Kumandang takbir tetap menggema di Desa Segaran. Meskipun umat muslim di sini hanya 70-an orang. Nuansa kemenangan di Hari Raya Idul Fitri juga kental terasa. Tradisi silaturahmi pun tetap terjaga.
SURYA DEWO R.
Inilah Desa Segaran. Desa di Kecamatan Wates yang jumlah kaum muslimnya hanya 76 di antara 1.997 penduduk. Toh, suasana Lebaran di desa ini juga tak kalah meriah. Setidaknya bagi umat Islam yang minoritas. Tak ada kecanggungan dalam melaksanakan ritual keagamaan setelah sebulan penuh berpuasa. Karena sikap toleransi di desa ini sangat tinggi.
Ketika malam terakhir Ramadan, gaungan suara takbir, tahlil, dan tahmid juga terdengar di satu-satunya ‘masjid’ di desa ini. Ya, masjid kecil yang digunakan umat muslim Segaran menjalankan ibadah salat lima waktu itu digunakan untuk mengumandangkan takbir. “Bagaimanapun juga itu tanda menyambut hari raya,” terang Ahmad, warga muslim di Desa Segaran.
Menurut Ahmad, di masjid kecil itu sebagian muslim Segaran meneruskan dengan salat Idul Fitri di pagi hari. Tapi tidak semua. Sebagian lain pergi ke masjid di desa tetangga yang lebih besar. Berbeda dengan salat jumat yang tak pernah dilakukan di masjid Desa Segaran, bila salat Hari Raya Idul Fitri, tempat ini tetap menggelar. Biasanya, imam dan khatib salat mendatangkan dari desa tetangga.
Bila Lebaran tiba, ada kontras dalam suasana di desa ini. Di sebagian besar wilayah Desa Segaran terlihat sepi-sepi saja. Tak banyak aktivitas. Terlebih yang di sekitar area gereja.Wajar, karena mayoritas penduduknya adalah beragama Kristen.
Namun, kondisi berbalik ada di sekitar masjid desa. Yang disekelilingnya berdiri rumah-rumah warga muslim. Seperti di rumah Ahmad. Di lingkungan ini kemeriahan malam takbiran berlanjut di pagi hari.
Usai menunaikan salat Idul Fitri, warga muslim langsung kembali ke rumah masing-masing. Setelah saling memaafkan sesama anggota keluarga, mereka akan melanjutkan dengan tradisi silaturahmi ke tetangga sesama muslim. Saling bercengkerama dan bermaaf-maafan.
Yang menarik Lebaran di Desa Segaran adalah keterlibatan warga nasrani. Mereka juga ikut mengunjungi rumah-rumah warga muslim. Beranjangsana laiknya warga yang merayakan hari raya.
Suasana seperti itu memang tetap terjaga selama ini. Bahkan, ketika Natal pun warga muslim juga melakukan hal sebaliknya. “Pada hari Natal, ya kita sebagai saudara juga datang ke rumah warga nasrani,” terang Ahmad.
Kebiasaan bersilaturahmi Lebaran meskipun beragama non-Islam itu diakui juga oleh Sunardi. Kebetulan, pemeluk Kristiani ini rumahnya tepat di seberang masjid desa. Menurutnya, selama ini hubungan antara warga, baik muslim dan non-muslim tetap terjalin dengan baik. “Kalau urusan bertetangga tetap rukun dan harmonis,” tandas Sunardi.
Ia pun menjelaskan bahwa kegiatan saling merayakan hari raya lintas agama sudah terjadi dari lama. Jadi, ketika Idul Fitri warga nasrani akan datang ke rumah warga muslim. Begitupun sebaliknya, ketika nasrani merayakan Hari Raya Natal mereka saling berjabat tangan untuk menambah kerukunan.
Ahmad mengaku juga tidak segan saat mengucap selamat natal dan tahun baru kepada tetangganya yang nasrani. Kondisi seperti ini ia harapkan akan selalu dilakukan sampai anak cucunya. Sehingga tetap tercipta kerukunan antar umat beragama.
Hal serupa diharapkan oleh Kades Segaran Dwijo. Dia berharap agar masyarakatnya tetap menjalin hubungan baik. Supaya tetap tercipta lingkungan yang kondusif , aman, dan tentram. “Yaa pokoknya semoga dapat terus berjalan baregan,” tutup Dwijo.
Editor : adi nugroho