Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ponpes Pari Ulu Budidayakan 14 Jenis Kurma di Gurah

adi nugroho • Kamis, 14 Mei 2020 | 03:44 WIB
ponpes-pari-ulu-budidayakan-14-jenis-kurma-di-gurah
ponpes-pari-ulu-budidayakan-14-jenis-kurma-di-gurah


Berawal dari kisah Kerajaan Keling, KH Mustain Anshori pun ‘menyulap’ kebun kelapa menjadi kebun kurma. Membawa 14 jenis kurma dari Timur Tengah dan Eropa ke Desa Sumbercangkring, Kecamatan Gurah.


Lu’lu’ul Isnainiyah, Kabupaten, JP Radar Kediri


Sore itu, jalanan terasa sejuk, akibat guyuran hujan beberapa menit yang lalu. Aspal pun mulai basah, namun tidak ada genangan air. Begitupun kondisi pekarangan berukuran 31 ru, hitungan bagi orang jawa untuk mengukur luas tanah meter persegi.


Pekarangan yang tidak jauh dari tuan rumahnya, sang pemilik tanah yang memiliki lahan untuk ditanami kurma. Jika kita hendak mampir berkunjung, dari pinggir jalan pun sudah dapat menduga bahwa ini pohon yang sangat langka kita jumpai. Meskipun sekeliling ditutupi oleh jaring-jaring berwarna hitam. Namun, dedaunan yang menjulang keluar pun masih dapat kita lihat.


“Saat ini kurma belum masa pembuahan,” ujar pemilik kebun kurma sekaligus pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Pari Ulu di Desa Sumbercangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. KH Mustain Anshori bercerita sembari menunjukkan kebun yang berjarak sekitar 15 meter dari ponpes tersebut.


Ketika memasuki kebun tersebut, kita akan disuguhkan tumbuhan yang saling berdekatan di dalam pot berukuran diameter 50 sentimeter. “Di sini ada sekitar 200 pot berisi tanaman kurma,” jelasnya dengan tangan memeriksa tumbuhan itu. Meskipun buah kurma identik dengan tumbuhan yang berasal dari Timur Tengah, rupanya di tangan Abah Mustain, tumbuhan ini dapat dikembangkan di daerah tropis. Dan medianya pun menggunakan media tanah, bukan pasir.


Ia mulai melakukan penelitian  budidaya buah kurma ini sejak tahun 2016, dan sekarang merupakan tahun ke lima baginya untuk merawat tanaman itu. ­­­­­“Dahulu tempat ini banyak ditumbuhi pohon kelapa, tetapi sekarang sudah tidak ada,” jelasnya menerangkan bagaimana ia mendapatkan inspirasi untuk menanam buah kurma ini.


Sambil melihat pekarangan menuju ke belakang halaman, ia menceritakan awal mulanya dia mendapatkan inspirasi untuk menanam pohon kurma ini, karena pada zaman dahulu di sekitar rumahnya banyak terdapat pohon kelapa. Dan menurut cerita-cerita kuno dahulu pada saat zaman Kerajaan Keling, tanah ini pun ditumbuhi oleh banyak tanaman tal. “Bahkan cerita lain ada yang mengatakan ‘enek ulo nogo sak kayu tal gedene’ lha itu berati kan pernah ada pohon tal,” jelasnya dengan tatapan mata mengingat potongan cerita yang didapatnya. Pohon tal atau pohon plum, merupakan sejenis tumbuhan kurma.


“Saya berpikir dahulu itu pada abad ke 7 dan 8 disini ada pohon tal, mungkin itu kurma,” akunya di sore itu. Dia melanjutkan, jika dahulu kala pohon tersebut dapat tumbuh, pastinya saat ini pun tidak jauh beda dengan dahulu, sekarang mungkin dapat tumbuh dan berbuah.


Alasan lain mengapa Abah Mustain bersikeras untuk mencoba menanam pohon kurma ialah, karena ia ingin menggantikan pohon kelapa  yang dulunya tumbuh subur di pekarangnya, dan kini sudah habis tidak tersisa. Ia pun memikirkan bagaimana caranya agar pekarangan yang ia miliki tidak hanya menjadi lahan kosong, bahkan tanahnya pun akan rusak jika tidak dikelola, salah satunya yakni dengan ditanami beberapa tumbuhan. “Biarpun lahannya kecil, kalau saya tanami tumbuhan kurma kan lumayan meskipun hanya berbuah setengah kilogram,” imbuhnya.


Lima tahun lamanya ia membudidayakan buah ini, dan saat ini di kebunnya terdapat 14 jenis buah kurma. Beberapa buah kurmanya adalah Ajwa, Ruzeis, Madinah, dan masih banyak lagi. Semua jenis kurma tersebut ia dapatkan dari negara asalnya. “Bibit kurma berasal dari Negara Timur Tengah, Iran, Inggris juga ada,” jelasnya dengan jari menghitung banyaknya bibit yang ia miliki.


Namun, Abah menjelaskan pohon kurma yang cocok ditanam di tanah ini adalah bibit yang berasal dari Timur Tengah. Sedangkan, kurma yang berasal dari daerah empat musim, seperti Amerika dan Eropa sampai saat ini belum berbunga.


Mengenai perawatannya sendiri, Abah Mustain menjelaskan tidak ada perawatan secara khusus, “Ya kalau perawatannya gampang-gampang susah,” ungkapnya. Kemudian, ia juga memberi tidak terlalu sering memberi air, sehari hanya cukup dua kali. Bahkan ketika musim hujan tiba, ia malah tidak memberi air sama sekali, karena tumbuhan ini juga tidak terlalu banyak membutuhkannya.


Untuk pupuknya, Abah hanya menggunakan pipik organik yang berasal dari kotoran hewan sapi dan ayam. “Semua saya gunakan yang organik saja tidak perlu bahan kimia,” tegasnya. Ketika melihat-lihat tumbuhan kurmanya, Abah menjelaskan jika tanamannya sering dilubangi oleh hewan wawung, hewan yang juga terkenal hama bagi pohon kelapa. Menurutnya hewan tersebut sangat sulit untuk dibasmi, sehingga mengakibatkan tanaman menjadi rusak dan tidak berbuah.


Editor : adi nugroho
#gurah