Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Upaya Peternak Lele di Ngadiluwih Bertahan dalam Pagebluk Korona 

adi nugroho • Sabtu, 4 April 2020 | 20:22 WIB
upaya-peternak-lele-di-ngadiluwih-bertahan-dalam-pagebluk-korona
upaya-peternak-lele-di-ngadiluwih-bertahan-dalam-pagebluk-korona

Terjangkitnya wabah Covid-19 di Kabupaten Kediri juga menggepur para peternak lele. Mereka sempat kebingungan karena stoknya terimbas. Para distributor bahkan enggan mengambil produk.Bagaimana mereka bertahan?


 


HENGGARTIARSO ROHMAN, KABUPATEN, JP Radar Kediri


 


 


Siang kemarin, Kurniawan Indira Lesmana, 42, peternak lele asal Desa Tales, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, terlihat lesu. Saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri, dia terlihat tersenyum tipis. Walaupun kernyit dahinya menggambarkan kebingungan.


Bagaimana tidak, wabah korona yang menjangkiti wilayah Kediri dan sekitarnya sangat berdampak pada usaha pengembangan ternak lelenya. Dia dan puluhan peternak lain terancam tidak bisa mempertahankan keseimbangan suplai dan siklus produksi.


Di rumahnya, Kurniawan memiliki 40 kolam penangkaran dengan berbagai ukuran. Semua terisi ikan lele. Bahkan empat kolam ukuran 6 x 8 meter siap panen dengan kapasitas produksi sekitar 4 ton. “Namun karena menurunnya jumlah distributor yang mengambil produk, maka yang dapat saya lakukan hanyalah menunggu,” ujarnya.


Meski begitu, ia terus memberi pakan ternak lelenya. Padahal jika lewat masa panen (berat 100 gram per ekor), komoditas lelenya akan mengalami penurunan harga hingga Rp 2 ribu per kilogram (kg)-nya. Dalam kondisi normal, harga jual lele sekitar Rp 16 ribu per kg.  


Di tingkat penjual pasar, ikan lele dihargai Rp 20 ribu per kg. Dari jumlah tersebut akan didapat sekitar 10 ekor lele dengan berat rata-rata 100 gram. “Nilai tersebut cukup murah untuk menyuplai kebutuhan protein dalam rangka meningkatkan imunitas di tengah wabah korona seperti sekarang,” papar pria yang juga menjabat ketua bidang di Asosiasi Pengusaha Catfish Kediri (APCK) ini.


Kurniawan dapat memanen dan memasarkan produknya hingga 25 ton per bulan. Itu dalam kondisi normal. Kini, setelah wabah korona merebak, hanya sekitar 18 ton yang dapat dipasarkan. Dari jumlah tersebut, untuk membuat seekor lele berkembang dari ukuran 10 gram ke 100 gram atau siap panen membutuhkan 100 gram pakan.


Maka untuk memenuhi kebutuhan pakan, Kurniawan membutuhkan 25 ton pakan per bulan. “Ya kalau dikonversikan ke nominal, per bulan bisa mencapai Rp 70 juta hingga Rp 100 juta Mas,” ungkap alumnus Universitas Jember tersebut.


Selain sepinya pasar, bapak empat anak ini juga mengeluhkan harga pakan yang melonjak. Kurniawan menduga, pabrik-pabrik pakan ternak mengimpor bahan-bahan baku dari luar negeri sehingga harganya naik. “Tentu kami sebagai petani lumayan terbebani atas kenaikan harga pakan. Kami nggak bisa jual produk kami, tapi biaya operasional bertambah,” terangnya.


Kurniawan mengakui, kondisi ini juga dirasakan seluruh peternak lele di Kediri. Di bawah bendera asosiasinya, dia telah menghimpun sekitar 70 pengusaha lele, baik skala besar maupun kecil. “Bukan hanya saya yang terdampak, cukup banyak peternak lele di wilayah Kediri sini,” tambahnya.


Data yang dihimpun dari Dinas Perikanan (Disnakan) Kabupaten Kediri, jumlah komoditas ikan lele tertinggi dibanding ikan jenis lain, seperti gurami, nila, dan patin. Setiap tahunnya, peternak lele di Kabupaten Kediri dapat menghasilkan sekitar 14 ribu ton. Itu dari total 19 ribu komoditas ikan segala jenis.


Dari jumlah tersebut, 30 hingga 40 persennya dipasarkan di Jawa Tengah dan sekitar 20 persen ke Surabaya. Dari jumlah tersebut hampir seluruhnya menutup pasarnya, hingga membuat kondisi di wilayah Kediri menjadi overstock.


Kondisi tersebut dibenarkan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kediri Nurhafid. Disnakan juga sedang menyusun strategi untuk mengembangkan kerja sama dengan dinas sosial. Tujuannya, agar bantuan bahan pangan yang diberikan dalam rangka penanganan wabah korona dapat disisipkan ikan lele untuk asupan protein. Selain itu, disnakan telah memulai program gemar makan ikan dengan mengadakan pasar murah untuk menyerap stok ikan lele.


“Sejauh ini sudah kami selenggarakan di wilayah Wates, mungkin akan berlanjut. Kami targetkan dalam 3 bulan diadakan tiga kali dengan target serapan antara 300 hingga 400 kg,” ungkap Nurhafid.


Tindakan disnakan setidaknya sedikit melegakan Kurniawan beserta peternak lain. Namun Kurniawan juga berharap, ada tindakan khusus yang ditujukan untuk menekan biaya operasional bulanan dalam bentuk biaya pakan ternak.


Disnakan kini sedang mengusahakan untuk menekan harga pakan yang meningkat dari kisaran Rp 8 ribu menjadi Rp 10 ribu per kg. “Kami sedang berupaya menegosiasi Gabungan Pengusaha Pakan Ternak untuk membuat harga pakan turun seperti normal kembali. Supaya biaya operasional peternak tidak berat,” jelas Nurhafid.


Menyiasati biaya pakan yang meningkat, Kurniawan sedang mengembangkan pakan alternatif seperti maggot. Usaha tersebut tengah digalakkan oleh pria yang dulu pernah berkecimpung di dunia percetakan bersama warga Desa Tales, Ngadiluwih. Dari budidaya maggot ini setidaknya dapat menghemat 20 persen dari biaya operasionalnya.  


     


 

Editor : adi nugroho
#ngadiluwih #covid 19