Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Antok dan Kisah Penghuni Rumah Singgah Lansia di Pare

adi nugroho • Senin, 11 Mei 2020 | 08:37 WIB
antok-dan-kisah-penghuni-rumah-singgah-lansia-di-pare
antok-dan-kisah-penghuni-rumah-singgah-lansia-di-pare


 Hampir semua penghuni rumah singgah ini punya masalah sosial. Ada yang terbelit utang ada yang diusir sudara ipar. Saat meninggal pun tak ada keluarga yang melayat.


 


Lokasi rumah ini di belakang Kelurahan Pare, Kecamatan Pare. Tepat di belakang pasar loak. Nama rumah ini adalah Rumah Singgah Kus Nugroho. Dihuni oleh tujuh orang yang mayoritas lanjut usia (lansia).


Kemarin (9/5) sekitar pukul 15.00, tak semua penghuni berkumpul. Ada yang masih bekerja di luar, sebagai tukang becak.


Memang, dari tujuh penghuni, mereka semua memiliki latar belakang kehidupan yang beragam. Kebanyakan cerita sedih. Tak punya tempat tinggal atau dibelit persoalan ekonomi.


“Tadinya kos. Sejak Januari pindah ke sini,” aku Yusak Budi Santoso, 36, seorang penghuni asal Pare. Budi tinggal bersama dengan istrinya Etri Rahayu, 28, yang asal Jakarta.


Budi mempunyai kisah pilu sebelum tinggal di Rumah Singgah Kus Nugroho. Sehari-hari dia bekerja sebagai pengambil sampah. Saat pandemi korona menerjang dia tak bisa bekerja seperti biasa. Padahal Budi terbeli utang. Dia dikejar-kejar rentenir.


“Beberapa bulan terakhir ini saya menganggur. Padahal ya punya utang juga. Sekarang saya bantu-bantu di sini,” aku Budi.


Cerita sedih Budi bukan satu-satunya. Para penghuni lainnya juga tak sekadar punya tempat tinggal. Juga tak punya keluarga. Seperti yang dialami oleh Ngatemi. Lansia 80 tahun asal Malang ini dulu tinggal bersama adik ipar. Padahal di Malang dia juga sudah tak punya kerabat.


“Sudah tidak boleh tinggal tinggal sama adik ipar. Tapi saya bersyukur di sini bisa diterima jadi punya keluarga baru,” air mata Ngatemi menetes ketika mengucapkan kata-kata ini.


Selain keluarga Budi dan Ngatemi, yang tinggal di rumah singgah ini adalah Katiran, 70, asal Plemahan, Mbah Kung, 75, yang asal Magetan, Mbah Jum, 70, dan Tofa, 60, keduanya dari Kediri.


Pendiri dan pengurus rumah singgah Antok Falensianus Anugrah, 45, mengaku tak punya data khusus. Sebab menurut Antok, rumah singgah Kus Nugroho tersebut bersifat informal.  “Sebetulnya kami ini sifatnya hanya mendampingi. Dan kebanyakan yang tinggal di sini itu mereka datang sendiri. Tapi kita juga pernah mendapat titipan dari dinsos),”jelas Antok.


Yang titipan dari dinsos kebanyakan sangat renta. Untuk makan dan mandi saja butuh dibantu. Saat meninggal dan dimakamkan, tidaka da keluarga atau kerabat yang melayat.  “Saat mereka meninggal kami makamkan sesuai kepercayaan masing-masing. Kalau muslim kami makamkan secara muslim, bahkan juga ditahlili. Tapi  biasanya tak ada keluarga yang melayat,” terang Antok.


 


Hidupi Ranseba dari Jualan Nasi Keliling


 


Rumah di belakang pasar loak Pare itu dulunya merupakan rumah walet. Antok membelinya pada 2007. Karena rasa kemanusiaannya yang tinggi Antok mengubah rumah walet tak terurus itu menjadi bermanfaat bagi sesama. Tak sekadar tempat tinggal tapi juga menjadi tempat belajar bagi anak-anak dan rumah singgah untuk lansia telantar.


