Tak banyak orang yang memilih keluar dari pekerjaan mapannya. Kemudian berpindah menekuni bidang yang sama sekali baru. Dari yang sedikit itu ada Nurul Musta’in. Karyawan PT PAL ini pensiun dini dan berganti menekuni pertanian hidroponik.
DWIYAN SETYA NUGRAHA
Suasana bising di Ibu Kota masih tersimpan jelas di ingatan Nurul Musta’in. Suasana seperti itu tergambar jelas karena dia pernah lama meniti karir di PT PAL, BUMN yang bergerak di bidang pembuatan kapal. Satu pekerjaan yang sebenarnya menjadi impiannya sejak kecil.
Kini, rutinitas itu tak lagi dia kerjakan. Gus Ta’in, sapaannya, justru memilih keluar dari kehidupan yang terbilang sudah mapan itu. Kini dia ganti bergelut dengan ratusan tanaman hidroponik yang dia kembangkan dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak memutuskan pensiun, pada 2010, Gus Ta’in asyik mengembangkan bisnis hidroponiknya. Memanfaatkan lahan di dekat Pondok Pesantren (Ponpes) Pari Ulu, di Gurah, Kabupaten Kediri.
“Ini menjadi salah satu upaya mengenalkan tanaman hidroponik kepada masyarakat,” terang Gus Ta’in, yang juga pendiri dan pengasuh Ponpes Pari Ulu.
Memang, tanaman hidroponiknya itu kini dikembangkan dengan melibatkan masyarakat setempat.
Menurutnya, dia juga memiliki misi ingin mengenalkan tanaman yang tak membutuhkan banyak lahan ini kepada masyarakat sekitar. “Ini bisa dimanfaatkan masyarakat, tak butuh banyak lahan kok,” tandasnya.
Yang menarik, dari ratusan tanaman hidroponik yang ia simpan di salah satu galeri koleksi tanamannya itu, hampir tiap bulan ia bagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat. Dengan harapan, bisa dikembangkan secara mandiri dengan sistem bergantian. “Setelah panen bisa dipinjamkan ke beberapa warga sekitar yang membutuhkan,” ungkap pria berusia 49 tahun ini.
Dipinjamkan? Metode hidroponiknya, menurut Gus Ta’in, punya ciri khusus dibanding hidroponik lain. Yaitu pada media tanam dan polybag-nya. Polybag yang digunakan terbuat dari plastik khusus. Bukan dari plastik daur ulang. Kemudian media tanamnya dari pasir bercampur lapukan batang bambu dan bonggol batang pisang. “Setelah tanamannya dipanen, kemudian dipinjamkan ke warga yang lain,” ujarnya.
Gus Ta’in punya ratusan tanaman hidroponik. Hingga saat ini belum dikomersialkan. Karena masih dalam tahap pengembangan. Dia memilih mengembangkan metode ini karena beberapa keuntungan. Yaitu efisiensi waktu dan lahan. Dari ratusan tanaman itu ada yang merupakan hasil observasinya sendiri. Salah satunya adalah bawah merah yang dia beri nama bawang merah Pari Ulu. Meskipun sepintas sama dengan brambang lain, tapi tanaman ini memiliki waktu panen lebih cepat. “Hanya dalam 45 hari,” ujarnya.
Menggeluti hidroponik bukan satu-satunya alasan dia keluar dini dari PT PAL. Alasan lain adalah karena ingin mengembangkan pondok pesantren. Sempat mendapat tentangan dari sebagian keluarga, kini ponpes Pari Ulu sudah berkembang pesat. Berawal taman pendidikan Quran (TPQ), ponpes Pari Ulu sudah memiliki empat cabang.
Kini, dia mendapat keuntungan lain dari keputusannya itu. Saat bekerja di PT PAL waktunya tersita banyak. Karena sering bertugas di luar kota. Kini, waktu berkumpul dengan keluarganya jadi bertambah. “Meskipun banyak waktu yang dihabiskan. Kami bisa membagi waktu dengan baik,” ungkap pria asli Desa Sumbercangkring, Kecamatan Gurah ini.
Editor : adi nugroho