Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kentalnya Toleransi Antarumat Beragama di Medowo, Kandangan (1)

adi nugroho • Senin, 20 Mei 2019 | 22:07 WIB
kentalnya-toleransi-antarumat-beragama-di-medowo-kandangan-1
kentalnya-toleransi-antarumat-beragama-di-medowo-kandangan-1

Memasuki Desa Wisata Medowo lantunan Alquran terdengar syahdu. Menghiasi suasana Ramadan yang tenang kendati penghuni desa dari berbagai umat beragama.


 


IQBAL SYAHRONI


 


Berjarak dua jam dari Kota Kediri, desa yang berada di ujung paling timur Kabupaten Kediri ini menyimpan banyak cerita. Khususnya kala Ramadan. Mulai dari masjid dan musala yang digunakan tadarus, pura yang berdekatan dengan musala dan gereja, hingga aktivitas para warga selama Ramadan.


Memang, desa yang mitosnya berasal dari singkatan nama “sak imet tur dowo” atau dalam bahasa Indonesia “kecil, tapi panjang” ini memiliki sekitar 79,13 persen penduduk Muslim, 11,2 persen Hindu, dan 9,67 persen Kristen.


Keberagaman agama di Desa Medowo tidak membuat warganya saling acuh satu sama lain. Malah dari perbedaan itulah mereka sangat kompak. “Kalau di sini, sudah bisa dipastikan kerukunan antarumatnya sangat baik,” ujar Kepala Desa (Kades) Medowo Sujarwo.


Hal tersebut bisa dirasakan para pengunjung desa wisata di lereng Gunung Kelud tersebut ketika berada disana. Saat Ramadan, semarak terdengar lantunan ayat suci Alquran dari pengeras suara.


Desa dengan 355 penduduk beragama Kristen dan 410 warga beragama Hindu ini tidak pernah satu kali pun tepercik gejolak tentang penggunaan pengeras suara musala atau masjid. “Tidak pernah ada protes warga meski pengeras suara digunakan untuk mengaji selama Ramadan,” ungkap Sujarwo.


Dari umat Islam sendiri pun sudah memahami dan mengecilkan volume pengeras suara ketika sedang tadarus. Karena memang mulai dari siang hingga malam ketika Ramadan, musala dan masjid di Medowo rutin untuk tadarus. Itu setelah Duhur sampai Asar, anak-anak memenuhi musala dan masjid.


Setelah itu, malamnya sekira setelah Tarawih, para pemuda dan orang dewasa yang meramaikan musala dan masjid. “Biasanya sampai sekitar pukul 21.00 atau 22.00 WIB,” kata Sujarwo.


    Warga sekitar sudah sadar akan keyakinan dan batas-batas antarumat beragama. Sehingga toleransi antarumat beragama di Medowo terus terjaga hingga kini. Sujarwo menjelaskan bahwa upaya menjaga kerukunan antarumat beragama di Medowo tidak perlu diragukan lagi.


Masyarakat asli Medowo memiliki rasa toleransi tinggi, karena nilai nilai hidup dalam hubungan terhadap manusia dengan Tuhan adalah bersifat pribadi, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengintervensi hal tersebut.


Kepala Dusun Sidorejo Suparman, 46, menjelaskan bahwa satu masjid dan satu musala di Dusun Sidorejo juga tidak pernah sepi ketika Ramadan. Pemeluk Islam sedang tadarus. “Saya yang beragama Kristen saja merasa aman dan terayomi, karena memang sangat terasa sekali toleransi antarumat di sini (Medowo),” terang Suparman.


 


 


Penduduk Desa Medowo : 3665 jiwa


Laki-Laki     : 1871 jiwa


Perempuan  : 1794 jiwa


KK              : 1267KK


 


Persentase Pemeluk Agama:


Islam          : 2900 (79.13%)


Hindu          : 410 (11.2%)


Kristen        : 355 (9.67%)\


 


Desa Medowo


Pekerjaan Terbanyak     : Petani, Peternak Sapi Perah


Luas Wilayah Desa        : 799.26ha


 


Batas Desa


Utara          : Desa Galengdowo, Wonosalam, Jombang


Selatan       : Hutan Perhutani


Timur         : Hutan Rakyat Provinsi


Barat          : Desa Mlancu, Kandangan, Kab Kediri.


 

Editor : adi nugroho
#toleransi #masjid #kandangan