Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sengatan Racunnya Mematikan, Waspada Serangan Tawon Endhas di Kediri

adi nugroho • Minggu, 29 Desember 2019 | 04:38 WIB
sengatan-racunnya-mematikan-waspada-serangan-tawon-endhas-di-kediri
sengatan-racunnya-mematikan-waspada-serangan-tawon-endhas-di-kediri

Di Kediri, tawon affinis alias tawon endhas tiba-tiba menyerang warga. Sarangnya banyak ditemukan dekat pemukiman. Beberapa disengat sampai dirawat inap di rumah sakit.


 


Tahun ini, menurut Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Daha Husada Kediri Tri Maharani, pasien rawat inap akibat sengatan tawon affinis di rumah sakit (RS)-nya sebanyak 10 orang. Jumlah itu sebenarnya masih bisa bertambah. “Karena ada yang tidak dibawa (ke RS),” kata dokter perempuan yang akrab disapa Maha ini.


Dari jumlah itu, Maha merinci, sebanyak tujuh pasien anak-anak dan tiga dewasa. Mereka rata-rata menjalani rawat inap di RS Jalan Veteran, Kota Kediri itu selama 2-3 hari. “Karena perlu observasi lebih dulu,” ujar dokter ahli toksinologi alias ilmu tentang bermacam racun ini.


Dalam beberapa bulan terakhir di Kota Kediri, ada lima sarang tawon endhas itu yang dimusnahkan. Dua di antaranya ditangani satpol PP. Sisanya sudah dievakuasi badan penanggulangan bencana daerah (BPBD).


Menurut Kabid Ketenteraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Satpol PP Kota Kediri Nur Khamid, sarang tawon ditemukan di atas pohon. Lokasinya tidak jauh dari rumah warga. “Di Kelurahan Semampir (Kecamatan Kota), (tawon) bersarang di pohon mangga,” ungkapnya.


Begitu pula kasus sarang lebah yang ditangani BPBD. Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Adi Sutrisno mengatakan, di Bangsal, Kecamatan Pesantren, tawon bersarang di pohon mahoni. “Sarangnya berupa tanah yang menempel di batang,” bebernya.


Kenapa banyak sarang tawon endhas di Kota Kediri? Maha menjelaskan, ada beberapa faktor populasi tawon Affinis naik. Faktor eksternal, hal itu disebabkan ketersediaan makanan, tempat bersarang, musuh (kompetitor), dan bencana. “Jadi ada empat faktor eksternal,” ujar lulusan kedokteran Universitas Brawijaya (UB) Malang ini.


Di Kediri, Maha lebih menyoroti faktor ketersediaan makanan. Menurutnya, makanan tawon Affinis berbeda dengan lebah madu. Makanan lebah adalah putik bunga. “Kalau tawon tergolong omnivora. Jadi bisa makan daging, ayam, ikan asin, sayur dan buah,” urainya.


Nah, ketersediaan makanan tersebut yang selama ini banyak ditemukan di pasar-pasar dan pemukiman warga. Terutama lokasi yang kurang menjaga kebersihan. Sehingga, banyak bekas makanan berserakan. “Itu jadi makanan utama tawon,” ungkap Maha.


Dari faktor internal, lanjut Maha, tawon termasuk binatang yang mudah beradaptasi. Sehingga, koloni mereka kuat bertahan hidup dengan perubahan alam di sekitarnya. Di samping itu, fertilitasnya tinggi.”Sekali bereproduksi, bisa menghasilkan seratus sampai ratusan ribu (anak tawon),” paparnya.


Kemampuan tersebut membuat populasi tawon meningkat. Apalagi, tersedia makanan di dekat lingkungan. Makanya, Maha menyarankan, warga rutin kerja bakti. “Jangan sampai ada sampah berserakan di sekitar rumah,” tuturnya.


Tawon affinis tergolong agresif. Mereka dapat menyerang bila merasa ada yang menganggu sarang dan koloninya. Meski sebenarnya orang yang disengat tidak sedang menyerang sarangnya.


Seperti kasus di Kelurahan Semampir. Perempuan yang pernah mendapatkan penghargaan Wanita Inspirasi Indonesia 2016 ini mengatakan, warga yang disengat justru saat mengendarai sepeda motor. Sedangkan sarang berada di atas pohon. “Jadi setiap ada goncangan, tawon merasa terganggu,” jelasnya.


Sengatan tawon affinis tidak hanya menyerang kepala. Namun juga di bagian tubuh lain. Bisa kaki, tangan, dan anggota tubuh yang terbuka. “Orang selama ini mengira hanya kepala. Tetapi anggota tubuh lain juga menjadi sasaran,” terangnya.


Selama ini, Maha menyebut, masyarakat awam sering salah sangka soal tawon dan lebah. Pasalnya, kedua binatang ini sangat berbeda. “Familinya sama, yakni hymenoptera. Tapi genus dan spesiesnya berbeda. Itu yang membuat keduanya juga beda,” ungkap dokter yang tinggal di Jl dr Wahidin, Pakelan, Kota Kediri ini.


Secara fisik, ukuran tawon lebih besar. Di Indonesia, panjang binatang itu sekitar 3-5 sentimeter (cm). Sedangkan lebah lebih masih di bawah itu. Komposisi kepala dan tubuhnya pun beda. Maha mengatakan, perbandingan ukuran kepala dan tubuh tawon sama persis. Yakni masing-masing 50 persen. “Untuk lebih, tubuhnya lebih besar, sekitar 70 persen. Kepalanya lebih kecil,” katanya.


Perbedaan lain terdapat pada sarangnya. Karena tidak memakan putih bunga, sarang tawon terbuat dari tanah dan air liur. Tawon juga tidak menghasilkan madu seperti lebah. “Sarang lebah berasal dari putik bunga,” jelasnya.


Karena itulah, masyarakat harus mengetahui perbedaan sarang tawon dan lebah. Pasalnya, efek sengatan yang ditimbulkan dua binatang tersebut berbeda. Tawon lebih berbahaya dan mematikan.


 


 


Penyebab Populasi Tawon Endhas Meningkat


Faktor Eksternal


Ketersediaan makanan, tempat bersarang, musuh (kompetitor), dan bencana


 


Faktor Internal


-         Tawon termasuk binatang yang mudah beradaptasi


-         Koloninya kuat bertahan hidup dengan perubahan alam di sekitarnya


-         Tingkat fertilitasnya tinggi


-         Sekali bereproduksi bisa seratus sampai ratusan ribu anak tawon


-         Populasi kian meningkat bila tersedia makanan di dekat lingkungannya


 


 


 


 

Editor : adi nugroho
#madu #tawon