Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Saat Adik Pramoedya, Soesilo Toer, Kunjungi Kerabatnya di Kediri

adi nugroho • Senin, 2 Maret 2020 | 20:15 WIB
saat-adik-pramoedya-soesilo-toer-kunjungi-kerabatnya-di-kediri
saat-adik-pramoedya-soesilo-toer-kunjungi-kerabatnya-di-kediri

Pagi itu (29/2), lelaki yang disapa Soes dan anak semata wayang, Bene Santoso yang menemaninya bergegas. Mobil sewaan yang akan mengantarnya pulang ke Blora sudah harus berangkat pukul 09.30 WIB. Karena itu dia memanfaatkan waktu sebaik-baiknya saat mengunjungi rumah kerabatnya di Ngadiluwih, Kabupaten Kediri.


“Kakek saya bernama Imam Badjoeri. Dulu penghulu agama di sini,” cerita pemilik nama lengkap Soesilo Toer itu saat berada di rumah kerabatnya, Elyzabet.


Elyzabet, 50, terhitung sebagai keponakan Soes.“Kalau yang ngasih tahu (ada) keluarga di sini itu Pak  Koesalah. Dulu pulang dari Rusia berkeliling mencari keluarga. Salah satunya ya di Kediri ini,” sambung Soes.


Koesalah yang disebutnya itu adalah sang kakak, Koesalah Toer. Yang juga sempat kuliah di Rusia seperti dirinya.


Soes dan Elyzabet pun bercerita banyak tentang keluarga mereka. Namun keduanya tak tahu kapan tepatnya Imam Badjoeri meninggal.Yang diingat Soes, kakeknya itu punya sembilan anak. Yang sulung adalah Mas Toer, ayahnya, yang lahir 1896. “Jadi kakek saya pasti lahir jauh sebelum itu,” ucap Soes kepada Jawa Pos Radar Kediri.


Meskipun berdarah Kediri, Soes ternyata baru dua kali menjejakkan kaki di Tanah Dhaha ini. Yang pertama kali kala dia bertugas mengantarkan mebel yang dijual tetangganya. Kebetulan pembelinya orang Kediri.


“Tetangga saya itu punya usaha mebel. Terus dulu saya mengantarkan mebel itu ke Kediri. Tapi lupa tahun berapa itu,” ungkap Soes sembari berusaha mengingat-ingat.


Perjalanan hidup Soes sangat berwarna. Pemilik gelar master dari University Patrice Lumumba dan doktor bidang politik ekonomi dari Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov Uni Soviet ini sempat terpuruk. Baik dari sosial maupun ekonomi.


“Saya ini dosen, dodolan sendok. Selain itu juga rektor, ngorek-ngorek barang kotor,” cetuspria yang pernahtinggalselamasebelastahun di Rusiaini.


Memang, sepulang dari Rusia, setelah peristiwa G 30 S PKI pada 1965, Soes pernah menjadi tahanan politik. Pulang pada 1973 dia kemudian dipenjara hingga 1978. Tuduhannya sama seperti yang ditimpakan pada sang kakak, Soes dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI).


Kini, Soes berusaha menjalani hari-hari tuanya dengan produktif. Dia tak bisa melepaskan diri dari aktivitas literasi. Soes tengah menerjemahkan novel Maxim Gorky berjudul Detstvo Gorkogo (1938).


Kepada Jawa Pos Radar Kediri, Soes juga bercerita bahwa dia sangat gemar dengan sastrawan Rusia seperti Tolstoy, Alexander Kuprin, atau Alexander Bunny. “Kebanyakan tulisan sastrawan yang saya baca merupakan pengarang dari cerita pendek,” ungkap Soes.


Punya keinginan menulis tentang Kediri? Soes hanya menjawab singkat. “Lihat saja nanti.”


Yang pasti, saat ini Soes bercerita tengah menulis kronik tentang hidupnya. Judulnya, Lelanange Jagad. Novel tersebut sudah sampai sekitar  500 halaman. Kata Soes, novel tersebutakandiatulissampaisekitar 1.000 halaman. “Tidak tahu ya kapan selesainya.Rencana novel itusampai 1000 halaman kalau belum meninggal,” canda Soes.


Sabtu lalu (29/2), Soes sempat diajak Elyzabet melihat makam keluarga. Lokasinya di belakang Masjid Daarul Jalaal, Jalan Tambangan, Desa/Kecamatan Ngadiluwih. Sekitar 200 meter dari rumah Elyzabet.


Sayang, saat di lokasi keduanya tak menemukan pusara yang bertuliskan nama Imam Badjoeri. Menurut Elyzabet, makam tua memang nisannya tak diberi nama. Namun dia yakin salah satu makam itu milik Imam Badjoeri.


