Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kebahagiaan Membuncah di Pisah-Sambut Danbrigif 16 Wira Yudha Kediri

adi nugroho • Selasa, 30 Juli 2019 | 23:11 WIB
kebahagiaan-membuncah-di-pisah-sambut-danbrigif-16-wira-yudha-kediri
kebahagiaan-membuncah-di-pisah-sambut-danbrigif-16-wira-yudha-kediri

  Acara pisah sambut Komandan Brigif 16 Wira Yudha berlangsung dalam suasana yang campur aduk. Ada keharuan karena melepas komandan lama. Namun, muncul pula kebahagiaan karena datangnya pengganti. Juga, kegembiraan karena ada doorprize berupa umrah gratis.


 


DWIYAN SETYA NUGRAHA


 


Suasana di aula Markas Brigade Infanteri (Brigif) 16 Wira Yudha terasa sakral saat matahari mulai merangsek naik kemarin. Puluhan prajurit berseragam loreng tegap berdiri di panggung. Mereka berkalung kain warna putih. Peci putih menancap di kepala para prajurit itu. Sementara, dari mulut mereka keluar lantunan syair salawat nabi.


Sementara, ibu-ibu dari Persatuan Istri Tentara (Persit) berjajar di depan pintu masuk. Berbaris seperti pagar ayu. Mereka menyambut langkah komandan Brigif (Danbrigif) lama Kolonel Infanteri Mekanis Slamet Riadi dan penggantinya, Kolonel Infanteri Endra Saputra. Di antara mereka berjalan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar.


Setelah para tokoh itu sampai di kursinya masing-masing, lantunan salawat pun berhenti. Berganti dengan aksi sekitar sepuluh prajurit yang memeragakan gerakan beladiri. Memperlihatkan gerakan kuda-kuda dan beberapa jurus. Benar-benar menunjukkan seorang prajurit yang sigap dan perkasa.


Beberapa saat kemudian, suasana pisah sambut itu berubah menjadi lebih melankolis. Terutama kala Kolonel Slamet Riadi memberikan sambutan.


“Menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya, melihat anggota satuan kami menyambut prosesi pisah kami,” ungkap perwira yang akan mengisi posisi sebagai Asisten Operasional (Asops) Kasdam V Brawijaya ini


Pria yang tahun ini masuk nominator sebagai komandan upacara pengibaran bendera merah putih di Istana Negara ini pun lantas menyerahkan tongkat komando tampuk kepemimpinanya kepada Letnan Kolonel Infantri Endra. “Ini hanya simbolis saja, sebagai wujud harapan kami untuk mendedikasikan dan meneruskan program saya yang belum terselesaikan,” tandasnya.


Dalam kesempatan itu, Endra tampak optimistis dapat mengemban amanah barunya. Pria kelahiran Palembang ini pun siap menjalankan pedoman Sapta Marga sumpah prajurit dan delapan wajib TNI.


“Kami bekerja untuk kebaikan Kota Kediri yang lebih baik. Bersama rakyat TNI kuat,” ungkapnya.


Suasana haru berganti menyelimuti ratusan ibu persit. Mereka tak kuasa melepas kepergian sosok terbaik. Istri prajurit itu tampak tak bisa menahan tangis. Setelah keluar dari aula, ibu-ibu yang biasa disebut ini pun menyeka airmatanya. Mereka merasa sangat kehilangan sosok Henny Savitri Widyani, istri Slamet Riadi, yang harus berpindah tugas mengikuti karir suaminya di Kodam V Brawijaya.


Saat itu arah jarum jam menunjukan pukul 12.21 WIB. Suasana pisah sambut berganti menjadi senang-senang tegang. Pasalnya, Danbrigif memberikan hadiah utama umrah bagi setiap tamu undangan yang hadir.


Raut wajah tamu undangan tampak serius mendengarkan pembacaan hadiah utama umrah yang dipersembahkan oleh Kolonel Slamet dan salah satu sponsor itu. 


 “Akhirnya saya mendapatkan hadiah juga,” ucap Ani Dwi Chandra, anggota Persit, kepada undangan yang datang.


Dwi terlihat sangat senang. Ia mengaku baru pertama kali ini mendapatkan hadiah umrah. Karena itulah istri dari Mayor Infanteri Dwi Chandra ini sempat tidak percaya saat mendengarkan hadiah utama umrah tersebut jatuh kepadanya. “Saat itu saya sempat kaget, badan saya langsung lemas mendengar bahwa nomor saya terpilih,” terang Ani.


Ketika panitia membacakan nomor undian, ia sedikit bingung. Pasalnya, ia tak pernah sedikitpun membayangkan mendapatkan hadiah utama umroh. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur,” imbuhnya.


Ani mengatakan, hadiah umrah ini menjadi modal utamanya dalam menjalankan amanah sebagai ibu persit. Baginya, kegiatan ibu persit di Markas Brigif 16 Wira Yudha sangat menunjang kemampuannya dalam mengorganisir banyak orang. “Berawal dari sini (Persit, Red) saya memiliki banyak pengalaman dalam bermasyarakat,” pungkasnya.


 

Editor : adi nugroho