Di desa ini pemeluk Islam memang mayoritas. Namun, di beberapa dusun jumlah non-muslimnya relatif tinggi. Bahkan, ada tiga pura dan satu gereja. Selama Ramadan, toleransi tetap dijunjung tinggi.
HABIBAH A. MUKTIARA
Desa Mlancu. Desa ini masuk wilayah Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri. Berada di lereng Gunung Anjasmara. Yang berbatasan langsung dengan Desa Kasembon, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.
Karena berada di lereng gunung, Mlancu memiliki hawa sejuk khas pegunungan. Membuat jenis durian atau cengkih banyak tumbuh subur. Berdampingan dengan hektaran sawah yang membentang, membentuk terasering bak undak-undakan raksasa.
Desa yang berbatasan dengan Medowo dan Banaran, dua-duanya juga masuk Kecamatan Kandangan, ini berpenduduk 5.200 jiwa. Atau sekitar 2.200 kepala keluarga (KK). Dari jumlah penduduknya itu Islam tetap mayoritas. Yaitu 4.575 orang. Sisanya, ada Hindu dan Kristen.
Pemeluk Hindu di desa ini relatif besar. Menjadi agama nomer dua dengan pemeluk mencapai 450 orang. Pemeluk Hindu bahkan memiliki tiga pura, tempat ibadah mereka. Dua di antaranya berada di Dusun Kwaringan. Sedangkan satu pura lagi berdiri di Dusun Slumbung.
Sementara, pemeluk Kristen berjumlah 175 orang. Untuk beribadah mereka memiliki satu gereja. Lokasinya di Dusun Slumbung.
Dengan tingkat keberagaman seperti itu, Desa Mlancu dikenal memiliki tingkat toleransi antarpenduduk yang sangat tinggi. Mereka mampu hidup berdampingan dengan baik. Bahkan, di Dusun Slumbung antara masjid dan gereja saling berhadap-hadapan.
Kepala Desa Mlancu Sriono mengatakan bahwa kesadaran hidup dengan toleransi tinggi itu sudah menjadi bawaan masyarakat desanya sejak dulu. Tak pernah mereka saling bergesekan meskipun berbeda keyakinan. Termasuk seperti saat Ramadan saat ini.
“Karena ini desa kami. Siapa lagi yang menjaga kerukunan jika bukan kami sendiri?” ucap Sriono dengan tegas.
Memang, keberagaman yang ada di desa ini tidak lantas menjadi halangan bagi penduduknya untuk tetap hidup berdampingan dengan damai. Dengan cara saling mengahargai agama masing-masing. Umat Islam yang mayoritas pun tak berbuat semena-mena. Bahkan di Ramadan seperti sekarang ini, warga muslim tetap menunjukkan toleransi dan sikap tepaselira yang tinggi. Kekhususan ibadah Ramadan tak membuat umat muslim minta dianakemaskan. Semua mengalir seperti biasa.
Aktivitas warga pun berjalan selayaknya hari-hari biasa. Yang bekerja di sawah juga tetap menjalankannya. Yang berdagang pun bekerja seperti biasa. “Hanya, ketika istirahat, warga yang tidak berpuasa sudah tahu diri. Mereka tidak akan makan-minum di depan orang yang berpuasa,” terang Sriono.
Yang membedakan Ramadan ini tentu saja ibadah warga muslim yang meningkat. Terutama ibadah-ibadah yang khusus berlangsung selama Ramadan. Seperti tadarus dan salat Tarawih. Suasana khusyuk pun tersaji.
Sebagai agama mayoritas, umat Islam memiliki paling banyak tempat ibadah. Total, ada tujuh masjid yang dimiliki desa ini. Di dua dusun yang punya keberagaman pemeluk agama tinggi, Dusun Slumbung dan Kwaringan, masing-masing berdiri satu masjid. Belum lagi tempat ibadah yang berstatus musala atau langgar. Di dua dusun itu masing-masing berdiri empat musala.
Editor : adi nugroho