Bagi warga di kawasan ini, banjir bak kawan setia. Selalu datang meskipun tak diundang. Penghalang di depan pintu rumah tak sanggup menghindarkan mereka dari luapan air.
IQBAL SYAHRONI
Pemukiman ini berada di ujung barat Desa Maron, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri. Jika berjalan 30 meter lagi ke arah barat maka kit asudah memasuki wilayah kecamatan lain. Yaitu Desa Bakalan, Kecamatan Grogol.
Saat Jawa Pos Radar Kediri mendatangi kawasan pemukiman ini Minggu (24/3) lalu, suasana sangat becek. Banyak genangan air di mana-mana. Tingginya juga lumayan, sekitar 10 sentimeter.
Rumah milik para warga di pemukiman tersebut terlihat masih terbuka. Seolah mempersilahkan angin masuk. Saat itu, aliran listrik juga sedang mati, karena ada perbaikan jaringan. Masing terlihat timba dan alat pel yang berada di pelataran rumah warga. Sedangkan air sisa banjir masih menggenang di sepanjang jalan menuju ke pemukiman tersebut. Sinar matahari siang itu terik.
Ya, kawasan pemukiman itu, di RT 1 RW 9 Desa Maron, memang sudah menjadi langganan banjir. Nyaris tiap tahun air selalu datang menggenangi pemukiman. Terutama bila hujan deras berlangsung terus-menerus.
Kontur tanah di kawasan ini memang lebih rendah dibanding jalan raya di dekatnya. Jalan raya itu menghubungkan Kediri dan Nganjuk. Hal tersebut yang membuat pemukiman ini selalu terdampak banjir.
"Daerahnya lebih rendah daripada jalan, Mas," aku Pendik, salah seorang warga.
Saat itu Pendik terlihat sedang menguras sisa air banjir yang masuk ke rumahnya. Dibantu oleh istri dan anak-anaknya. Bila dihitung dengan saat banjir mulai menggenang, aktivitasnya itu dia lakukan sembilan jam setelahnya.
Pendik menjelaskan bahwa hujan deras disertai angin kencang terjadi pada Sabtu (23/3) sore. Membuat kawasannya terendam banjir lagi. "Selain karena hujan juga kalau di daerah sini (RT01/09, Red) selalu banjir, Mas. Jangankan pas hujan deras, kalau tidak hujan pun, juga pernah banjir," imbuhnya.
Mengapa? Pendik kemudian menunjukkan sungai yang berada tepat di sebelah timur rumahnya. Ia mengatakan bahwa lebar sungai tersebut menyempit sesampainya di kawasan pemukiman tersebut. Dari yang sebelumnya berukuran sekitar dua meter menjadi hanya berukuran satu meter saja.
Ia menduga debit air yang deras tidak mampu mengalir secara langsung karena lebar sungai yang menyempit. Sehingga air meluap dan membanjiri rumahnya dan rumah tetangganya.
Dia kemudian bercerita peristiwa banjir pada tahun-tahun sebelumnya. Pada 2014 misalnya, pernah air mausk rumah tanpa diundang persis ketika dia sedang terlelap. Begitu menyadari itu, dia langsung terbangun. Dan segera menyelamatkan anak dan istrinya.
"Beruntung waktu itu tidak langsung tinggi airnya. Jadi ya masuk dan terasa basah. Lalu saya bangunkan keluarga," kenangnya.
Luapan sungai Bendo Mongal tersebut terjadi karena mendapatkan kiriman air dari daerah pegunungan yang dilanda hujan deras. Air hujan dari daerah pegunungan tersebut mengalir terus ke daerah yang lebih rendah. Semua air tersebut melewati aliran Sungai Bendo Mongal, yang melewati beberapa desa di Kecamatan Banyakan dan Grogol. Salah satunya Desa Maron.
Meskipun sering dilanda banjir, ia dan keluarganya tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Ia hanya perlu menaikkan barang-barang elektronik di rumahnya. "Kalau pas saya bekerja, ya cuma istri dan anak yang berada di rumah, melakukan aktivitas mereka saat banjir," terangnya.
Di dekat sungai itu tidak hanya Pendik dan keluarganya saja. Ada tiga kepala keluarga lain yang rumahnya berdempetan dengan rumah Pendik. Dan semuanya juga terdampak banjir.
Berkali-kali merasakan banjir, berkali-kali pula para warga pemukiman RT01 RW 09 tetap bertahan. Berbagai cara sudah mereka lakukan agar banjir tak datang lagi. Mulai dari membersihkan sampah di dasar sungai dan membersihkan sampah yang menghambat laju air. Namun, semuanya tetap belum berhasil.
Akhirnya yang mereka lakukan adalah upaya antisipasi. Seperti membuat lincak baik dari kayu maupun bambu di rumah warga. Tujuannya sebagai tempat barang dan perabotan bila banjir datang. Agar tak terendam air.
Selain itu, di depan pintu rumah mereka juga membuat ‘tanggul’ kecil. Berupa tembok rendah setinggi 10 cm. Tujuannya untuk menghadang air luapan sungai. Sayang, ketinggian banjir bisa lebih dari itu. Karenanya, penghalang itu nyaris tak berguna.
Jika dibandingkan dengan banjir pada sekitar tahun 2009, banjir yang terjadi pada Sabtu lalu dianggapnya tidak ada apa-apanya. Jika banjir kemarin mencapai seukuran paha Pendik, pada 2009 tingginya hingga perut Pendik. "Kalau sampai perut saya itu ya sekitar 100 cm, kalau kemarin paling 30-40 cm," terangnya.
Sambil berharap tidak ada hujan deras yang mengakibatkan banjir susulan Pendik menyeruput kopinya dengan tetap tabah. Didampingi dengan anak-anak dan istrinya yang sedang bersantai di belakang rumah dan bermain dengan tiga anak kucing milik mereka.
Editor : adi nugroho