Sujono tak menyangka pekarangan belakang rumahnya berserak benda-benda kuno. Ditengarai bernilai sejarah, gerabah, pecahan keramik, terakota, dan umpak itu baru terkuak dari dalam tanah setelah terkena air hujan.
RENDI MAHENDRA, Kabupaten, JP Radar Kediri
Sore itu rintik hujan mengguyur Dusun Nepen, Desa Krecek, Kecamatan Badas. Tak terkecuali membasahi pekarangan rumah Sujono, 55, warga setempat. Pekarangan yang berada di barat rumahnya tersebut, Jumat (31/1) lalu, digali oleh komunitas pencinta sejarah.
Proses penggalian tak lebih dua meter di kedalaman tanah, namun telah ditemukan benda-benda yang diduga bersejarah. Bentuknya berupa gerabah, pecahan keramik, terakota, lumbang, batu penumbuk, umpak, serta potongan batu pipisan. Benda-benda tersebut masih dibiarkan berserakan di pekarangan.
Penemuan tersebut bermula saat Riza, 26, dan Roby 13, keduanya putra Sujono, curiga dengan lumpang dari batu andesit yang tersingkap dari tanah. Batu tersebut terlihat setelah terkena hujan yang membasahi di pekarangan rumah.
“Selain itu saya juga ada firasat Mas, kalau bakal ada benda-benda lain yang tersingkap,” jelas Riza.
Selanjutnya Riza mengabarkan hal tersebut ke salah satu anggota komunitas pencinta sejarah. Setelah dilakukan survei di sekitar pekarangan rumahnya, Riza beserta komunitas tersebut berhasil menemukan benda lain. Yakni, berupa gerabah, pecahan keramik, terakota, lumpang, batu penumbuk, umpak, serta potongan batu pipisan.
“Sekitar delapan orang yang datang kemari untuk menggali dan survei,” jelas Riza.
Haris, 28, tetangga Roby, yang juga mencintai sejarah, mengatakan bahwa di pekarangan tersebut pernah ditemukan benda-benda bersejarah. Hal tersebut bersamaan dengan penggalian kolam ikan pada sekitar 2009.
“Bisa jadi benda tersebut merupakan galian lama Mas. Dulu pas saya masih SMA, sekitar tahun 2009, di pekarangan rumah ini kan ada penggalian untuk kolam ikan. Nah saat itu banyak ditemukan benda-benda bersejarah seperti gerabah,” terang alumnus UIN Sunan Ampel, Surabaya tersebut.
Bermula dari penemuan tahun 2009 itu, banyak yang berdatangan ke tempat tersebut. Bahkan, menurut Haris, banyak pendatang dari luar kota. Mereka berniat untuk mengambil benda bersejarah tersebut.
“Ada yang datang kemari sengaja untuk mengambil perhiasan dari emas serta mahkota. Mahkotanya kalau ndak salah dibawa orang Ngawi,” ungkapnya.
Selain itu, menurut Roby, ayahnya pernah menemukan batu andesit dengan lambang suryakala Majapahit. Tetapi batu tersebut dibuang ke dalam kolam ikan yang sudah tidak terpakai dan bertumpukan sampah. “Akibat membuang batu itu, ayah saya sakit,” kenangnya.
Haris berharap, dari dinas terkait menindaklanjuti temuan tersebut. Sebab, menurutnya, di sekitar tempat tersebut masih berpotensi menyimpan benda-benda lain yang belum ditemukan. Selain itu, agar benda-benda tersebut tidak diambil untuk kepentingan pribadi.
“Kami berharap ada tindak lanjut dari dinas terkait. Sebab dari di daerah sini masih berpotensi ditemukan benda-benda lain. Selain itu agar tidak benda-benda tersebut tidak diambil kepentingan pribadi,” jelas Haris.
Sementara itu, menurut Eko Priatno, arkeolog dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, untuk memastikan status benda tersebut perlu pengecekkan langsung.
“Butuh dilihat dulu Mas, dan kalau benar itu lumpang batu, maka pemakaiannya sudah awal abad 20. Jadi belum tentu cagar budaya,” jelasnya.
Editor : adi nugroho