.


Sebelum membuka toko kuenya, banyak sekali perjalanan yang harus ditempuh oleh Aris. Pada tahun itu juga, ia bersekolah di Academy Vantan Lecon de Suprise Tokyo. Di sana, Aris mengambil jurusan patissie and cafe.


Pada 2004, Aris lulus sekolah dan langsung bergabung dengan Attelier Noguchi. Perusahaan tersebut merupakan pemasok pesanan khusus chocholate untuk hotel-hotel besar di Tokyo seperti Park Hyatt, Nikko, The Penisula Hotel.


Setelah empat tahun bekerja di Attelier Noguchi, pada 2007 Acmad bergabung dii Patisseries Pascal Tokyo sebagai chef. Pada tahun 2013, Aris menjadi orang Indonesia pertama yang tergabung dalam PT Pierre Herme in Tokyo, anak usaha milik maestro patisserie asal Prancis, Pierre Herme.


Secara tidak langsung, Kediri tercatat sebagai kota pertama di Indonesia yang dijadikan basis usaha alumni toko kue paling tersohor itu. Sehingga pada 2014, Aris memutuskan untuk membawa keluarganya pulang ke Indonesia. 


Selain karena tuntutan untuk yayasan milik keluarga, ia juga ingin mengenalkan kultur Islam di Indonesia. Menurutnya, Kota Kediri adalah kota yang paling terjangkau untuk membangun usaha mandiri.


“Selain itu, saya ingin usaha rintisan ini mampu memberi contoh yang memotivasi kepada anak-anak tentang dunia entrepreneur,” ungkapnya.


Kue dengan khas Jepang ini cukup diterima, terutama untuk warga lokal. Tidak hanya terkenal di Kediri saja, namun kue buatannya juga terkenal di kota-kota besar.


 

Editor : adi nugroho
#jepang #kota kediri