Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Aktivitas Komunitas Hidroponik Kota Kediri di Tengah Pandemi Korona

adi nugroho • Minggu, 19 April 2020 | 18:47 WIB
aktivitas-komunitas-hidroponik-kota-kediri-di-tengah-pandemi-korona
aktivitas-komunitas-hidroponik-kota-kediri-di-tengah-pandemi-korona

Semakin banyak orang baik yang bergerak kala pandemi korona. Meski produksi menurun, para petani hidroponik Kota Kediri ini tak meratapi nasib. Mereka justru beramal dengan membagi hasil panen untuk kebutuhan warga yang isolasi mandiri.


 


IQBAL SYAHRONI, KOTA, JP Radar Kediri


 


 


Rumah itu tertutup pagar hitam besi. Lokasinya di RT 28/RW 5 Lingkugan Bence, Kelurahan Pakunden, Kecamatan Pesantren. Dari luar terlihat ada modul pipa yang tertata membentuk tatakan untuk diisi tanaman hidroponik. Namun sepertinya belum selesai. Karena tampak seakan sedang baru dibersihkan oleh pemiliknya.


Di samping rumah, di sebelah utara, terlihat tatakan-tatakan yang tumbuh mekar sayuran seledri. Segar dipandang. Namun belum siap untuk dipanen. "Masuk dulu, Mas," ujar seorang lelaki bertopi.


Ia memperkenalkan diri bernama Purwo Widodo. Lelaki berkaus biru itu adalah petani hidroponik. Ia melakukan hobinya sejak sekitar dua tahun yang lalu. "Untuk hobi saja awalnya," ujar lelaki yang bekerja di bidang marketing tersebut.


Purwo menjelaskan bahwa dirinya belajar bercocok tanam hidroponik di rumah dengan membaca-baca tentang hidroponik. Tertarik, ia pun mencoba sedikit demi sedikit. "Tidak langsung bikin seperti sekarang, dulu ya kecil-kecilan Mas, buat hobi," imbuhnya sembari bercanda.


Namun hobi yang ia lakukan mengisi waktu luang sepulang kerja itu lama-kelamaan ditekuni dan membuahkan hasil. Purwo pun semakin rajin belajar dan mengikuti seminar yang membahas atau mempelajari hidroponik. Di mana pun, apabila waktunya cocok ia selalu mengikutinya.


Dari yang awalnya hanya memiliki satu tempat untuk menanam sayurnya, hingga kini memiliki beberapa medium yang terbuat dari pipa untuk ditanami sayurannya. Dalam satu bulan, kini Purwo bisa meraup keuntungan mencapai Rp 1,5 juta.


Lelaki 44 tahun itu juga tergabung di Komunitas Hidroponik Kota Kediri (Kohikari). Ia saat ini berkedudukan sebagai Plt Ketua Kohikari. Memimpin anggota yang juga menjadi "petani di dalam rumah" masing-masing.


"Anggota juga sudah biasa, menjual panen, dan produksinya saling bertukar, melihat apakah ada yang harus dibenahi dari penyemaian, hingga panen, saling belajar terus Mas," paparnya.


Ditanya soal menghadapi pandemi Covid-19, bapak yang sebentar lagi akan dikaruniai anak keempat ini menjelaskan, tentu saja produksi dan produktivitas menurun. Karena pembelian yang dilakukan biasanya malah lebih banyak dari luar kota. Semakin sulit untuk mengantarkan barang, atau pembeli yang datang ke rumahnya jika datang dari zona merah.


Meski produktivitas menurun, namun Purwo dan para anggota Kohikari tidak ingin terus meratapinya. Beberapa hari yang lalu, ratusan petani hidroponik yang tergabung dalam Kohikari malah sedang sibuk-sibuknya.


Mereka sedang mengirimkan panen sayurannya ke lingkungan yang terdampak Covid-19 di Kota Kediri. Yang terbaru, pada hari Rabu (13/4) lalu. “Kebetulan saat pembagian, saya sedang tidak ikut, namun para anggota yang turun ke lapangan langsung,” terangnya.


Para petani yang juga merupakan anggota Kohikari ini bergerak bersama mengumpulkan sayuran yang panen di kebun hidroponik mereka masing-masing untuk dibagikan ke warga yang terdampak. "Dari Tinalan, di Permata Jingga, Balowerti, Bujel, sampai ke Pojok," papar Purwo.


Sumbangan ke wilayah yang melakukan isolasi mandiri ini diharapkan membantu meringankan beban dan juga secara nutrisi, menyuplai kebutuhan vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk kekebalan. Tubuh yang kebal akan meminimalisir terjangkitnya virus.


Bantuan sayurannya berupa pakchoy, samhong, pagoda, sawi, dan 60-an buah mentimun dengan jumlah total sekitar 70 pak. Selain sayuran, juga ditambah lauk berupa tahu. “Sayuran diambil langsung dari kebun hidroponik para anggota yang sudah panen dan siap disajikan,” urainya.


Ide tersebut tercetus secara spontan. Para anggota yang aktif di dalam grup WhatsApp (WA) itu hanya ingin meringankan beban keluarga dan lingkungan yang terdampak virus korona, dan juga berbagi hasil tanam hidroponik saat di rumah.


Suara ayam terdengar dari sekitar kampung rumah Purwo. Sore itu, ia hendak mengecek kembali sayuran seledri yang tumbuh subur di sebelah rumahnya. Dari empat tempat, tiga sudah kosong karena sudah masa panen. Menyisakan satu area seledri yang berbaris, dan tinggal menunggu waktu untuk dipanen.(ndr)


 

Editor : adi nugroho
#covid 19