Cita-citanya jadi seniman. Atau lebih tepanya sebagai seorang dalang. Namun, harapan terbesarnya adalah ingin melihat masyarakat bangga dengan budaya sendiri. Agar generasi selanjutnya masih bisa menikmatinya.
IQBAL SYAHRONI
Langit di atas Balai Desa Gadungan, Wates, Kabupaten Kediri, cerah siang itu. Tak ada tanda-tanda mendung di langit sebagai pertanda hujan. Tapi, tak pula ada sinar matahari menyengat seperti siang-siang terik. Angin yang berembus menyapu membuat udara terasa sejuk.
Tak lama kemudian suara motor terdengar. Disusul seorang lelaki mengendarai motor matic yang melaju masuk ke halaman balai desa. Seorang lelaki kemudian turun dari motor.
“Maaf tadi masih ke bank,” ucapnya memberi alasan.
Lelaki itu adalah Fredy Eko Setiawan. Sehari-hari dia adalah kepala Dusun Bulurejo di Desa Gadungan. Namun lelaki itu juga punya aktivitas lain yang tak bisa dipandang remeh. Fredy aktif sebagai seniman dalang wayang kulit. Dengan nama panggung Adhi Sasongko.
Jangan heran bila pria 36 tahun ini punya kesibukan ganda. Selain menyelesaikan tugas sehari-hari sebagai kasun dan mendalang bila ada tanggapan, Fredy masih pula menyelipkan waktu untuk berbagi ilmu. Mengajari beberapa siswa bermain gamelan maupun wayang.
“Ah, bukan mengajari. Kesannya seperti saya sudah ahli saja. Itu namanya sambil belajar bersama, getok tular,” elaknya ramah sembari berbincang santai di ruangannya.
Saat itu, balai desa terasa lengang. Kebetulan bersamaan dengan jam makan siang.
Fredy pun bisa santai bercerita tentang dirinya tanpa banyak gangguan. Dia pun menceritakan aktivitasnya memberi latihan pada anak-anak desa atau luar desa yang ingin belajar berkesenian. Terutama dalam karawitan dan dunia perwayangan.
Setelah sempat menarik napas panjang, Fredy menceritakan pertama kali ia memutuskan berguru ke seorang dalang wayang pada 2011. Bahkan, saat itu, ia rela resign dari pekerjaannya demi mewujudkan cita-citanya sejak kecil. “Kebetulan ayah saya juga seorang dalang,” ucapnya.
Sebagai anak dalang ia pun secara langsung sering melihat ayahnya tampil. Sedikit demi sedikit rasa cinta terhadap dunia wayang pun tumbuh. Meskipun dia saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar.
Uniknya, Fredy ternyata tak bisa berguru pada sang ayah. Sebab, sang ayah selalu berpesan bila Fredy ingin menjadi dalang maka dia tak boleh berguru pada ayahnya. Karena itu, usai memutuskan keluar dari pekerjaan lamanya Fredy rela berjalan kaki dari Gadungan hingga ke tempat yang ia rasa banyak seniman hebat. Yakni di Nganjuk. “Tepatnya di Soloageng,” paparnya.
Selama 12 jam berjalan kaki, ia juga sudah berniat untuk tidak menebeng kepada orang lain. Istirahat harus. Namun tidak boleh berhenti untuk memberhentikan pengendara untuk menumpang hingga ke tujuan.
Setelah datang di Soloageng, ia langsung bertemu dengan salah satu dalang yang bernama Suparlan. Di situ ia banyak belajar tentang wayang purwa. “Selain dengan Pak Suparlan, saya juga banyak belajar dari dalang-dalang yang lain di sekitar Nganjuk,” paparnya.
Semakin banyak belajar semakin banyak ilmu dan gaya yang dipelajari. Semakin banyak pula pupuk persiapan ketika ia akan manggung untuk mendalang. “Saya di Nganjuk selama satu tahun, tidak pulang sama sekali,” terangnya.
Demi menggapai cita-citanya itu ia bahkan rela meninggalkan untuk sementara istri dan anaknya yang masih kecil. Pernah suatu ketika, ia sedang merenung pada malam hari. Di kamar tempat ia tinggal sementara di Nganjuk, di rumah Suparlan. Saat itu ia menangis karena rindu kepada anaknya. Menariknya, Rianto, anak Suparlan, yang menjadi ‘sedulur’-nya selama di Nganjuk ikut-ikutan menangis.
Walaupun tak pulang ke rumah, selama di Seloageng Fredy masih bisa keluyuran. Tujuannya untuk melihat setiap ada pagelaran wayang. Nah, suatu ketika dia menyaksikan pertunjukan wayang di Pare. Awalnya dia tak tahu siapa dalangnya. Ternyata, sang dalang adalah Ki Degleng, yang juga ayahnya.
Saat itulah dia diminta ayahnya membantu mengisi dengan nembang. Penampilannya pun terbilang sukses. Setelah itu dia pun memberanikan diri menguji kemampuan menjadi dalang.
Kini, setelah banyak tawaran mendalang yang datang, Fredy masih berusaha mewujudkan cita-cita yang lain. Yaitu agar budaya lokal tak hilang. Karena itu dia dengan suka rela mengajari anak-anak dan remaja yang ingin belajar berkesenian itu. "Sekarang masih aktif ngajar kalau anak-anak datang ke rumah saya, berlatih gamelan," terangnya, sesaat setelah mengajak Jawa Pos Radar Kediri mendatangi rumahnya.
Suara ayam terdengar nyaring dari luar rumah Fredy. Pada saat bersamaan anak kedua Fredy bermain-main dengan salah satu anak wayang, Gatotkaca. Sepertinya, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Anak keduanya itu sering bermain wayang dengannya ketika waktu senggang setelah pulang dari kantor. Fredy tidak ingin memaksa anaknya untuk menyukai hal yang ia sukai. Namun jika anaknya yang masih berumur 5 tahun itu ingin mendalami kesenian tentang wayang, ia juga akan dengan senang hati mendukungnya.
Editor : adi nugroho