Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Abdul Rahim, Penyintas Gempa dan Tsunami Palu Jadi Relawan di Pare

adi nugroho • Jumat, 15 Februari 2019 | 21:59 WIB
abdul-rahim-penyintas-gempa-dan-tsunami-palu-jadi-relawan-di-pare
abdul-rahim-penyintas-gempa-dan-tsunami-palu-jadi-relawan-di-pare

Selamat dari bencana besar tak membuat Abdul Rahim berkubang dalam trauma. Sebaliknya, dia merasa terpanggil menjadi relawan. Kini, pemuda asal Palu itu berkecimpung dalam kegiatan sosial di Sanggar Rumah Anak Segala Bangsa (Ranseba), Kampung Kongan, Pare.


 


MOCH. DIDIN SAPUTRO


 


Dua pemuda di Sanggar Ranseba menyapa seorang lansia yang sedang istirahat. Hari memang sudah beranjak siang saat itu. Waktu yang pas untuk beristirahat. Meskipun sang lansia juga tak banyak melakukan aktivitas sepagian itu.


“Mbah, sehat?” tanya seorang relawan bernama Fiki Andrian.


Pemuda yang bertanya itu karib disapa Wawa. Mantan anak punk yang kini jadi relawan di sanggar tersebut. Wawa sudah dikenal oleh sebagian warga Pare.


Sementara, satu pemuda lagi masih terasa asing. Berambut gondrong dan dikuncir. Jawa Pos Radar Kediri yang beberapa kali datang ke sanggar tersebut juga masih asing. Belum pernah tahu.


“Dia Rahim, anak Palu,” cetus Antok Mbeler, pembina Ranseba, sembari menunjuk pemuda yang dimaksud. Antok seperti paham dengan rasa penasaran penulis.


Kata Antok, Rahim ikut dengan rombongan Relawan Detasemen 87 Pare satu setengah bulan lalu. Dia sempat trauma akibat tragedi gempa dan tsunami yang meluluhlantahkan Kota Palu September silam. Maklum, Rahim adalah penyintas dari bencana itu. Untuk itu, pemuda 22 tahun itu memilih pergi ke Jawa untuk menghilangkan rasa takut yang terus membayang.


Menurut Antok, Rahim adalah pemuda pemberani. Memiliki jiwa sosial yang tinggi. Bahkan, saat berada di Palu, meski sama-sama terdampak, dia juga ikut menjadi relawan bencana. “Jiwa kerelawanannya sangat bagus. Dia pemuda yang baik,” imbuhnya.


Rahim mengaku menjadi relawan sosial karena panggilan dari hati. Bukan sekadar mengisi waktu luang saja. Karena hatinya terpanggil untuk membantu sesama.


Soal membantu sesama ini, pemuda yang dulu merupakan mahasiswa Universitas Tadulako ini sangat ingat bagaimana bencana hebat menerpa di Palu. Saat gempa menggetarkan Palu dia sangat panik. Saat itu dia tengah berada di asrama. Lokasinya di daerah perbukitan.


Hatinya bergetar saat melihat warga yang berduyun-duyun naik ke bukit. Dia sempat tidak percaya kalau terjadi tsunami. “Saya bersama seorang teman turun ke bawah dekat pantai. Peti kontainer sampai di atap rumah. Daerah Talise, warung tepi pantai sudah pindah di jalan raya. Kami kaget, air sepusar,” kenangnya.


Rahim masih ingat benar, tak sedikit mayat yang ada di sepanjang jalan. Di antara puing-puing bekas bangunan warung yang berserakan. Tak ada penerangan, Rahim menyebut bahwa malam itu sangat gelap. Banyak yang minta tolong. Dia kesulitan untuk membantu evakuasi korban yang masih bisa diselamatkan. Menurutnya tidak memungkinkan untuk menolong karena hanya dua orang. “Kami mau tolong tapi cari bantuan dulu. Tidak punya alat karena waktu itu gelap,” ujarnya.


Kemudian dia berjalan dan melihat satu supermarket. Akhirnya dia memutuskan menjarah. Namun yang diambil adalah senter. Itu digunakan sebagai alat penerangan untuk evakuasi korban. “Saya minta izin sama warga mau masuk Alfamidi, ada senter dan air minum. Sekitar seratus senter. Itu kita gunakan untuk cari orang-orang yang masih bisa diselamatkan, terutama anak-anak,” imbuhnya.


Keesokan harinya, Rahim masih berkutat dengan jiwa sosialnya. Dia mencari teman seasrama yang memang berasal dari satu daerah yakni Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Satu minggu, setidaknya 700 orang terkumpul. Semuanya dipulangkan ke daerah asal di Pasangkayu. Sementara Rahim, masih menjadi relawan di kawasan terdampak. Menyalurkan bantuan yang diterimanya dari luar kota. Itu dilakukannya selama dua minggu. “14 hari ini kami kerja 12 orang. Poskonya di asrama mahasiswa Kabupaten Pasangkayu,” jelasnya.


Hingga akhirnya dia bertemu dengan relawan Detasemen 87, Gusdurian beserta relawan lain dari Jawa. Di sana dia ikut membantu pembuatan hunian sementara (huntara) di Desa Sidera, Sigi. “Jadi setelah masuk Sigi saya gabung dengan komunitas Gusdurian bersama Bapak (Antok Mbeler, Red),” tandasnya.


Dia tertarik ikut ke Jawa karena merasa trauma. Bahkan rencananya anak pertama dari lima bersaudara itu akan melanjutkan kuliah di Kediri. Tak hanya Rahim, satu lagi penyitas tsunami bernama Tiara kini berada di Pondok Pesantren Mahir Arriyadl, Ringinagung, Keling, Kepung.


Selama di Pare, Rahim juga tak lepas dari kegiatan sosial. Di Sanggar Ranseba dia aktif melakukan kegiatan positif. Mulai bersih-bersih lingkungan, diskusi antarkelompok, dan membantu sesama seperti yang dilakukan saat ini. Di Sanggar yang ada di selatan pasar loak Pujasera Pare itu Rahim dan teman-temannya juga peduli dengan lansia yang tak berkeluarga. “Alhamdulillah selama di sini kegiatan positif. Dan adanya kegiatan seperti ini tidak ingat lagi kejadian yang di sana. Trauma sedikit hilang,” ujarnya.


Memang, awalnya Rahim tidak punya niat menjadi relawan dadakan seperti itu, namun dia berpikir seandainya ini terjadi di keluarganya. Cuma itu yang dia fikirkan. Rasa kemanusiaan pun tiba-tiba terpanggil untuk membantu sesama.

Editor : adi nugroho
#kediri #sosial