Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Penjahit Asal Mojoroto Ini Berjuang Melawan Pandemi Korona

adi nugroho • Rabu, 8 April 2020 | 23:26 WIB
penjahit-asal-mojoroto-ini-berjuang-melawan-pandemi-korona
penjahit-asal-mojoroto-ini-berjuang-melawan-pandemi-korona

Penjahit ini merasa kesal dengan fenomena langkanya masker saat wabah korona mulai merebak. Jalan satu-satunya, menurut penjahit ini, adalah membuat masker sebanyak-banyaknya. Kemudian membagikan secara gratis.


 


SAMSUL ABIDIN, Kota, JP Radar Kediri


 


Namanya  Vitra Akbar Kurniawan. Pekerjaannya adalah penjahit. Tempat kerjanya itu berada di rumahnya, di salah satu gang yang ada Jalan Penanggungan, Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.


Usia Vitra masih tergolong muda, 31 tahun. Dia memiliki usaha jahit jas yang diwarisi dari ayahnya. Namanya, Jas Tailor H Tauchid. Dua pegawai setiap hari membantunya menyelesaikan berbagai pesanan yang dia terima.


Namun, kala ditemui siang itu Vitra tak sedang menjahit jas. Jarum mesin jahitnya menari lincah di sehelai kecil kain. Berbentuk persegi panjang. Dengan tali di empat ujungnya.


Ya, Vitra tengah menjahit masker. Bukan karena dia beralih dari membuat jas ke memproduksi masker. Masker kain itu akan dia bagi-bagikan ke masyarakat. Gratis!


“Saya prihatin melihat masyarakat kita yang kemarin membutuhkan masker, ada (barangnya) namun dengan harga yang tinggi,” ucap lelaki ini menceritakan awal dia akhirnya memilih menjahit masker kain dan membagi-bagikan kepada orang yang membutuhkan.


Keprihatinan itu memang menjadi penggerak hatinya untuk melakukan sesuatu. Dia jengah melihat praktik sebagian orang yang menimbun masker, dan juga hand sanitizer. Padahal banyak orang lain membutuhkan.


“Jalan satu-satunya, menurut saya, bikin sebanyak-banyaknya. Dan kita bagikan gratis,” ucapnya tegas.


Target utama pemberian masker gratis ini adalah mereka yang terpaksa berjibaku di luar rumah. Menyasar kepada orang-orang yang masih berjuang mencari nafkah di jalan di tengah pandemi Covid-19 ini. “Kita bisa melihat kebanyakan pasti ekonomi ke bawah. Saya prihatin makanya saya buat masker tersebut,” ucapnya, di ruang jahit yang dipenuhi barang-barang antik.


Awalnya Vitra bergerak sendiri membagikan masker tersebut kepada tukang becak, pedagang, tukang parkir, dan masyarakat yang membutuhkan. Biasanya berbarengan dengan aksi para pemuda wilayahnya yang bagi-bagi nasi bungkus. Setelah beberapa waktu teman kerja sejenis dengan dirinya ikut tergerak. Juga dari lintas pekerjaan atau profesi.


“Akhirnya daripada nanti saya bagikan sendiri, ayo awake dewe bareng-bareng ben akeh pisan (ayo kita bersama biar semakin banyak, Red),” ucapnya mengulang ajakannya kepada teman-temannya.


Sampai saat ini, total lebih dari 900 masker telah ia distribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Membuatnya sempat kecapekan karena full mengerjakan masker. Sempat dia istirahat sehari penuh tak menjahit masker.


Vitra awalnya membuat masker dua jenis. Berbahan spunbond dan cotton combad. Akhirnya, bahan terakhir itu yang dia teruskan. “Karena lebih dingin dipakai dan ketika dipasang di muka tidak sakit. Dan bisa dicuci jadi gak mubazir,” jelasnya sembari menunjukkan kain tersebut.  


Upaya Vitra ini tak selalu berjalan mulus. Kali ini kendala justru mencari bahan untuk tali masker. Pengiriman dari Surabaya tersendat. “Alhamdulillah banyak teman-teman konveksi yang ada sisa. Kemudian diberikan ke sini,” tambah pria yang menjahit sejak 2009 tersebut.


Sekarang Vitra tak sendiri membagikan masker buatannya. Dibantu komunitasnya yang bernama Brutal Sodaqoh. Mereka juga menyisipkan pembagian hand sanitizer, bahkan sembako, dalam aksinya itu.


“Sudah ada 3 kuintal beras yang kami bagi. Kemarin itu juga ada tambahan mie instan dan juga hand sanitizer juga,” tuturnya sembari menginjak pendal mesin jahit.


“Kami gak hanya kasih sembako, masker, dan hand sanitizer. Namun, juga memberi semangat kepada orang-orang. Sebisa kami,” sambungnya.


Hal serupa juga dilakukan Kurniawan Angga. Pengusaha konveksi di Perumahan Pesona Kota, Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Dia membuat masker dari sisa-sisa potongan kain yang telah dijadikan kaos.


Awalnya dia melihat banyaknya sisa potongan bahan di tempat usahanya yang tak terpakai. Kemudian muncul ide membuat masker dan dibagikan gratis.


“Kemarin itu jadi beberapa ratus dan saya bagikan ke warga sekitar perumahan,” ujarnya.


Di ruangan itu berjajar enam mesin jahit. Juga beberapa tumpukan kain serta beberapa rol benang. Ia menunjukkan bahan kain yang dibuatnya masker. Sembari menceritakan masker buatannya juga dibawa oleh beberapa orang ke Kecamatan Kunjang untuk dibagikan secara gratis.


Angga juga menggunakan kain jenis catton combad dengan alasan agar tidak panas ketika dipakai. “Proses pengerjaannya sekitar 4-5 hari, saat ini belum membuat lagi nanti Insya Allah akan membuat lagi,” ujar laki-laki 38 tahun tersebut.


Ia juga berharap meskipun hal kecil tapi bisa bermanfaat. Dengan memberi masker kepada yang membutuhkan setidaknya bisa membantu berjuang di tengah pandemi seperti saat ini.

Editor : adi nugroho
#mojoroto