Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Warga Desa Gejagan, Loceret Menghalau Korona Masuk ke Rumah Mereka

adi nugroho • Jumat, 3 April 2020 | 18:16 WIB
warga-desa-gejagan-loceret-menghalau-korona-masuk-ke-rumah-mereka
warga-desa-gejagan-loceret-menghalau-korona-masuk-ke-rumah-mereka

Jauh sebelum Kabupaten Nganjuk ditetapkan sebagai zona merah, warga Desa Gejagan, Loceret sudah melakukan antisipasi. Tiap rumah kompak menyediakan sarana cuci tangan dengan peralatan seadanya. Tujuannya satu. Menghalau korona.


 


SRI UTAMI, LOCERET. JP Radar Nganjuk


Deretan timba, jeriken, kaleng bekas tempat cat, hingga guci air terlihat berjajar di depan rumah warga Desa Gejagan, Loceret sejak Sabtu (28/3) lalu. Ukurannya beragam. Ada yang sangat besar, dengan kapasitas hingga 20 liter. Ada pula yang kecil dengan kapasitas sekitar dua liter saja.


Di dekat tempat penampungan air itu ada sabun cair yang disimpan di dalam botol. Botol apa saja digunakan. Tak melulu botol sabun. Tidak sedikit yang menggunakan botol bekas air mineral.


Tanpa tulisan pun, sebenarnya warga yang melintas akan tahu jika benda-benda itu disiapkan untuk cuci tangan. Meski demikian, tidak sedikit warga yang memasang tulisan di sana. Bunyinya, “Silakan cuci tangan di sini”. Bahkan ada yang lebih tegas lagi. “Silakan cuci tangan sebelum masuk rumah”.


Ya, sarana cuci tangan itu memang dipasang untuk menjaga rumah-rumah warga tetap steril dari korona. Karenanya, siapapun yang akan masuk ke dalam rumah harus cuci tangan dengan sabun lebih dahulu. Terutama tamu.


Agar bisa membuat sarana cuci tangan, warga harus rela memodifikasi barang kepunyaan mereka. Kaleng cat, jeriken, timba pun lantas dipasang keran. Tujuannya agar air bisa mengalir dan virus, jika ada di tangan, bisa terbunuh. “Saya punyanya timba. Jadi ya timba dipasang keran. Untungnya punya timba yang ada tutupnya,” ujar Linawati, 39, warga setempat.


Perempuan berambut panjang itu mengaku mendapat pemberitahuan tentang pemasangan sarana cuci tangan dari ketua RT pada Sabtu (28/3) lalu. Seolah dikomando, warga langsung ramai-ramai memasang alat cuci tangan seadanya. “Cuma modal 5.000 beli keran,” lanjut perempuan berkulit sawo matang itu sambil tersenyum.


Sebenarnya, Lina sudah berusaha membeli tempat cuci tangan di sejumlah toko. Tetapi, barang yang memang sedang diburu oleh banyak orang itu mendadak langka. “Dimana-mana habis,” keluh perempuan berambut lurus itu.


Di tengah keputusasaannya, muncul ide untuk memanfaatkan timba yang biasa digunakan untuk mencuci. Timba yang dilengkapi dengan tutup itu lantas dipasangi keran. “Nanti kalau korona lewat bisa ditambal biar bisa untuk mencuci lagi,” paparnya.


Bagi warga, pemasangan alat cuci tangan itu bukan semata-mata taat pada perintah pihak desa. Melainkan, upaya mereka untuk menyelamatkan diri dari korona. “Siapa yang tidak takut. Semua takut terkena korona,” lanjut ibu tiga anak itu.


Hal senada diungkapkan oleh Riyanti Dewi Lestari. Warga RT 07, RW III itu mengaku sudah memasang tempat cuci tangan di depan rumahnya sejak Jumat (27/3) lalu. “Sebelum ada perintah dari RT, saya sudah bikin,” tuturnya.


Perempuan kelahiran 1983 silam itu menyadari jika rumahnya berisiko terpapar virus korona. Sebab, dia membuka warung secara online. Buka hingga dini hari. Sehingga, tidak sedikit ojek online yang datang ke rumah untuk mengambil orderan. “Sebelum masuk saya selalu minta agar cuci tangan. Takut (korona, Red),” bebernya sambil tersenyum.


Jika warga lain menggunakan jeriken dan timba, Yanti, sapaan akrab Riyanti, memilih menggunakan guci air miliknya. “Kebetulan punya dua. Yang satu tidak dipakai. Jadi langsung digunakan,” urainya sembari menunjuk satu guci yang masih digunakan untuk tempat menampung air galon itu.


Dengan kekompakan warga memasang tempat cuci tangan di lingkungan mereka, ibu dua anak itu berharap korona tidak pernah singgah di Desa Gejagan. “Semoga warga sini sehat semua. Virusnya juga cepat hilang agar kita bisa menjalankan puasa dan lebaran dengan tenang,” harapnya.


Kepala Desa Gejagan, Loceret, Dedy Nawan mengaku senang melihat warga mau dengan sadar mengikuti instruksi dari pemerintah desa. “Memang kami instruksikan, biar Desa Gejagan benar-benar bebas dari korona,” tuturnya.


Pria berambut ikal ini memuji kreativitas warga memanfaatkan barang seadanya untuk cuci tangan. “Alatnya memang boleh apa saja. Yang penting warga bisa cuci tangan dengan air mengalir. Karena cara itu paling efektif membunuh virus,” imbuhnya.


Selain meminta warga memasang tempat cuci tangan di depan rumah, Dedy juga melakukan pengawasan yang ketat. Tiap warga diminta mengawasi jika ada orang yang datang atau pergi.


Setelah itu, relawan Covid-19 yang ada di desa akan menindaklanjuti. Bersama bidan desa mereka akan melakukan pemantauan. Dicek kondisi kesehatannya. “Saya juga bagikan selebaran tentang korona. Berapa lama virus bertahan di benda dan pengetahuan lainnya. Agar warga mengantisipasi dan terbebas dari korona,” jelasnya.

Editor : adi nugroho
#kabar nganjuk #radar nganjuk