Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ahmad Nowmenta Putra: Milenial Harus Melek Sejarah

adi nugroho • Senin, 24 Juni 2019 | 03:50 WIB
ahmad-nowmenta-putra-milenial-harus-melek-sejarah
ahmad-nowmenta-putra-milenial-harus-melek-sejarah

KEDIRI - Zaman boleh berubah. Tapi, jangan dengan jati diri kebangsaan. Hal ini yang menjadi perhatian Ahmad Nowmenta Putra pada generasi milenial seperti dirinya. Dan, memahami sejarah adalah kuncinya. “Bung Karno bilang, jasmerah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” kata pemuda kelahiran Malang, 5 Maret 1987 ini.


Menta, panggilan akrabnya, menyadari bahwa tantangan generasinya tidak lebih ringan dibanding generasi sebelumnya. Bahkan, lebih berat dan semakin tidak terduga dengan internet yang mengubah banyak hal. Dibutuhkan lompatan-lompatan pemikiran untuk mengantisipasi masa depan.


Akan tetapi, berorientasi masa depan tanpa memahami masa lalu hanya akan membuat generasi sepertinya kehilangan arah. “Makanya, sejarah itu penting. Jangan sampai dilupakan,” tandasnya.


Menta bisa mengatakan itu karena dia merupakan penikmat museum dan situs bersejarah. Dan, dia seorang penulis. Namun, yang menarik, pekerjaan sehari-harinya jauh dari kedua hal tersebut.


Lelaki yang kini bertugas di wilayah Kediri ini adalah auditor di Bank Rakyat Indonesia (BRI). “Sejarah dan menulis adalah entitas dari seni kehidupan,” tutur pemuda berdarah Jawa-Sumatera yang pernah menjuarai sebuah lomba karya tulis ilmiah (LKTI) tingkat pelajar pada 2003 itu.


Ya, sejarah dan menulis adalah passion-nya. Di mana pun Menta berada, yang dicarinya adalah tempat-tempat bersejarah. Liburannya adalah ke tempat-tempat bersejarah. Begitu pula ketika ditugaskan ke Kediri. Sejumlah situs bersejarah segera dikunjunginya. “Entah mengapa, setiap kali mengunjungi museum atau tempat-tempat bersejarah, saya selalu penuh antusiasme. Sejak saya kecil!,” tandasnya. 


Berkunjung ke tempat-tempat itu, Menta merasa bisa menerobos ruang dan waktu. Berdialog dengan masa lalu. Sehingga, apa yang terjadi pada masa lalu dan apa yang dikehendaki para pendahulu pada tanah air dan bangsa ini bisa dibaca.


Hal itulah yang menurut dia tak boleh dilupakan. “Kenapa pada masa lalu ada peristiwa ini, ada peristiwa itu, pasti ada penyebabnya. Kita bisa membacanya dari sejarah untuk menyusun masa depan,” ungkapnya.


Di antara sekian banyak fragmen sejarah bangsa ini, salah satu yang menjadi perhatian Menta adalah peristiwa 1965. Sebab, peristiwa itu menjadi perhatian luas dan tak habis-habisnya menjadi bahan perbincangan hingga kini.


Untuk itu, dia sengaja melakukan observasi serius di sela-sela tugasnya sebagai auditor. “Saya tertarik pada sosok Pierre Tendean. Dia adalah idola anak muda. Bahkan sampai kini ada komunitas penggemarnya sendiri,” tutur Menta.


Sosok itulah yang dia telusuri bersama rekannya, Agus Lisna. Untuk mengulik lebih dalam siapa sebenarnya perwira muda ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution tersebut. Sekitar enam bulan penuh, setiap hari, Menta hanya tidur maksimal tiga jam untuk mengobservasi sekaligus menuliskannya. Banyak literatur dibaca. Banyak narasumber kunci diwawancarai. Termasuk, kakak kandung Pierre.


Hasilnya, sebuah buku yang diberi judul Pierre Tendean, Jejak Sang Ajudan, Sebuah Biografi. Buku itu terbit Agustus tahun lalu. “Lewat buku ini, saya ingin mengajak generasi milenial untuk mencintai sejarah,” pungkasnya.

Editor : adi nugroho
#buku