Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bambang Triyono Putro, Dokter yang Berjuang Sembuh dari Korona

adi nugroho • Sabtu, 9 Mei 2020 | 21:14 WIB
bambang-triyono-putro-dokter-yang-berjuang-sembuh-dari-korona
bambang-triyono-putro-dokter-yang-berjuang-sembuh-dari-korona

Dokter Bambang menjadi pasien positif pertama di Kota Kediri. Dua belas hari harus menjalani perawatan dan isolasi di RSUD SLG. Semangat serta dukungan keluarga dan orang sekitar pun menjadi salah satu resep kesembuhannya.


MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kota, JP Radar Kediri.


“Alhamdulillah sehat,” jawab Bambang saat ditanya kondisinya saat ini. Ia mengaku bahwa selama dua pekan lebih telah kembali beraktivitas di kantor. Yakni di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri. Sebagai pelaksana tugas (Plt) kepala dinas, tentu banyak tugas yang menunggunya. Melakukan koordinasi terkait kondisi yang terjadi di Kabupaten Kediri selama ini.


Aktivitas Bambang di kantor memang belum sepenuhnya maksimal. Ia harus tetap memperhatikan kondisinya setelah sakit akibat virus korona yang menyerangnya akhir Maret lalu.


Tepat pada tanggal 27 Maret lalu memang menjadi hari yang mengejutkan bagi ayah dua anak ini. Pasalnya, saat itu ia harus dilarikan ke RSUD SLG untuk menjalani perawatan dan isolasi di sana. Itu setelah hasil swab test pada Bambang menunjukkan hasil positif. Bambang tertular dan masuk klaster pelatihan petugas Haji Sukolilo Surabaya.


Awalnya ia mengaku sempat khawatir, terlebih pria yang juga dokter ini merupakan pasien pertama dari Kota Kediri yang positif korona. “Kekhawatiran pasti ada. Terutama khawatir dengan kondisi keluarga di rumah,” ungkap Bambang.


Hanya saja, kekhawatiran itu hilang ketika istri dan kedua putranya tak tertular virus ini. Keluarganya dipastikan negatif. Menurut Bambang, komunikasi dengan keluarga dan pemikiran positif selama dirawat di rumah sakit menjadi hal yang sangat penting.


Waktu 12 hari diisolasi di rumah sakit bukan waktu yang sebentar. Apalagi ditaruh di ruangan sendirian. “Dua belas hari memang terasa lama, di ruang sendirian, ketemu perawat saat mereka data memberi makan siang, pagi, dan sore,” kata Bambang.


Tentu, saat itu ia harus beradaptasi dengan kondisi demikian. Berada di ruangan yang sebenarnya bisa diisi enam tempat tidur. Cukup luas, ditata sedemikian rupa hanya untuk satu pasien saja. “Selama di ruang isolasi, paling jalan ke jendela,” ujar Bambang.


Kebetulan, di bagian luar ruangannya langsung berhadapan dengan taman kecil. Ia mengaku bahwa di hari pertama itu masih menyesuaikan. “Setelah hari keempat baru terbiasa,” tambahnya.


Kata Bambang, selama isolasi itu, yang paling penting adalah bisa mengisi waktu agar tidak terlalu memikirkan penyakit yang sedang menyerang. Saat itu, untuk mengisi waktu Bambang melakukan aktivitas membaca berita yang sifatnya positif. “Membaca berita ringan, yang bisa memberikan semangat,” ungkapnya.


Termasuk aktivitas membaca buku, utamanya buku yang bisa meningkatkan motivasi. “Buku spiritual tentang agama, juga menonton youtube pengajian. Intinya bisa membuat kita tenang dan tetap bersemangat,” ujar Bambang mengingat apa yang ia lakukan selama isolasi di rumah sakit kala itu.


Karena hobi olahraga, tak jarang ia juga menyempatkan menonton berita sepakbola atau olahraga lainnya. Dan yang tak kalah penting lagi, Bambang mengaku bahwa komunikasi dengan keluarga dan orang terdekat bisa memacu semangat.


“Teman-teman dan keluarga banyak yang memberi semangat, baik telepon maupun pesan whatsapp. Mengetahui kondisi keluarga yang baik-baik saja itu bisa membuat tenang,” jelasnya.


Yang paling utama, memang pertanyaan terkait kondisi. Baik kondisi di rumah sakit maupun kondisi keluarga yang ada di rumah. Mereka saling menguatkan melalui video call. Apalagi di lingkungan rumahnya saat itu juga dilakukan lockdown. Menurut Bambang, komunikasi dengan keluarga itu sangat berpengaruh terhadap psikisnya. “Gunanya komunikasi itu bisa menguatkan,” sebutnya.


Di samping itu, selama isolasi tetap harus memaksimalkan istirahat dan minum vitamin yang diberikan dokter. Apalagi pelayanan tenaga medis saat perawatan di rumah sakit juga memberi semangat pasien untuk sembuh.


Saat itu, hampir dua pekan ia berada di rumah sakit, hingga 6 April. Hasil swab kedua Bambang keluar. Ia dinyatakan sembuh dan negatif korona. Otomatis keesokan harinya ia diperbolehkan pulang dan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari.


“Alhamdulillah setelah dinyatakan negatif itu bisa lega, sangat bersyukur,” ungkapnya. Bambang selalu berpesan bagi mereka yang dinyatakan positif, baik yang isolasi mandiri di rumah maupun rumah sakit untuk tetap semangat dan patuhi perintah dokter. “Minum obat meskipun hanya vitamin, tetap berperilaku hidup bersih dan sehat. Dan yang paling utama selalu berdoa, itu yang sangat penting,” pesannya.


Termasuk kewaspadaan bagi masyarakat. Memang menurutnya tak ada yang tahu siapa yang membawa virus. Untuk itu, physical distancing dan selalu memakai masker jika keluar itu sangat diharuskan. “Kita harus tetap jaga diri. Apalagi saat ini banyak klaster penularan,” pesannya.


Menurutnya, meskipun divonis positif, tetap harus bisa menerima. Semua diserahkan pada sang Pencipta. “Kita tinggal ikhtiar, dengan istirahat, minum obat, dan tetap semangat. Itu kuncinya untuk bisa sehat kembali,” ungkap Bambang menutup percakapan siang itu.

Editor : adi nugroho
#corona #covid 19 #wabah #dokter