Dari tangan kreatifnya lahir ratusan barong. Karya yang butuh ketelatenan tinggi. Karena harus mengukir motif yang punya detail dan kerumitan tinggi.
MOCH. DIDIN SAPUTRO
Di salah satu teras rumahnya yang sederhana, di Dusun Nglaban, Desa Maron, Banyakan, Hendik Prastyo sibuk memahat balok kayu. Matanya fokus menatap tajam dua benda di tangan. Palu di tangan kanan dan tatah dipegangnya di tangan kiri. Di sekelilingnya puluhan balok kayu dari batang pohon waru menumpuk. Siap untuk dipahat. Kondisinya sudah berpola tulisan tangan.
Pria 36 tahun ini terlihat hati-hati dalam mengerjakan pemahatan. Salah sedikit, pola motif yang dihasilkan akan melenceng dari rencana awal. “Memang harus hati-hati, apalagi untuk motif yang kecil, itu yang cukup rumit,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Hendik merupakan salah satu perajin barong yang ada di Kabupaten Kediri. Namun selama membuatnya dia tidak dibantu satu orang pun karyawan. Bekerja seorang diri. Mulai dari bahan mentah hingga menjadi barong yang siap jual.
Sebenarnya dia sempat beberapa kali mengajari pemuda desa dan teman-temannya untuk membuat barong. Namun rata-rata hanya bertahan tidak sampai satu bulan. “Ada yang mau belajar, tetapi tidak lanjut karena tidak telaten,” sebutnya.
Memang, untuk membuat satu barong sempurna setidaknya membutuhkan waktu satu bulan pengerjaan. Itu pun kalau setiap hari melakukan pemahatan. Termasuk membuat pola jamang atau hiasan bagian atas barong yang berwujud naga.
Itu pun juga membutuhkan waktu berhari-hari untuk pengerjaannya. Jika bukan penggemar barong atau tidak ada ikatan dengan itu, otomatis akan kesulitan. Lain halnya dengan Hendik yang sejak dulu sudah cinta dengan dunia jaranan ini.
Kecintaannya dengan kesenian satu ini memang telah ada sejak dia kecil. Saat itu Hendik adalah pemain jaranan di desanya. “Dulu saya ngepang (istilah untuk pemain jaranan yang membawa kuda lumping, Red). Selanjutnya pegang barongan. Sekitar kelas 5 SD,” ujarnya.
Kegiatan mengikuti kesenian jaranan tersebut juga sangat didukung oleh neneknya. Bahkan pria yang karib disapa Pakde Doyok ini pun memiliki nazar apabila besar nanti memiliki kelompok jaranan sendiri. “Mendirikan jaranan di kampung halaman saya sendiri. Alhamdulillah sedikit sedikit mulai punya alat,” tandasnya.
Namun pendirian jaranan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus berjuang keras untuk melengkapi peralatan tim jaranan yang hendak didirikannya.
Memang selama ini Hendik terlahir dari keluarga sederhana. Sehingga untuk membeli peralatan jaranan yang cukup mahal itu tidak bisa langsung dilakukannya. “Awalnya saya buat alat musiknya dari bambu. Seperti angklung,” jelasnya.
Menggunakan alat musik tersebut berjalan dua tahun. Bahkan sedikit demi sedikit ia menyisihkan gajinya yang saat itu bekerja di BNN untuk membeli peralatan jaranan. “Tanpa sepengetahuan istri saya,” imbuhnya.
Itu dilakukannya selama dua tahun. Akhirnya nazarnya sejak SD itu tercapai. Cukup bangga dan senang. Apalagi kini dia sudah bisa memproduksi barong sendiri. Bahkan jika ada pertunjukkan sewu barong, dia sering mendapat pesanan persewaan barong miliknya.
Kini kerajinannya sudah banyak dipesan hingga luar pulau. Paling banyak adalah Papua dan Kalimantan. Bahkan sempat mengirim ke Hongkong.
Meski demikian, saat ini kendalanya masih pada peralatan yang digunakan yang masih sederhana. Selain itu pengerjaan sendiri dengan pesanan yang cukup banyak juga membuat Hendik harus kerja ekstra dalam melayani pelanggannya.
Semua itu tentu harus dengan ketelatenan dan keuletannya dalam mengerjakan kerajinan yang menjadi salah satu ciri Khas Kabupaten Kediri ini. Ditambah kecintaan terhadap kesenian tradisional yang selama ini semakin langka, mampu membuat dia tetap bertahan untuk melakoninya.
Bagi Hendik, pengenalan kesenian tradisional sangatlah penting dilakukan sejak usia dini. Itulah yang ia rasakan. Sejak kecil sudah dikenalkan dengan kesenian jaranan. Meski tidak semua orang bisa masuk di dalamnya, setidaknya mengenal kesenian tersebut bisa mempertahankan budaya yang nyaris terlupakan ini.
Editor : adi nugroho