Genitri dikenal sebagai perhiasan alami dengan berbagai manfaat. Bijinya dirangkai menjadi aksesoris bernilai ekonomis tinggi. Namun, untuk mencari dan mengolahnya butuh perjuangan dan proses panjang. Seperti apa?
HABIBAH A. MUKTIARA
Jarum jam telah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Sinar matahari hanya terlihat remang-remang. Cahayanya berusaha menerobos melalui sela-sela rekatnya pohon pinus.
Tepat di bawah rekatnya pohon itu terdapat deretan warung. Bangunannya terbuat dari kayu. Di balik salah satu warung itu, Dadang Eko Setiawan, 29, terlihat sedang duduk di kursi rotan panjang. Kedua tangannya terlihat sedang sibuk merangkai biji genitri. Biji-bijian dirangkai menjadi sebuah gelang.
“Untuk jumlah biji yang digunakan, mulai dari 15 hingga 20 biji,” ungkap laki-laki yang merupakan warga Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo ini.
Di tangan Dadang, biji-bijian genitri disulap menjadi berbagai macam kerajinan aksesoris. Tidak hanya dibuat gelang, namun juga dirangkai menjadi sebuah tasbih. Di balik pembuatan gelang genitri tersebut, rupanya terdapat perjalanan panjang. Itu proses untuk menjadikan genitri menjadi aksesoris.
“Sekitar tahun 2014 saya baru memulai usaha kerajinan genitri ini,” terang Dadang.
Ide membuat kerajinan itu muncul karena banyaknya sumber daya alam yang belum dimanfaatkan. Sehingga dia berinisiatif untuk mengolah biji genitri menjadi sesuatu yang bermanfaat, baik itu untuk kesehatan maupun aneka kerajinan tangan.
Sebelum mengawali usaha tersebut, pada tahun 2001 hingga 2013 Dadang terlebih dahulu tinggal di Batam, Kepulauan Riau. Hingga akhirnya pada 2013, dia kembali ke tempat kelahirannya di Kediri.
Kembalinya Dadang di tanah kelahirannya, tidak langsung menjadilan genitri sebagai ladang usaha. Namun dia terlebih dahulu menjadi pengantar sayur. Hingga akhirnya pada tahun 2014 mulai tertarik kepada genitri. “Pada waktu awal, saya ikut mencari genitri di dalam hutan,” ungkapnya.
Bersama empat hingga lima orang, Dadang memasuki hutan Gunung Wilis dengan ketinggian sekitar 1.300 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut (MDPL). Sebelum melakukan pengambilan biji, mereka terlebih dahulu mencari pohon yang sudah terdapat buahnya.
Selama proses pencarian, rupanya terdapat sebuah cerita yang menarik. Di mana tidak semua pencarian berjalan dengan mulus. “Kalau kehujanan selama pencarian, itu hal yang biasa,” ungkap Dadang
Pengalaman menarik tersebut adalah ketika sedang memanjat pohon. Di tengah memanjat ternyata alat yang digunakan rusak. Akibatnya, Dadang harus pulang dengan tangan kosong.
Tidak hanya hanya proses pencariannya saja yang panjang. Tetapi, proses pengolahan genitri pun panjang. Pasalnya, selama tiga hari buah genitri harus didiamkan di dalam sak.
Setelah itu, sebelum genitiri yang berada di dalam sak dibersihkan, buahnya terlebih dahulu diinjak. Itu proses untuk memisahkan biji dengan buahnya. Selanjutnya, dilakukan sortir seperti membersihkan menggunakan tampah.
Buah genitri yang telah diinjak dijemur terlebih dahulu. “Usaha ini tidak hanya menguntungkan satu pihak saja,” kata Dadang.
Saat ini Dadang juga membentuk sebuah Kelompok Sadar Wisata Argo Wilis yang beranggotakan 32 orang. Dalam memberdayakan anggotanya, dia membagi tugas untuk anggotanya. Yakni mencari bahan produksi dan bagian pemasaran.
Kini berkat usaha kerajinan biji genitrinya, omzet yang bisa dihasilkan Dadang dalam satu bulan mampu mencapai Rp 10 juta. Kerajinan biji genitri juga memberi manfaat bagi kesehatan tubuh serta memiliki keindahan tersendiri. Bentuk kerajinan berupa gelang tangan, kalung, vas, dan bunga pohon pinus yang dibikin menjadi berbagai macam bentuk.
Editor : adi nugroho