Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Niha dan Dynar, Peraih Emas Open Pencak Silat

adi nugroho • Sabtu, 3 Agustus 2019 | 20:42 WIB
niha-dan-dynar-peraih-emas-open-pencak-silat
niha-dan-dynar-peraih-emas-open-pencak-silat

Siapa bilang wanita identik dengan kata lemah? Setidaknya, tidak bagi dua wanita ini. Meski mendapatkan banyak tekanan dan luka saat bertanding, semangat keduanya malah tidak redup. Emas di kancah internasional adalah buktinya.


 


IQBAL SYAHRONI, Kota, JP Radar Kediri


 


Pagi itu, Senin (29/7), bus yang membawa rombongan pesilat Pagar Nusa Padepokan Setonogedong berhenti di gang menuju Masjid Auliya Setonogedong. Puluhan atlet turun. Sebagian berjalan dengan tertatih. Ada juga yang terus memegangi tangan. Namun, wajah-wajah mereka semringah. Dengan leher berkalung medali.


Di antara mereka, ada dua yang medalinya berbeda. Emas. Dan medali itu melilit di leher pesilat yang semuanya perempuan. Keduanya adalah Nurun Niha, peraih medali emas di kelas 60 kilogram SMA. Sedangkan yang seorang lagi adalah Dynar Evenstiana, yang menyabet medali emas untuk kelas 50 kilogram SMP.


Jejak kerasnya perjuangan keduanya meraih emas masih terlukis di wajah mereka. Niha misalnya. Terlihat jelas luka di bibir bagian kiri. Yang dia dapatkan saat menghadapi lawan di kejuaraan pencak silat Bali International Championship.


Memang, mereka baru saja pulang setelah mengikuti kejuaraan tersebut sejak 25 hingga 28 Juli lalu. Pagi itu mereka baru saja melakoni 18 jam perjalanan darat menuju Kediri.


Soal lukanya itu, Niha bercerita ia dapat saat bertanding. Waktu itu dia berniat menghindari pukulan lawan.Tapi, yang terjadi, dia justru terkena tendangan lawan. Tepat mengenai mulut. Darah pun mengucur. Tapi Niha tetap melanjutkan pertarungan. “Kalau sudah tahu berdarah, saya malah tambah semangat untuk melawan,” terangnya.


Gadis asal Desa/Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri ini sudah lama menerjuni olahraga pencak silat. Saat masih duduk di sekolah dasar (SD). Kebetulan, ayahnya adalah guru silat. Jadi sering melatih dirinya.


Pengalaman demi pengalaman terus ia dapatkan. Mulai perlombaan tingkat kota, hingga karesidenan. Sampai kejuaraan tingkat internasional pernah ia jajaki. Terakhir, adalah kejuaraan di Bali tersebut, yang membuahkan hasil terbaiknya.


Soal cedera, jangan ditanya. Dislokasi hingga patah tulang pernah dia rasakan. Bahkan, orang tuanya sempat memintanya berhenti. Namun, Niha terus melanjutkan kegemarannya itu. “Kalau dalam pertandingan pasti ada saat menang, atau kalah, atau terluka. Tapi saya tetap ingin melanjutkan hobi saya ini,” tegasnya.


Dynar beda lagi. Medali emas di lehernya itu adalah yang pertama di ajang internasional. Dia pun baru dua tahun terjun di olahraga ini. “Motivasi utama saya, karena ingin bisa belajar beladiri untuk melindungi diri sendiri,” terang Dynar.


Gadis 14 tahun itu mengaku bahwa olahraga tersebut adalah alasan dirinya untuk terus berkembang. Apalagi, kegiatannya itu didukung penuh oleh orang tuanya.


Bermodalkan jalan kaki dari rumah neneknya di Ringinanom menuju ke padepokan Setonogedong untuk berlatih, sekarang Dynar dapat bersinar di kancah internasional. Jalan kaki tersebut adalah salah satu bentuk pemanasan sebelum akhirnya berlatih beladiri di padepokan.


Di kejuaraan internasional pertamanya ini, Dynar sempat merasa grogi. Lawan yang dihadapi cukup berat. Mulai dari pesilat asal Jawa, Makassar, hingga asal Singapura. “Seru, awalnya ya grogi. Tapi lama-kelamaan terbiasa. Disemangati teman-teman,” imbuh Dynar.


Agus Purnomo, ketua Padepokan Setonogedong, mengatakan bahwa ia sangat bangga dengan prestasi yang diraih oleh para atletnya itu. Dari awal sebelum berangkat ke Bali, Agus menekankan kepada para atletnya untuk bermain santai dan sekuat mereka saja.


Ia tidak menargetkan siapapun di Padepokan Pagar Nusa Setonogedong untuk mendapatkan medali. “Yang terpenting, anak bisa menambah pengalaman, dan dapat mengamalkan ilmu yang didapat,” terangnya.


Dynar dan Niha nampak lelah, karena perjalanan menggunakan bus dari Bali hinga ke Kediri. Namun, rasa lelah itu seakan hilang karena mereka berhasil membawa kebanggaan untuk padepokan, maupun untuk Kota Kediri.

Editor : adi nugroho
#radar kediri