Tiga aksara di prasasti itu tak hanya menunjukkan informasi pendirian pesantren. Tapi sekaligus menunjukkan tiga generasi dari keturunan pendiri pondok pesantren.
MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri
Suasana di Pesantren Bahrul Ulum, Desa Klampisan, Kecamatan Kandangan masih terasa asri. Di sekelilingnya masih berupa persawahan. Membuat para penghuni pondok, atau yang mengunjunginya, termanjakan pandangan matanya. Menatap hamparan padi yang, saat ini, mulai mengeluarkan bulirnya itu.
Jalanan menuju ke pondok yang baru diresmikan dua hari lalu, Kamis (20/2) itu juga masih berupa jalan setapak. Belum dibeton atau beraspal. Masih berupa tanah yang dipadatkan. Juga, tak ada gapura besar yang berdiri di pangkal jalan menuju pondok ini. Yang biasanya dibuat untuk menjadi penyambut tamu yang datang.
Bangunan pondok pesantren ini juga masih sederhana. Jauh dari kesan mewah dan mentereng. Tapi itu justru membuatnya seperti menyatu dengan alam.
Selain itu, di balik kesederhanaan penampilan pondok ini, ada benda yang sangat menarik perhatian. Terutama ketika memasuki kawasan pondok. Ada sebuah batu hitam besar yang terpajang tepat di halaman depan. Berada di depan pintu masuk. Benda yang seolah menjadi penanda sekaligus ikon pesantren ini.
Bila memandang dari kejauhan, memang, tak ada yang istimewa pada batu hitamitu. Namun, ketika mendekat barulah pendapat kita akan berbeda dari sebelumnya. Batu hitam itu memiliki sesuatu yang menarik di permukaannya.
“Ini adalah prasasti. Penanda peresmian pondok pesantren ini,” kata Nur Habib, sekretaris Lesbumi PCNU Kabupaten Kediri, yang juga penggagas keberadaan prasasti dari batu hitam itu.
Tak seperti prasasti pada umumnya, yang menarik dari batu berdimensi lebar hampir 3 meter dan tinggi 2 meter ini adalah dari segi penulisan. Yakni menggunakan tiga aksara sekaligus. Dua di antaranya sangat khas seperti halnya prasasti peninggalan zaman kuno.
“Ditulis dengan tiga aksara. Jawa kuno, arab pegon, dan huruf atin,” jelas Habib.
Tentu saja penggunaan tiga aksara itu punya maksud. Karena tiga aksara ini memiliki filosofi bagi sang pendiri pondok pesantren. Tak sekadar menunjukkan informasi pendirian pesantren. Namun juga menunjukkan tiga generasi dari keturunan pendiri pondok pesantren.
Yang tak kalah menarik, prasasti ini berasal dari batu alami yang diambil dari Kali Konto. Satu sungai yang berhulu di lereng Gunung Kelud. Lokasinya pun juga tak jauh dari pondok pesantren, yakni tak lebih dari 1 kilometer.
Kiai Moch. Riyadh Auwibi menyebut bahwa dari sisi penulisan tiga aksara inim masing-masing memiliki makna. Ditulis dalam Arab Pegon adalah semangat dakwah Agama Islam. Untuk aksara Jawa kuno dia menyebut sebagai alat untuk melestarikan kebudayaan Jawa. “Sementara huruf latin dengan Bahasa Indonesia merupakan bentuk rasa nasionalisme,” jelasnya.
Singkatnya, makna dari prasasti tiga aksara ini adalah tidak melupakan sejarah dalam berjuang menegakkan Islam secara patriotisme. Sehingga santri yang menimba ilmu di tempat ini diharapkan mendapat sesuatu yang lebih. Selain mendapat ilmu agama juga tetap mempertahankan nilai-nilai budaya sekaligus menjunjung tinggi nasionalisme.
Editor : adi nugroho