Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Intan Zahra, Bocah Penderita Tumor Perut yang Sabar Menunggu Operasi

adi nugroho • Selasa, 7 Januari 2020 | 20:38 WIB
intan-zahra-bocah-penderita-tumor-perut-yang-sabar-menunggu-operasi
intan-zahra-bocah-penderita-tumor-perut-yang-sabar-menunggu-operasi

Perutnya yang kian membesar tak menghalangi semangat bocah kelas 5 MI ini. Pun dengan kondisi yang membuatnya hanya bisa berbaring di ranjang. Semangatnya tetap bersemi sembari menunggu jadwal operasi yang, konon, berlangsung akhir bulan ini.


 


MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri


 


Tubuh Intan tak banyak bergerak. Ia hanya bisa terbaring di ranjang. Dalam kamar berukuran 2x3 meter di rumahnya di Dusun Bukaan, Desa Keling, Kecamatan Kepung.


Sore itu, matanya mengatup rapat. Dua wanita dengan sabar menemani di tepi ranjang. Duduk bersimpuh di samping bocah kelas 5 madrasah ibtidaiyah (MI). Salah seorang wanita itu adalah sang ibu. Sedangkan yang satu lagi adalah sang nenek.


Sesekali gadis 11 tahun itu menggerakkan badannya. Tangannya bergerak. Memegangi perutnya. Mungkin, tengah merasakan sakit yang diderita.


“Biasanya memanggil saya atau bapaknya untuk pegang perut. Meminta sambil membaca salawat,” kata Eka Rahmawati, sang ibu. Saat mengatakan itu tangan Eka mengelus lembut rambut putri semata wayangnya itu.


Mendengar salawat itu menjadi salah satu cara yang membuat Intan lebih tenang ketika merasakan sakit pada perutnya yang terserang tumor itu. “Katanya lebih adem,” imbuh Eka.


Intan adalah putri pasangan Sabikis dan Eka Rahmawati. Gadis kecil ini tak bisa beraktivitas seperti biasanya saat ini. Itu setelah dokter memvonisnya ini terserang tumor perut pada September 2019 lalu. Suatu penyakit yang bisa terbilang langka.


Rasa mual sering dirasakan Intan. Kondisi inipun membuat nafsu makannya turun dan membuat tubuhnya semakin kurus. “Mulai Desember terasa mual dan tidak mau makan. Kalau duduk juga kecapekan,” ujar Eka, yang matanya berkaca-kaca ketika mengatakan hal itu.


Tentu saja, mendengar anak tunggalnya divonis tumor perut membuat Eka shock. Merasa terpukul. Apalagi kondisi ekonomi keluarga dibilang kurang mampu. Ayah Intan, Sabikis, selama ini bekerja serabutan. Setiap hari berusaha mengumpulkan dana dengan kerja menjadi pengangkut pasir. Tentu untuk persiapan mengantar putrinya operasi di Malang dua minggu lagi.


“Alhamdulillah banyak yang membantu. Termasuk dalam proses mengurus jaminan kesehatan,” sebutnya.


Ada juga kelompok relawan yang peduli dengan kondisi putrinya itu. Hanya saja, dengan keterbatasan biaya dan kondisinya saat ini dia harus mengantre untuk mendapat jadwal operasi. Padahal ia sudah beberapa kali datang ke RS Syaiful Anwar Malang. “Tapi saat itu belum sempat ditangani karena ada berkas yang kurang,” ujarnya.


Padahal, kondisi Intan semakin memprihatinkan. Namun Eka tak bisa berbuat banyak dan harus tabah menunggu jadwal pemeriksaan yang rencanannya pada 20 Januari nanti. “Kalau dioperasi langsung tidak bisa. Sebenarnya melihat kondisi anak saya sudah tidak tega,” sebutnya.


Eka hanya bisa berdoa, mendapat yang terbaik pada putrinya yang selama ini dikenal aktif dan kreatif itu. Memang, tak hanya di sekolah, saat di rumah pun Intan termasuk anak yang rajin dan kreatif. Bahkan selalu mendapat jajaran peringkat atas di sekolahnya, MI Taufiqiyatul Asna.


“Anaknya kreatif, kalau di rumah suka buat kerajinan. Membuat lukisan kaligrafi serta bunga dan pigora dari kertas,” sebut ibu 32 tahun ini.


Dan yang selalu diingat Eka, ketika pergi ke rumah sakit, Intan selalu tak lupa meminta untuk dibawakan Alquran. Sedikit-sedikit ia membacanya. Termasuk ayat-ayat pendek. Menurut Eka, itu bisa membuat nyaman putrinya.


Meski dalam keadaan seperti itu, gadis kelahiran 16 Agustus 2008 ini tampak tabah. Ingin tetap berkreasi untuk menghilangkan penat. Semangatnya itu menjadi kekuatan orang tuanya sebelum operasi dilakukan dalam waktu dekat ini.

Editor : adi nugroho