Di antara penduduk Kabupaten Kediri yang mayoritas muslim, Desa Segaran bisa menjadi salah satu pengecualian. Di desa ini jumlah pemeluk Islam hanya puluhan orang. Namun, mereka hidup rukun di antara ribuan penganut nasrani.
Desa Segaran. Desa ini berada di wilayah Kecamatan Wates. Salah satu kecamatan yang relatif dekat dengan lereng Gunung Kelud. Berada di sisi timur Kota Kediri. Kalau ditarik garis lurus, desa ini kira-kira sejauh 21 kilometer dari Pendapa Kabupaten Kediri, yang berada persis di timur Alun-Alun Kota Kediri.
Di Kecamatan Wates sendiri Segaran berada sisi barat. Berada di antara empat desa di kecamatan yang sama. Desa-desa yang membatasi Segaran itu adalah Tawang, Gadungan, Duwet, dan Pojok.
Desa ini tergolong kecil. Luasnya hanya sekitar 2 kilometer persegi. Wilayahnya juga hanya terdiri satu dusun saja. Yaitu Dusun Segaran. Jumlah penduduknya pun tak banyak. Tak sampai 2 ribu jiwa. Angka tepatnya adalah 1997 kepala.
Yang menarik, adalah jumlah penduduk yang beragama Islam. Kalau kebanyakan desa di Kabupaten Kediri mayoritas penduduknya memeluk Islam, tidak demikian dengan Segaran. Di sini kaum muslimin tergolong minoritas. Jumlahnya tak mencapai 100 orang. Hanya 76 penduduk saja yang memeluk Islam.
Kepala Desa (Kades) Segaran Dwijo punya kisah tentang desanya. Menurut sang kades, cerita babat desanya itu bermula saat Perang Diponegoro berlangsung 1825-1830. Berawal dari para ‘pelarian’ dari perang tersebut. Mereka adalah para pribumi beragama nasrani yang mendapat imbas dari pertempuran antara pasukan Diponegoro dengan tentara Kompeni (penyebutan masyarakat terhadap pasukan dari Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC).
Para pribumi beragama nasrani itu kemudian lari ke Kediri. Mereka kemudian mendapati lahan yang masih berupa hutan belantara. Membukanya menjadi pemukiman.
“Konon, menurut cerita, mereka itu pelarian setelah Perang Diponegoro. Dipimpin oleh Silvanus Jati Anom,” terang Dwijo, saat ditemui di kantor desa. Karena yang membuka lahan adalah para pendatang beragama nasrani, maka desa tersebut tentu saja berpenduduk Kristen semua.
Menurut Dwijo, dulu desanya bukan bernama Segaran. Sesaat setelah pembukaan lahan desa, namanya adalah Purworejo. Dalam perkembangannya nama desa menjadi Segaran. “Sekitar 1887. Setelah ada peresmian Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW),” ujar Dwijo bercerita.
Lalu, kapan penduduk beragama Islam mulai mewarnai desa ini? Menurut Dwijo, agama Islam masuk ke Desa Segaran di awal 1990-an. Sayangnya, Dwijo tak bisa menjelaskan seperti apa proses masuknya penduduk muslim itu. Yang pasti, setelah itu desa ini memiliki keberagaman. Ada penduduk non-nasrani di antara mereka.
Pemeluk Islam di desa ini mengelompok di satu tempat. Tepatnya di wilayah timur desa. Di tempat ini akhirnya berdiri satu masjid kecil, yang menurut Dwijo adalah musala. Sebab, meskipun papan namanya Masjid Segaran namun tak digunakan untuk salat Jumat. Bila salat Jumat, warga Segaran pergi ke masjid di Desa Tawang.
Total, desa ini punya dua tempat beribadah. Selain satu masjid kecil itu, juga ada satu gereja milik GKJW. Jarak keduanya hanya sekitar 400-an meter. Menurut Dwijo, satu gereja saja cukup untuk menampung warga nasrani beribadah. “Sebab ibadahnya dibagi tiga kali pas hari Minggu,” tuturnya.
Masih menurut Dwijo, semua perangkat desanya beragama nasrani. Tapi itu tka menghambat warga muslim untuk melakukan pengurusan yang terkait keagamaan. Seperti pernikahan atau bila ada yang meninggal dunia. Perangkat Desa Segaran biasanya mendatangkan tokoh agama dari Desa Duwet.
Ngadianto, 56, pendeta, mengatakan bahwa warga desa tak menganggap muslim sebagai minoritas. “Kami menganggapnya sebagai saudara,” terangnya.
Karena itu, mereka pun memfasilitasi pembangunan sarana ibadah. Pada 2000-an desa juga membantu pendirian masjid tersebut.
Pihak gereja pun sering berhubungan dengan pondok pesantren di desa tetangga. Seperti Pondok Pesantren Al Ghozali di Desa Duwet. “Terkadang gantian kunjungan,” ujar Ngadianto. Terutama saat di hari-hari besar keagamaan, sikap toleransi antar umat sangat terasa.
Ungkapan tersebut dibenarkan oleh salah satu warga muslim, Ahmad Jayadi, 77. Menurutnya tidak pernah ada perselisihan dengan pemeluk nasrani. Ia juga menjelaskan bahwa dalam beribadah selama ini dianggapnya lancar.
Keberagaman itu juga tidak menghalangi warga hidup damai. Mereka saling menghargai. Nyatanya, umat Islam di sana pun dapat menjalankan ibadah dengan lancar tanpa adanya pertentangan dengan warga Nasrani. Terutama dalam beribadah di bulan suci Ramadan ini.
Editor : adi nugroho