Kondisi cabai rentan akan hama penyakit. Petani pun harus mencari akal untuk memberantas hama tersebut. Salah satunya lewat kapur barus yang diikat di pohon.
SAMSUL ABIDIN, KABUPATEN, JP Radar Kediri
Pagi itu (17/2) cuaca panas menyelimuti kawasan persawahan di Desa Susuhbango, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri. Panas yang menyengat tak membuat petani cabai beranjak dari tanaman di depannya. Dengan sabar, mereka memetik satu per satu cabai dan dimasukkan ke dalam keranjang.
Di antara lebatnya dedaunan pohon cabai tersebut, terlihat dua sosok yang tengah asyik memetik cabai-cabainya. Sepasang suami istri tersebut nampak begitu menikmati pekerjaanya.
Tampak beberapa pohon cabai tanaman milik keduanya roboh, karena tidak bisa menahan rindangnya dedaunan sekaligus buahnya yang banyak. Cabai Prentul namanya, jenis cabai yang ditanam oleh Solehah, pemilik kebun cabai tersebut.
“Cari apa mas ?” ucapnya dengan ramah sembari memetik cabai merah di tangkai pohon cabai itu. Ia lantas memasukkan cabai-cabai yang penuh digenggamnya ke wadah yang terbuat dari karung sak yang ia lilitkan di badannya.
Perempuan berumur 48 tahun ini tak sendiri. Ia ditemani sang suami, Bibit namanya. Warga Desa Kanigoro, Kecamatan Kras ini juga petani padi. Solehah menceritakan bagaimana ia dan sang suami mengelola kebun cabai miliknya. Di tengah harga yang sedang turun seperti sekarang ini. “Kalau harganya saat ini, ya lumayan lah daripada tahun sebelumnya,” ujarnya sembari menyeka keringat yang jatuh karena teriknya panas matahari.
Perempuan berkerudung oranye ini mengaku bersyukur dengan harga saat ini meski mengalami penurunan harga. Ia mengaku pernah menjual cabai Prentul miliknya dengan harga tertinggi beberapa minggu lalu. “Sempat jual sampai Rp 73 ribu per kilogram Mas, alhamdulillah bisa dapat untung lumayan,” ucapnya sembari menebar senyum dan terus memetik buah yang mengandung capcaisin ini.
Cabai Prentul yang ada di tanahnya sudah tak berbuah banyak, karena lima hari yang lalu telah dipanen. “Ini mulai petiknya dari jam 5 pagi, kurang lebih ini tanahnya 150 ru. Banyak yang roboh mas, karena gak dikasih peyangga,” sela Bibit.
Peyangga yang dimaksud Bibit adalah semacam bambu yang dibelah dan ditempatkan di antara pohon cabai. Dia juga mengungkapkan lahan yang ada di sekitar kebun cabai ini ditanami tebu dan juga padi. “Yang nanam cabai kalau di sini sedikit, sebagian besar tanaman tebu dan padi. Di sana saya juga tanam padi, sudah waktunya panen juga,” ujarnya sembari menunjuk ke arah selatan kebun cabainya.
Solehah dan Bibit mengaku bisa mendapat hasil sebanyak 2 kwintal untuk satu kali panen cabai Prentul ini. Sehingga bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Terakhir ia menjual cabai jenis ini dengan harga Rp 29 ribu. “Kalau ukuran cabai Prentul ini kan lebih besar Mas, dan perawatannya mudah daripada cabai jenis yang lain,” ucap keduanya diiringi kicau burung-burung.
Mereka menjelaskan biaya perawatan cabai Prentul ini cukup Rp 1 juta untuk luas tanah tersebut. Berbeda dengan biaya perawatan cabai besar yang bisa mencapai Rp 5 juta sekali perawatan.
Namun, keduanya juga mengalami kendala apalagi jika tanaman cabainya terkena penyakit. Di antaranya jamur cabai, cabai berbintik hitam kemudian busuk, beketek, menyeng (sejenis lalat buah) dan kupu daun. Namun tak hanya itu, tikus pun ikut memakan cabai tersebut dan menjadi hama.
Tapi Solehah dan Bibit tak pendek akal. Keduanya punya cara jitu untuk menangkal tikus dan juga beberapa penyakit itu, yakni dengan cara menaruh kamper (kapur barus). “Ya itu gunanya untuk ngusir lalat buah dan terutama tikus mas, karena tikus itu gak suka sama bau wangi. Caranya dua buah kapur barus itu dimasukkan ke plastik kecil,” terang Solehah sembari memasukkan cabai Prentul tersebut ke wadah yang lebih besar.
Lantas kamper tersebut diikat ke batang pohon cabai, dengan dikasih jarak enam sampai delapan pohon cabai. Terbukti hal tersebut ampuh mengusir tikus dan juga lalat buah. Cara tersebut awalnya mereka coba-coba dan juga tahu dari para petani cabai lainnya.
Keduanya lantas bergeser ke tempat karung sak tempat keduanya menaruh cabai. Mereka mengaku menjualnya ke pengepul yang berada di selatan pasar Sambi, Ringinrejo. “Dibawa ke pengepul mas, diwadahi kresek besar masing-masng 10 kilogram. Ada juga yang diwadahi kardus buat dikirim ke luar kota,” jelas Solehah sembari menarik tali yang digunakan untuk mengusir burung-burung yang hinggap di padinya yang telah menguning.
Editor : adi nugroho