Selama 17 tahun Jaya Hartono menyimpan jersey Persik ini di kotak khusus. Dirawat dengan hati-hati. Tak boleh juga diminta oleh siapapun. Tapi, demi lelang amal yang digagas Jawa Pos Radar Kediri, salah satu legenda hidup Persik ini rela melepasnya.
Jaya Hartono membentangkan kostum berwarna putih dengan aksen ungu di kedua lengan. Itu kostum yang dipakai tim yang dilatihnya kala itu, Persik, menjadi kampiun kompetisi teratas di Liga Indonesia pada 2003. Satu torehan prestasi yang sangat gemilang kala itu. Apalagi ketika itu Persik tampil sebagai tim debutan. Baru saja promosi dari divisi I.
“Jersey ini punya kenangan yang sangat dalam. Karena itu saya rawat dengan hati-hati,” ucap pesepak bola asal Medan, Sumatera Utara ini.
Ya, kenangan Jaya pada jersey itu sama besarnya dengan kenangan keberhasilan menukangi Persik hingga menjadi kampiun Ligina yang kala itu bernama Liga Bank Mandiri itu. Maklum, bukan hanya tim yang dilatihnya yang berstatus tim debutan. Status pelatih debutan juga dia sandang saat itu. Bagi mantan pemain timnas PSSI ini, Persik adalah tim pertama yang dia latih.
Sebelumnya memang dia telah bergelut dengan skuad berjuluk Macan Putih ini. Di divisi I, perannya juga vital. Selain sebagai asisten pelatih, dia juga merangkap pemain. Pengalaman dan kepemimpinannya membantu Persik melahap gelar juara divisi I. Sekaligus meraih promosi ke divisi utama.
Karena itulah jersey itu memiliki kenangan mendalam di perjalanan karirnya. Perawatannya pun dia lakukan dengan hati-hati. Ditempatkan di kotak khusus. Diperiksa secara berkala. Jangan sampai ada noda ataupun jamur yang datang.
“Ini sangat spesial bagi saya. 17 tahun terus saya simpan. Kalau ada yang minta tidak saya berikan. Meskipun itu saudara atau kerabat saya,” ucap Jaya.
Kini, Jaya pun merelakan jersey bersejarah itu lepas dari tangannya. Dia sumbangkan itu, bersama dengan jaket tim yang juga sama memiliki nilai
sejarah, untuk dilelang oleh tim lelang amal Jawa Pos Radar Kediri. Jaya bersedia melepas karena uang hasil lelang tersebut nantinya akan didonasikan untuk penanganan pandemi Covid-19.
Tak hanya Jaya yang menyumbangkan jersey kenangan juara liga 2003 saat memperkuat Persik. Beberapa anggota tim lain juga melakukan hal serupa. Salah satunya adalah Wahyudi. Kiper legendaris bagi skuad Macan Putih.
Wahyudi, pemain asli Kediri ini, menyumbangkan kostum yang dia pakai saat mengawal gawang Persik di Ligina 2003 itu.
“Sudah ada yang menawar secara pribadi. Meskipun harganya tinggi tapi tak saya berikan. Saya ingin jersey ini dilelang oleh Jawa Pos Radar Kediri untuk dana amal penanganan korona,” ucap pemain yang kini menjadi asisten pelatih Persik itu.
Sama dengan Jaya Hartono, kostum itu sudah dia rawat selama 17 tahun. Sejak Persik menahbiskan diri sebagai kampiun sepak bola tanah air itu. Selama itu dia dengan tekun menjaga kostumnya dari noda dan apapun yang bisa merusak warna atau kualitas kainnya.
Wahyudi sendiri tergolong pemain setia di Persik. Sejak bergabung di divisi I dia tak pernah meninggalkan skuad Macan Putih. Pasang surutnya sebagai pemain dia jalani bersama tim yang menjadi kebanggaannya ini. Pengalamannya tak hanya yang manis-manis saja. Dia juga pernah merasakan pahit bersama Persik. Termasuk sempat tergeser dari posisi kiper nomor satu.
Namun, semangat pantang menyerah membuatnya terus bertahan. Bahkan mampu menyodok kembali sebagai kiper utama. Wahyudi pun sempat merasakan bergabung dengan tim nasional PSSI. Meskipun hanya sebagai kiper cadangan. Hingga gantung sepatu pun Wahyudi tetap membaktikan kemampuannya kepada Persik. Tentu saja bukan sebagai pemain, tapi sebagai pelatih khusus kiper.
“Semoga hasil amal Jersey ini bisa bermanfaat,” pungkas pesepak bola yang punya panggilan akrab Kentang oleh rekan-rekannya ini.
Tokoh yang rela menyumbang barang kenangan tak hanya dari cabang olahraga. Ada pejabat publik yang juga mengikhlaskan barang bersejarahnya untuk lelang amal ini. Ferry Djatmiko salah satunya. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Kediri ini merelakan jaket kulit kenangannya untuk dilelang.
“Jaket ini punya kenangan besar. Karena saya pakai waktu menerima piala Wahana Tata Nugraha dari Presiden Republik Indonesia,” terang Ferry.
Ferry berharap lelang amal untuk penanganan pandemi korona ini bisa sukses. Meskipun dia hanya bisa menyumbang jaket kulit saja. “Semoga yang membeli mendapat berkah,” harapnya. (mahfud/bersambung)
Editor : adi nugroho