Tempat belajar itu ada dua. Yang satu Sanggar Bocah dan Dolanan (Sangbodol), sedangkan  Rumah Anak Segala Bangsa (Ranseba), yang menampung anak jalanan di sekitar Pare. Kedua tempat itu, juga rumah singgah, tak berjarak dengan tempat tinggal Antok. Karena ketiga fasilitas itu berada satu atap dengan rumah Antok.


Nyaris di semua dinding rumah Antok terisi mural. Mural-mural itu karya anak didik Antok di Ranseba. “Untuk Ranseba ini memang diperuntukan untuk anak-anak jalanan. Kebanyakan mereka ini adalah anak-anak broken home,” jelas Antok, yang saat wawancara memakai kaos hitam bertuliskan Gusdurian itu.


Nama rumah singgahnya dia ambil dari nama seorang pastor. Pastor itu dia kagumi. “Beliau sudah almarhum. Selama hidupnya selalu menemani kami,” terang Antok.


Aktivitas sosial yang dilakukan Antok terinspirasi dari beberapa sosok. Yaitu


Anjezë Gonxhe Bojaxhiu atau Bunda Teresa dan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Menurut Antok mereka adalah tokoh yang mempunyai rasa kemanusiaan tinggi. “Kalau Santa Teresia, dari Kalkuta itu, saya terinspirasi dari kebersahajaannya dalam menemani, merawat, dan menyanyangi. Sementara dari Gus Dur adalah menjunjung kemanusian.  Yang lebih baik dari politik adalah kemanusian,” urai Antok.


Antok juga menyalurkan rasa kemanusian dengan bergabung dengan organisasi kebencanaan. Dia bergabung di organisasi tersebut sejak 2007 hingga 2014. Dari organisasi itu Antok sudah mengelilingi Indonesia. Menjadi relawan dalam berbagai bencana yang ada di Indonesia.


“Meski tidak ikut organisasi lagi, saat tsunami di Palu itu saya juga jadi relawan,” kenang Antok.


Bapak tiga anak ini sehari-hari bekerja sebagai penjual nasi keliling. Selain itu dia juga membuka jasa untuk membikin mural di dinding-dinding. “Sehari-hari pekerjaan saya sebagai penjual nasi keliling. Selain itu juga kadang-kadang diminta untuk membuat mural di dinding, seperti dinding kafe dan lain-lain,” tambah Antok.


Menurut Antok, penghasilannya juga untuk berbagi dengan para penghuni di Rumah Singgah Kus Nugroho, dan Raseba. Sebab Rumah Kus Nugroho dan Ranseba, tak mempunyai donatur khusus. “Kalau donatur yang khusus itu tidak ada, hanya dari teman-teman,” kata Antok.


Antok juga mendidik anak-anak yang berada di Ranseba untuk peka terhadap kemanusiaan. Misalnya beberapa anak diajarkan untuk merawat para lansia yang tinggal di Rumah Singgah Kus Nugroho. Misalnya Veronika Jayanegara, 17, Bernadeta Falesya Irene, 14, dan Slamet Agung Widodo, 17.  Ketiga anak tersebut, pernah mengurus lansia yang sudah tidak berdaya di Rumah Singgah Kus Nugroho. “Dulu kami setiap hari memandikan dan menyuapi mereka. Membantu kehidupan mereka sehari-hari. Namun mereka sudah meninggal,” jelas Veronika yang juga pintar membuat lukisan mural ini.


Kini lansia yang tinggal di Rumah Singgah Kus Nugroho, rata-rata masih bisa hidup mandiri. Meskipun demikian, antara lansia dan para remaja yang tinggal di rumah tersebut saling menjaga. Bahkan sesekali mereka saling bercanda. Sebab motto dari rumah tersebut adalah hidup bersama dan belajar bersama.


 


 


 


 

Editor : adi nugroho
#pare #pasar #kecamatan pare