Dalam perjalan kembali ke rumah Elyzabet, Soes sempat melihat sendok tergeletak di jalan. Lelaki 83 tahun ini kemudian memungutnya. Sembari bercanda, dia mengatakan kepada Elyzabet bahwa di Blora dia memiliki kesibukan mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual lagi.


Soesilo Toer datang di Kediri Jumat (28/2). Dia menjadi menjadi pembicara dalam acara ‘Ngobras, Menggugat Pram (Memoar Pramodya Ananta Toer)’ yang berlangsung di GNI Kota Kediri. Di sela-sela waktu itulah dia menyempatkan diri mendatangi kerabatnya Sabtu lalu (29/2).


 


Sang Ayah Bercita-cita Jadi Penghulu


 


Seandainya saja cita-cita Mas Toer, ayah Soesilo dan Pramoedya Ananta Toer, terwujud, bisa saja kisah hidup mereka berbeda. Sebab, Mas Toer bercita-cita menjadi penghulu agama. Persis seperti ayahnya, Imam Badjoeri.


Namun nasib berkehendak lain. Atas saran orang Belanda, Mas Toer melanjutkan sekolah di Jogjakarta. Masuk Kweekschool yang merupakan sekolah untuk jadi guru.


“Orang Belanda dulu yang mengarahkan ayah itu. Kalau jadi penghulu agama, nanti adik-adikmu mau kamu kasih makan apa? Lalu dibantulah ayah saya untuk sekolah di Jogjakarta,” terang Soes.


Sepulang dari Jogjakarta, Mas Toer sempat menjadi guru di Kediri. Mas Toer mengajar di Kediri selama dua tahun. Namun Mas Toer yang berasal dari keluarga miskin tersebut malu saat tetangganya memanggil meneer.


“Berangkat kere, pulang kok dipanggil meneer. Jadi ayah kan malu,” cerita Soes.


Suatu saat, masih menurut Soes, ayahnya mendengar Kartini meninggal dan mengiring ke pemakaman hingga belasan kilometer panjangnya. Dari situlah akhirnya Mas Toer tertarik tinggal di Blora, Jateng.


Mas Toer pun pergi ke Blora. Di sana dia menjadi guru Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Selanjutnya Mas Toer bertemu dengan Siti Sa’adah, muridnya. Yang kemudian dinikahinya. Siti Sa’adah berasal dari keluarga yang sama dengan Mas Toer, yakni penghulu agama.


Selama di Blora, Mas Toer terlibat di banyak organisasi. Dia merupakan salah satu pengurus Partai Nasionalis Indonesia (PNI) di Blora. Selain itu, Mas Toer juga menjadi salah satu penggagas dibentuknya Nahdatul Ulama (NU) di Blora. “Bapak saya dulu itu juga pendiri Nahdatul Ulama di Blora,” terang Soes kepada Jawa Pos Radar Kediri.


Dari Mas Toer dan Siti Sa’adah lahir keluarga ‘mafia’ sastra, begitulah Soes menjuluki saudara-saudaranya. “Dari delapan bersaudara, enam saudara merupakan pengarang. Tidak ada keluarga yang seperti itu. Salah satu yang kelas hiu itu, ya, Pramoedya (Ananta Toer) itu,” terang Soes.


Soes menduga, Pram pernah berkunjung di Kediri saat Jepang mendarat di Hindia Belanda. Sebab, saat itu Pram yang bersekolah di Surabaya menjadi buronan Jepang. “Saat itu kan Pram ikut berjuang. Nah pas dikejar Jepang kemungkinan Pram lari ke sini (Kediri, Red),” jelas Soes.


 


Tentang Soesilo Toer


 



Lahir           : Blora, 17 Februari 1937
Orang tua    : Mas Toer - Siti Sa’adah


Saudara       :
1. Pramoedya Ananta Toer
2. Prawito Toer
3. Koen Marjatoen
4. Oemi Sjafaatoen
5. Koesaisah
6. Koesalah Toer
7. Soesilo Toer
8. Soesetyo
9. Soesanti

Pendidikan:
- Taman Siswa Jakarta (SMP)
- Taman Madya (SMA)
- Jurusan Ekonomi Universitas Indonesia
- Akademi Keuangan Bogor (1959-1960)
- Universitas Patrice Lamumbu Uni Soviet (1962-1967)
- Institut Plekhanov Uni Soviet


 


Karya:
- Komponis Kecil dan Cerita-cerita Lain (1963)
- Suka Duka si Pendir (1963)
- Pram dari Dalam (Februari, 2013)
- Pram dalam Kelambu (Februari 2015)
- Pram dalam Bubu (April, 2015)
- Pram dalam Belenggu (2016)
- Pram dalam Tungku (2016)
- Dunia Samin (2016)
- Anak Bungsu (2017)
- Republik Jalan Ketiga (2017)


 

Editor : adi nugroho
#ngadiluwih #masjid #rusia