Habib dan Umi baru kali pertama mengikuti kompetisi bahasa Inggris. Namun, pengalaman yang minim itu tak menyurutkan semangatnya. Justru menjadi cambuk tersendiri untuk berprestasi. Hasilnya pun sangat memuaskan!
ANDHIKA ATTAR, TANJUNGANOM. JP Radar Nganjuk
Pondok Pesantren Al-Matlab di Desa Jogomerto, Tanjunganom benar-benar menunjukkan tajinya dalam School Contest XIII. Dua kategori lomba English Star diborong semua oleh lembaga yang belum lama berdiri itu.
Adalah Habib Abdullah Faqih dan Umi Fathanah yang berhasil mengharumkan nama sekolah. Habib menjadi juara satu English Star di tingkat SMA. Sedangkan Ana menjadi jawara di tingkat SMP.
Uniknya, keduanya sama-sama mengaku tidak memiliki banyak pengalaman dalam perlombaan semacam itu. Sekadar pidato memang pernah. Namun, tidak menggunakan bahasa Inggris.
Meski demikian, hal itu tidak membuat mereka menjadi inferior. Berasal dari lembaga yang baru berdiri empat tahun lalu, keduanya berhasil mengalahkan peserta-peserta lain. Notabene, kompetitor yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
“Lawannya hebat-hebat semua. Saya pribadi tidak menyangka bisa juara,” aku siswa kelas 1 SMA tersebut kepada Jawa Pos Radar Nganjuk. Senada, Ana pun merasakan hal yang sama dengan seniornya tersebut.
Dalam lomba itu Habib memilih untuk bercerita tentang legenda Dewi Sekartaji. Pasalnya, ia mengaku telah seringkali mendengar dan tertarik dengan cerita asal Kediri tersebut. Meski, ia sendiri merupakan anak kelahiran Lamongan.
Sementara itu, gadis 14 tahun di dekat Habib lebih memilih membawakan sebuah monolog. Isi cerita yang dibawakannya merupakan olah pikirnya dan sang pembimbing. Monolog bercerita tentang seorang perempuan yang bercita-cita menjadi seorang ratu di sebuah kerajaan.
Berbagai persiapan dan latihan pun dilakukan keduanya bersama pembimbing mereka. Sayangnya, mereka tidak mempunyai waktu yang lama di tahap seleksi. “Semingguan saja latihan awal,” celetuk remaja putra berusia 17 tahun tersebut.
Pasalnya, fokus mereka harus terpecah juga untuk ujian tengah semester (UTS). Kebetulan, jarak antara UTS dan seleksi awal lomba tidak berselang begitu jauh. Mereka pun berusaha keras memutar otak untuk dapat melaksanakan keduanya dengan maksimal. “Akhirnya fokusnya dibagi-bagi. Pertama, fokus dulu di UTS. Habis itu baru fokus ke lombanya,” timpal gadis asal Tangerang tersebut.
Kesulitan yang dialami keduanya pun bervariasi. Hanya saja, mereka sama-sama mengaku cukup tertantang untuk menuangkan emosi dan rasa ke dalam cerita. Terlebih, menanamkan karakter dalam cerita dan monolog yang dibangun.
Adapun mengubah cerita ke dalam bahasa Inggris bukan lagi jadi kesulitan bagi muda-mudi ini. Sebab, di Ponpes tempatnya belajar tersebut, penggunaan bahasa Inggris sudah menjadi keseharian.
Di sana, murid diwajibkan dua minggu berbahasa Arab, lalu dua minggu berbahasa Inggris. Praktis, setidaknya dalam hal pengucapan dan kepercayaan diri, keduanya tidak begitu terbebani.
“Tantangannya justru berubah pada karakter dan suaranya kalau saya. Soalnya karakter dalam cerita Dewi Sekartaji kan tidak cuma satu saja,” beber Habib.
Praktis, ia harus mencari cara dan mengulang berkali-kali hingga mendapatkan karakter suara yang paling pas. Hal senada juga dirasakan Ana. Meski hanya monolog dari satu karakter saja, namun menanamkan emosi dalam cerita juga tak kalah pentingnya. Pasalnya, ia tida ingin cerita yang dibawakannya hanya datar-datar saja. “Bermain rasa dan emosinya itu cukup susah,” akunya.
Dalam sehari, keduanya bias berlatih sampai lebih dari tiga-empat jam. Mereka tidak ingin hanya menjadi penggembira saja. Meski, pihak ponpes tidak menuntut keduanya untuk menjadi juara. Mereka meyakini proses adalah yang utama dibandingkan hasil.
“Yang penting berusaha keras. Hasilnya seperti apa, kita terima saja,” ujar Habib dengan bijak. Ya, memang usaha tidak mengkhianati hasil. Terbukti, kerja keras keduanya membuahkan hasil yang maksimal. Baik untuk diri mereka sendiri, maupun bagi lembaganya.
Harminto, 30, pembimbing Habib dan Ana menyebut, pihak Ponpes AL-Matlab memang menfasilitasi pengembangan bakat dan minat siswanya. Termasuk dengan cara mengikuti lomba-lomba semacam ini.
“Kami tawari ikut lomba, ternyata respons mereka positif. Tentu kami akan memfasilitasinya, asal konsekuen dan mau bersungguh-sungguh,” tutur Harminto.
Baginya, pendidikan karakter semacam itulah yang dibutuhkan siswa pada zaman sekarang ini. Sementara gelar juara sendiri hanyalah bonus semata. Bukan tujuan akhirnya.
Editor : adi nugroho