Konsep pendapa Kabupaten Kediri berbeda dengan daerah lain. Tak menghadap ke selatan, tapi berada di sisi timur. Bergaya Indische Empire Style. Ini jadi hal baru bagi peserta jelajah ‘Tempo Doeloe’.
MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kota, JP Radar Kediri.
Langit Kota Kediri mulai gelap. Tepat ketika puluhan peserta Jelajah Tempo Doeloe berdiskusi tentang tata letak alun-alun Kota Kediri. Benar saja, sedang asyik tanya jawab, hujan pun mengguyur. Lumayan lebat. Membuat diskusi yang berlangsung di area Monumen Mayor Bismo itu harus berpindah.
“Kita langsung ke pendapa saja,” teriak Novi Bahrul Munib, salah satu pemandu jelajah. Novi sapaan akrabnya, menyarankan peserta langsung masuk ke area pendapa Kabupaten Kediri. Yang lokasinya berada tepat di timur alun-alun.
Pendapa memang salah satu tujuan jelajah kali ini. Selain gedung SMP Islam dan Masjid Agung Kota Kediri yang sebelumnya telah disinggahi. Belum banyaknya informasi sejarah dua bangunan itu sepertinya membuat peserta penasaran. Mereka mendengarkan dengan seksama materi sejarah yang disampaikan pemandu dari Komunitas Pasak. Komunitas yang fokus akan pelestarian sejarah dan budaya Kadhiri tersebut.
Di Masjid Agung misalnya. Banyak yang belum tahu bahwa masih ada bagian bangunan masjid yang dipertahankan keasliannya. Lokasinya di barat masjid. Tepat di utara perpustakaan. “Mihrab ini, jika dilihat dari sisi barat maka akan tampak dinding bagian belakang masjid yang masih asli,” terang Novi, yang juga Ketua Komunitas Pasak sembari menunjuk arah mihrab kuno itu.
Masih di Masjid Agung, peserta bisa menggali lebih dalam informasi tentang sejarah masjid. Di ruang arsip berbagai foto pra-pembangunan disuguhkan. Termasuk Beberapa bagian ornamen masjid yang masih terjaga.
Setelah dari Masjid Agung, jelajah dilanjutkan ke alun-alun dan kawasan Pendapa Kabupaten Kediri. Kawasan yang merupakan area kompleks pemerintahan pribumi sejak era Kolonial Belanda.
Di pendapa, peserta disambut hangat oleh Ahmad, yang kesehariannya merawat area utama pendapa. Banyak informasi yang didapat. Eko Priyatno, sejarawan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri yang menjadi pematerinya. Eko menjelaskan tentang arsitektur bangunan pendapa dan rumah dinas bupati. Termasuk diskusi tentang pendirian pendapa secara kosmologi.
“Kediri merupakan salah satu kota tua yang masih mencirikan tradisional dengan menganut konsep-konsep kosmologis. Ini terlihat jelas pada pembagian ruang serta arsitektur bangunannya,” terang Eko di depan peserta jelajah yang duduk bersila mengitarinya. Tepat di tengah pendapa.
Konsep kosmologis ini lebih mudah dikenali sebagai konsep Mancapat-Mancalima (keblat papat-lima pancer). Yang merujuk pada empat penjuru mata angin dengan pusatnya berada di pendapa kabupaten. Secara imajiner, pendapa kabupaten merupakan pusat dari lingkaran mikrokosmos.
“Dengan perwujudan bangunan pendapa yang beratap tajug sebagai gambaran Meru. Dikelilingi oleh alun-alun, Masjid Agung, pasar, serta kampung para abdi bupati,” jelasnya.
Dalam diskusi ini juga membandingkannya dengan tata letak kawasan pemerintahan lain di Jawa Tengah dan kota-kota lain di Jawa Timur. Yang dahulu di bawah pemerintahan Kesultanan Surakarta dan Jogjakarta.
Masih menurut Eko, meskipun menganut konsep simbolis yang sama, bangunan Pendapa Kabupaten Kediri memiliki arah hadap ke barat. Sangat berbeda dengan kota-kota kabupaten tradisional lainnya yang rata-rata memiliki arah hadap ke selatan. Untuk bangunan Rumah Dinas Bupati Kediri berada di sisi timur. Tersambung dengan pendapa dan secara arsitektural bangunan ini memiliki gaya Indische Empire Style yang populer pada sekitar tahun 1800-1915an.
Peserta jelajah tempo dulu kali ini juga mendapat kesempatan istimewa. Mereka diizinkan masuk ke kediaman Bupati Kediri. Tak semua orang bisa masuk bangunan bersejarah ini. Bangunan yang biasanya digunakan untuk pertemuan para pimpinan. Termasuk tamu-tamu negara yang berkunjung.
Kesan jadul di dalam gedung yang dibangun awal abad 19 ini sangat terasa. Ruangannya juga terkesan privat. Dengan nuansa mewah khas rumah dinas pejabat. Sejumlah ornamen yang terpasang menambah kesan eksklusif. Di dalamnya ada beberapa kamar yang tak bisa dimasuki. Salah satunya adalah kamar bupati.
Selain bagian dalam ruangan, peserta jelajah juga dipandu Pak Ahmad keliling area pendapa. Mulai bagian belakang yang terdapat dapur, taman, gazebo, hingga tempat pertemuan abdi pendapa. Termasuk berkeliling bangunan lain seperti kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD), serta kantor Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPKP).
Di kantor DPKP gaya arsitekturnya sudah beda. Eko menyebut bahwa itu merupakan gaya arsitektur yang lebih modern. Masih mempertimbangkan aspek keindahan. Tapi juga telah memikirkan aspek ruang. Gedung ini dibangun pada 1929 hingga 1933. Bisa dilihat pada tulisan angka tahun di bagian depan bangunan.
Kantor dinas yang merupakan bekas gedung Regentschaap Kantoor atau semacam lembaga legislatif di era Belanda itu mengakhiri jelajah tempo dulu kali ini. Langit kembali tak bersahabat. Awan hitam yang tiba-tiba menggelayut itu secara mendadak menurunkan air hujan yang begitu lebat. Membuat peserta kembali ke dalam pendapa.
Editor : adi nugroho