Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sholiko, Pendiri Komunitas Pencinta Reptil Kediri Beri Edukasi Siswa

adi nugroho • Selasa, 5 Mei 2020 | 12:21 WIB
sholiko-pendiri-komunitas-pencinta-reptil-kediri-beri-edukasi-siswa
sholiko-pendiri-komunitas-pencinta-reptil-kediri-beri-edukasi-siswa

Bagi sebagian orang, ular merupakan hewan yang menakutkan. Namun tidak dengan Sholiko. Pria 43 tahun ini justru memeliharanya. Di rumahnya, dia memiliki lebih dari lima ekor ular piton.


 


RENDI MAHENDRA, KOTA, JP Radar Kediri


 


 


Saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Tamanan, Kecamatan Mojoroto, Iko – nama panggilan Sholiko – sedang bermain dengan satwa peliharaannya. Binatang melata itu tampak jinak di tangan pria tersebut. Ya, ular teman bermain Iko itu seolah sudah seperti sahabat. Karib dan menurut.


“Kecintaan saya terhadap ular justru saat kena gigit ular piton,” akunya. Gigitan ular piton itu hampir membuat jempol tangan kirinya putus. Saat itu, Iko masih berumur 17 tahun. Dia baru kali pertama memelihara ular.


"Saya membeli ular piton itu di daerah Semen. Itu ular liar yang ditangkap warga. Saat itu saya belum tahu karakternya. Ternyata ular liar itu agresif. Saya main-mainkan, lha terus digigit," paparnya sambil menunjukkan bekas luka gigitan di tanggan kirinya.


Meski begitu, hal tersebut tak membuatnya kapok. Justru Iko makin tertantang untuk mengetahui lebih jauh tentang ular. Dia mulai belajar tentang karakteristik ular dari berbagai buku. Bahkan Iko belajar ular kepada seorang pawang.


 "Setelah itu, saya mulai banyak belajar. Ternyata ular liar dan ular peliharaan itu berbeda. Ular liar lebih agresif," katanya.


Pada tahun 2005, Iko mendirikan sebuah komunitas. Komunitas itu bernama Komunitas Pencinta Reptil Kediri. Disingkat Korek. Iko menyadari bahwa bukan dirinya saja yang hobi terhadap ular. Sehingga dia membuat komunitas tersebut.


 "Hobi saya ini kan aneh. Kok memelihara ular. Jadi saya mengumpulkan teman-teman yang satu hobi, terus mendirikan Korek itu," tambahnya.


Bahkan komunitas itu tak hanya untuk kalangan anggota saja. Menurut Iko, komunitasnya sering diundang ke berbagai event atau kegiatan di sekolah. Di sekolah-sekolah itu, Iko mengedukasi siswa tentang karakter ular dan reptil.


Sebab, menurut Iko, masih banyak masyarakat yang pemahamannya kurang terhadap reptil. Akibatnya banyak reptil yang dibunuh begitu saja. "Saya melihat banyak masyarakat yang membunuh reptil sembarangan. Menurut saya itu karena kurang pemahaman," paparnya.


Pada Januari 2020, Iko mengatakan, banyak keluhan dari masyarakat tentang banyaknya ular. Padahal di bulan Januari memang masa menetasnya telur ular. Namun banyak dari ular-ular yang menetas itu yang dibunuh oleh masyarakat. 


Padahal, menurut Eko, ada salah paham dari masyarakat tentang jenis ular. Dikiranya ular weling, ternyata yang dibunuh ular kadut. Dikiranya ular king kobra, ternyata ular king koros.


"Saya lihat di facebook kemarin pas Januari, banyak masyarakat yang salah paham itu. Dikiranya weling, ternyata ular kadut. Dikiranya ular kobra, ternyata king koros. Padahal ular kadut dan king koros itu tidak berbisa,” jelas Iko.


Ular kadut memang ciri-cirinya sama dengan weling. Sama-sama mempunyai belang. Namun ular kadut tak berbisa. Sementara ular king koros juga mempunyai kemiripan dengan kobra. Sama-sama mempunyai moncong. Namun ular king koros tak mempunyai bisa.


“Digigit ular kadut seribu kali pun tak akan mati. Beda kalau ular weling, digigit sekali mungkin meninggal. Ular king koros yang mirip dengan ular kobra, juga tidak berbisa,” ungkap Iko.


Selain itu, pada Januari 2020 Korek juga mendapat banyak permintaan dari warga. Mereka meminta anggota Korek menangkap ular. “Bulan Januari itu, sangat banyak warga yang minta bantuan ke kami. Bahkan dalam sehari itu, kami bisa menangkap tujuh ekor ular king kobra. Tapi semua masih anak-anak, baru menetas,” jelas Eko.


Dari kecintaannya terhadap ular, Eko sudah berkali-kali diundang ke sekolah-sekolah. Hal itu untuk mengedukasi siswa. Bahkan komunitasnya mendapat penghargaan dari pemerintah kota (pemkot), sebagai komunitas yang bermanfaat bagi masyarakat. “Komunitas kami juga mendapat penghargaan dari pemkot,”  pungkasnya.


 

Editor : adi nugroho
#mojoroto #ular