Jaranan pogogan sudah lama mati suri. Eko Kadiyono, salah satu pewaris, berupaya meletarikan kesenian asli Kabupaten Nganjuk itu. Selain mendokumentasikannya, guru SMPN 1 Tanjunganom ini juga mengenalkan tariannya kepada anak-anak sekolah.
ANWAR BAHAR BASALAMAH
Eko Kadiyono membuka laptopnya. Dia langsung memperlihatkan beberapa video kesenian jaranan pogogan yang direkam pada 2011 silam. Saat itu, Eko –sapaannya- mendokumentasikan pertunjukan kesenian yang digelar di rumahnya di Dusun Jimbir, Desa Sugihwaras, Prambon.
Waktu itu, Eko ingin menunjukkan kepada beberapa dosen kesenian asal Surabaya tentang jaranan pogogan. “Saya dokumentasikan supaya punya arsip,” ungkap Eko ditemui di ruang tamu SMPN 1 Tanjunganom, kemarin.
Dia menyadari kesenian jaranan pogogan telah mati suri atau bahkan punah sejak puluhan tahun lalu. Seingatnya, seni tari asli Kabupaten Nganjuk itu kali terakhir ditanggap masyarakat sekitar tahun 1970-an. “Kebetulan ayah saya adalah pelaku (jaranan pogogan),” lanjut pria kelahiran 31 Desember 1960 ini.
Sebelumnya, jaranan pogogan sangat digemari masyarakat. Berbeda dari jaranan Ponorogo dan Kediri, pogogan merupakan jaranan yang diciptakan warga Nganjuk. “Awalnya memang dari Ponorogo. Setelah masuk Nganjuk, ada penyesuaian tarian,” terangnya.
Di Kabupaten Nganjuk, jaranan pogogan pertama kali dikenal di Betet dan Barik, Kecamatan Ngronggot pada era kemerdekaan. Setelah itu, Marijo, sang ayah, mengenalkannya di Dusun Jimbir, Sugihawaras, sekitar tahun 1950-an.
Kala itu, ayahnya membentuk grup jaranan pogogan yang dinamakan “Teguh Rahayu”. Jumlah anggotanya sebanyak 22 orang. Rata-rata mereka adalah warga Jimbir.
Lewat grup kesenian itu, mereka sering mendapat tanggapan dari warga di Nganjuk. Mulai dari hajatan sunatan dan pengantin, orang yang memenuhi nazar, bersih desa, dan agustusan.
Dalam sebulan, tanggapan jaranan bisa sampai 20 kali. “Semua wilayah Nganjuk. Dulu mereka senang melihat jaranan pogogan,” kenang Eko.
Selama satu dasawarsa, 1960-1970, kesenian jaranan pogogan mengalami masa kejayaan. Namun, memasuki tahun 1980, jaranan ini mulai meredup. Seiring berkembangnya televisi dan ludruk, masyarakat mulai jarang menanggap. Sampai akhirnya kesenian itu kini tinggal sebuah cerita.
Eko pun tidak ingin tinggal diam dengan keadaan itu. Sebagai pewaris kesenian itu dari sang ayah, bapak lima anak ini ingin jaranan pogogan hidup lagi. Setidaknya, masyarakat mengenal kesenian yang dimainkan oleh banyak orang itu. “Saya ingin mengenalkan kembali ke generasi sekarang,” ujarnya.
Selain mewarisi dari sang ayah, Eko sebenarnya juga pelaku jaranan pogogan. Sewaktu masih duduk di kelas 3 SD, dia sering ikut rombongan ayahnya tanggapan ke beberapa desa. Karena masih belia, saat itu dia hanya berperan sebagai karakter anak-anak. “Dulu pernah berperan jadi Wisanggeni kecil,” tutur guru seni budaya ini.
Beranjak remaja, Eko beberapa kali tampil sebagai penari remo yang mengiringi pertunjukan. Dari sana, dia tahu persis perjuangan seniman jaranan pogogan. Saat ini, seniman senior bisa dihitung dengan jari. “Barangkali tinggal lima orang sekarang. Banyak (seniman senior) yang meninggal,” urainya.
Dia mengakui tidak mudah mewariskan jaranan pogogan ke anak-anak sekarang. Salah satunya, adalah tingkat kesulitan mengenal tarian dang ending (lagu).
Selepas kuliah di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya pada 2011, Eko berupaya mengajarkan tarian pogogan kepada anak-anak sekolah. Namun, beberapa kali dia merasa tarian itu sangat sulit dikuasai. “Saya merasa ada ruh yang hilang ketika anak-anak menari,” beber pria asli Dusun Jimbir ini.
Tidak hanya melatih menari, Eko juga mengumpulkan serpihan sejarah kesenian pogogan. Dia membuat sinopsis tarian dengan melalukan wawancara kepada pelaku jaranan.
Lewat tulisan itu, Eko ingin generasi setelahnya mengenal kesenian jaranan pogogan sebagai seni tari asli Nganjuk. Karenanya, setelah purna sebagai guru tahun depan, dia ingin fokus mengajar menari kepada anak-anak. “Saya ingin mendirikan sanggar di rumah,” ucap pria yang beberapa kali ditunjuk sebagai pelatih tari Kabupaten Nganjuk ini.
Editor : adi nugroho